29 Mei 2009

Yusuf Daud; Berjalan Menuju Roma

Senin, 6 Oktober 2008 menjadi hari bersejarah bagi Yusuf Daud. Itulah hari pertama, kakinya menginjak Kota Abadi, Roma, Italia.

KETIKA sampai di bandara, Yusuf, demikian ia kerap disapa, telah dijemput seorang pastor asal Indonesia. Sambutan ala Italia pun segera digelar, yakni minum cappucino. Usai melepas lelah, Yusuf bergegas menuju Basilika St Petrus Vatikan. Saat menjejakkan kaki di Basilika St Petrus, Yusuf merasakan sebuah tarikan energi yang sangat kuat. Batinnya berujar, “Energinya sangat kuat. Sama seperti saat saya masuk Masjidil Haram di Mekkah.”

Yusuf adalah mahasiswa Muslim asal Indonesia yang pertama kali mendapat beasiswa dari Nostra Aetate, sebuah lembaga kepausan yang peduli pada hubungan antaragama. Selama satu semester, bapak tiga anak ini berada, hidup, bergaul, belajar dan bergumul di Vatikan. Seluruh biaya hidup, sewa apartemen dan keperluan kampus ditanggung pemberi beasiswa. Tak tanggung-tanggung, ia belajar di tiga universitas ternama; Universitas Gregoriana, Angelicum dan Pisai. “Saya betah tinggal di Vatikan. Maunya sih lama. Saya seperti ‘raja’. Walau beda agama, beda bangsa, tapi saya diterima dengan penuh kasih sayang,” ujar pria kelahiran Jakarta, 4 November 1974 ini.

Ke Vatikan
Semua itu bermula, ketika suatu hari di akhir 2006, Yusuf berkenalan dengan Sr Gerardette Philips RSCJ. Perkawanan itu pun kian karib. Apalagi, Sr Gerard kerap berbagi pengalaman di Sufi Centre Myskatul al-Anwar Padepokan Thaha, tempat Yusuf berkarya sebagai kepala departemen hubungan internasional. Padepokan Thaha, yang terletak di Jl. Suryo No. 2 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan ini dirintis Kyai Haji Rahmat Hidayat sejak tahun 1992.

Menurut Yusuf, padepokan ini mengajarkan nilai-nilai universalitas dan spiritualitas Islam. Pada waktu tertentu, padepokan ini juga mengundang tokoh-tokoh agama lain. “Kita ingin mewujudkan Islam yang rahmatan lil‘alamin. Islam yang menjadi rahmat bagi siapa saja,” urai pria yang pernah bekerja di beberapa hotel ini.

Nah, suatu hari, Sr Gerard menawari Yusuf mengambil beasiswa kuliah di Vatikan. Yusuf tersentak mendapat tawaran itu. Ia sungguh tak menyangka. “Kalau ke Mesir, Libya, atau Arab, itu sudah biasa, karena saya seorang Muslim. Tapi, ini tawaran ke Vatikan, markas besarnya orang Katolik. Ini sungguh luar biasa!” ucapnya bersemangat.

Yusuf pun segera mempersiapkan segala sesuatunya, mengirim dokumen persyaratan, mengikuti tes tertulis dan wawancara, hingga mendapatkan rekomendasi dari Kedutaan Besar Vatikan untuk Indonesia di Jakarta. “Alhamdulilah... Puji Tuhan, saya lulus dan bisa berangkat ke Vatikan,” ungkapnya.

Selama di Vatikan, Yusuf tak hanya belajar tentang kekatolikan di bangku kuliah. Ia, seperti tak mau diam. Ia ingin memanfaatkan waktu yang pendek itu untuk mempelajari segala sesuatu tentang kekatolikan. Ia ingin merasakan tiap denyut kehidupan di Vatikan. Setiap ada kegiatan yang diadakan para biarawan/biarawati asal Indonesia di Vatikan, Yusuf pasti terlibat. Ia pun selalu hadir pada Perayaan Ekaristi yang dipimpin Paus Benediktus XVI. Di sela-sela kuliah, ia juga kerap bertandang ke biara-biara. “Ketika bertemu, berbicara, atau berdiskusi dengan saudara-saudara saya yang Katolik, saya merasakan, di situlah dialog antaragama sedang terjalin,” ujarnya.

Bertemu guru
Sebelum pergi ke Vatikan, Yusuf memendam sebuah mimpi. Mimpi itu telah terjalin saat Sr Gerard memberinya piagam yang ditandatangani Paus Benediktus XVI. Saat menerima piagam itu, Yusuf menorehkan sebuah kalimat di piagam itu. “Tuhan, berikan saya kesempatan untuk menemui seorang pemimpin agama dunia, yakni Paus Benediktus XVI,” tulisnya.

Akhirnya, mimpi Yusuf terwujud. Rabu pagi, 4 Februari 2009, Yusuf terlihat berpakaian rapi. Ia pun segera bergegas ke sebuah aula di mana Paus menggelar audiensi umum. Ia hanya ingin bertemu Paus dari jarak yang dekat. Tak disangka, ia mendapat bangku paling depan, paling dekat dengan Paus. Usai audiensi umum, sekitar pukul 10.30, Paus berjalan menghampiri hadirin yang duduk paling depan. Jantung Yusuf berdegup keras. “Mimpiku akan terwujud!” teriaknya dalam hati.

Dan, ternyata benar. Paus menghampiri dan menyodorkan tangan. Yusuf segera merengkuh tangan Paus dengan kedua tanganya dan mencium penuh takzim. Tak hanya itu. Paus memberi sebuah cenderamata berupa Rosario dan sempat bercakap dengan Yusuf. “Saya Yusuf Daud, Muslim dari Indonesia,” ujarnya kala itu pada Paus. “Walau berbeda, mari kita melakukan yang terbaik bagi kebaikan dunia,” kata Yusuf menirukan pesan Paus.

Setelah Paus berlalu, Yusuf duduk termenung. Tak sadar, air matanya keluar dari pelupuk matanya. Mulutnya seperti tak mampu melontarkan kata-kata lagi. “Mimpiku sungguh terwujud!” ujar batinnya. Yusuf mengaku, itulah puncak perjalanannya selama di Vatikan.
Paus Benediktus XVI, bagi Yusuf adalah sosok yang menjadi inspirasinya, sosok guru yang menebarkan jala penuh kasih sayang. Meski bertemu singkat, Yusuf mendapat segenggam semangat untuk menyebarkan nilai-nilai kasih sayang dan cinta pada semua orang. Bahkan, Rosario pemberian Paus pun masih ia genggam. “Saya sering memakainya sebagai tasbih. Walau ada salib di situ, tak jadi soal. Bukan bermaksud mencampuradukkan agama,” akunya. Salib, bagi Yusuf, adalah simbol yang penuh makna. Menurutnya, setiap manusia memanggul ‘salib’ masing-masing menuju Bukit Golgota. “Bukit Golgota itu ya rumah Tuhan,” imbuhnya.

Ke rumah Tuhan

Setelah enam bulan belajar di Vatikan, Yusuf kembali ke Tanah Air pada Selasa, 17 Februari 2009. Rekan-rekannya, terutama di Padepokan Thaha telah menantinya. Mereka menanti kisah-kisah Yusuf selama di Vatikan. Yusuf pun pulang dengan seonggok cita-cita.

Yusuf ingin mengembangkan dialog antaragama hingga akar rumput. Tidak hanya berhenti pada dialog antar elite atau pemuka agama saja. Maka, menurutnya, para pemuka agama harus memberikan pemahaman, bahwa agama boleh beda, tapi nilai yang di tuju sama, yakni nilai kemanusiaan yang menuju pada Tuhan. Dialog antaragama juga tak melulu soal teologi, spiritualitas, atau filsafat, tapi juga soal pendidikan, kemiskinan, atau kesehatan. “Itu sebenarnya sudah dikembangkan di Padepokan Thaha,” urainya.

Ia juga berpendapat, masih banyak pemuka agama yang hanya mengajar umatnya hanya sisi lahiriah atau syariatnya saja dan mengabaikan sisi yang lebih dalam lagi, yakni sisi hakikat dari sebuah agama. “Jika hanya mengajarkan syariat saja, maka akan banyak terjadi benturan dengan agama lain. Karena, syariat itu akan berujung pada hukum. Dan, hukum pasti mencari yang benar dan yang salah,” paparnya.

Padahal, menurut Yusuf, jika mengajar hingga hakekat, maka ketika terjadi kesalahan, tidak mudah menyalahkan. “Agama tak hanya soal hukum. Agama tak hanya syariat. Agama itu juga cara manusia berteknologi. Agama itu juga cara bercocok tanam. Agama itu juga cara berkomunikasi. Agama itu bagaimana kita menerima semua makhluk Tuhan dengan penuh kasih sayang. Jadi, kalau agama tidak mengajak manusia berpasrah total hanya kepada Tuhan, itu bukan agama!” urainya.

Meski berbeda, kata Yusuf, tiap agama mengajarkan tentang kedamaian dan cinta. “Hanya ‘kendaraan’nya saja yang berbeda. Tapi, tujuannya sama,” ungkapnya. Yusuf pun menyitir satu peribahasa, ‘banyak jalan menuju Roma’. “Ya, Roma itu maksudnya rumah Tuhan. Agama boleh berbeda-beda, tapi tujuannya satu, yakni Tuhan,” imbuhnya.

11 Des 2008

Prof. Anita Lie: Menapaki Jalur Spiritualitas Guru

Suatu ketika, seorang muda meminta saran mengenai bidang studi atau karir yang paling baik untuk ditekuni. Lantas, seorang guru perempuan mendorong orang muda itu untuk mengingat dan menggali impian masa kecilnya.

GURU perempuan itu adalah Anita Lie. Seorang pakar pendidikan dari Kota Pahlawan, Surabaya, Jawa Timur yang pada 16 Februari 2008, dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Kurikulum Pendidikan di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Pencapaian gelar terdidik dalam dunia akademik ini, tak lepas dari masa kecilnya. “Pencapaian ini adalah satu titik di tengah perjalanan saya menggapai impian masa kecil,” perempuan kelahiran Surabaya, 1 Juni 1964 ini berujar.

Anita --panggilannya-- semasa kanak-kanak paling gemar bermain sekolah-sekolahan. Anita kecil kerap didapuk peran sebagai guru. Tak disangka, mimpinya terajut nyata. Anita menapaki perjalanan karir, profesi dan panggilan sebagai seorang guru. Sebuah pilihan yang tak biasa dalam keluarga besarnya. Ia satu-satunya yang membuat pilihan itu.

Tempat sakral
Menjadi guru, kata Anita, adalah suatu penjelajahan dan perjalanan emosional, intelektual, dan spiritual. Guru mengandung makna yang luas. Dalam bahasa Sansekerta, guru, lebih dari seorang pengajar. Guru adalah juga seorang ahli, konselor, sahabat, pendamping dan pemimpin spiritual. Sebagai kata benda, guru berarti tempat sakral ilmu pengetahuan. Sebagai kata sifat, guru berarti berbobot karena ilmu pengetahuan dan kearifan spiritual. Guru menggambarkan suatu metafora peralihan dari kegelapan menuju terang. Suku kata ‘gu’ berarti kegelapan dan ‘ru’ berarti terang. “Jadi, guru bermakna membebaskan dari kegelapan, karena ketaktahuan dan ketaksadaran,” papar umat Paroki Gembala Yang Baik Surabaya saat ditemui di Jakarta beberapa waktu lalu.

Menyitir novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, Anita mengatakan, guru yang pertama kali membuka mata kita akan huruf dan angka-angka, sehingga kita pandai membaca dan menghitung, tak akan putus-putus pahalanya hingga akhir hayatnya. Dan, tak hanya itu yang dilakukan seorang guru. Ia juga membuka hati kita yang gelap gulita.
Belenggu pendidikan

Satu permasalahan mendasar sistem pendidikan nasional, menurut ibu satu anak ini, adalah dehumanisasi pendidikan. Pendidikan seharusnya menghormati dan menghargai martabat manusia dengan segala hak asasinya. Peserta didik harus tumbuh dalam kemanusiaannya sebagai subjek melalui proses pendidikan. “Tapi, yang sedang terjadi justru sebaliknya. Ada terlalu banyak contoh yang menunjukkan, betapa peserta didik sudah diperlakukan sebagai objek demi kepentingan ideologi, politik, industri, dan bisnis,” paparnya kritis.

Ironisnya, guru tak mampu mengembangkan kesadaran dan menghentikan gejala dehumanisasi ini dan membebaskan peserta didik dari kegelapan. Karena, para guru sendiri juga terjebak sebagai objek dalam sistem pendidikan nasional. Anita pun membeberkan persoalan yang membelenggu guru. Pertama, dengan gaji dan tunjangan yang tak memadai, guru menjadi sibuk mencari penghasilan tambahan, sehingga mengabaikan tugas dan tanggung jawab sebagai pendidik. Kedua, dengan jam mengajar yang panjang dan tugas administratif yang membebani, guru tak punya waktu mengembangkan diri. Ketiga, sebagai objek dalam sistem pendidikan nasional, membuat sebagian guru tak mampu mengelola emosi negatif, sehingga harus mengumpat di kelas atau memperlakukan peserta didik dengan kasar. Keempat, sebagian guru melakukan pelanggaran etika sebagai pendidik dengan memberikan les privat bagi peserta didik. Bahkan, membocorkan soal ulangan, menjual buku-buku ajar dengan berharap mendapat komisi, ikut terlibat dalam tindak manipulasi dan korupsi oleh birokrasi pendidikan atau pengelola sekolah. Kelima, belenggu kemiskinan finansial, intelektual, emosional, dan kultural, membuat guru kehilangan identitas dan integritas. “Semua itu membuat pekerjaan sebagai guru tak lagi dilandasi spiritualitas profesi dan tak menjadi bagian dari perjalanan kemanusiaan,” tegas Anita.

Budaya ketakutan
Selain itu, menurut Anita, dunia pendidikan juga telah dibelenggu dan beroperasi dalam budaya ketakutan. Ketakutan terhadap sistem dengan segala perangkatnya. Takut pada kekuasaan lembaga yang menggelar evaluasi dengan Ujian Nasional. Takut pada program sertifikasi guru. Takut pada kepala sekolah. “Ketakutan ini telah menghambat guru menjadi dirinya sendiri secara utuh,” tegasnya. Lebih jauh lagi, keterbelengguan sistem dan ketakutan pada kemiskinan, juga membatasi guru untuk menggali, menjelajahi, dan menemukan nilai-nilai kebenaran dalam ilmu pengetahuan.

Ketakutan ini juga berimbas pada peserta didik. Peserta didik takut pada ulangan dan ujian, takut pada hukuman, takut menjadi bahan cemooh teman-teman sekelas, dan takut tidak naik kelas. Ketakutan-ketakutan ini telah memisahkan guru dari peserta didik.

Sebagai seorang guru, ada beragam cara yang dipakai Anita untuk mengurai ketakutan itu. Ia mencoba mengembangkan metodologi dan teknik mengajar. Ia mencoba dan bermain-main dengan cooperative learning, multiple intelligences, learning styles, dan sebagainya. Ia berharap, dengan beragam metode itu, dapat menjadi senjata dan tameng, agar tampak terampil dan kompeten di depan kelas dan sesama rekan guru. Perangkat-perangkat itu pun, ia bagikan pada sesama guru di acara-acara pelatihan. “Namun, setelah makin lama masuk dalam perjalanan sebagai guru, saya melihat, bahwa betapa pun pentingnya metode dan teknik mengajar, perangkat adalah tetap perangkat. Guru harus menggunakan perangkat bukan untuk menutupi ketakutan, tapi sebagai jembatan untuk menyapa dan membuka hati setiap peserta didik,” ujarnya.

Bagi Anita, pengalaman menguraikan ketakutan adalah bagian dari perjalanan spiritual seorang guru. Banyak tradisi spiritual berupaya mengatasi dampak ketakutan, termasuk agama. Seruan ‘Jangan takut!’, ada dalam berbagai agama. “Ajaran berbagai agama mengajak untuk mengatasi ketakutan dengan satu harapan. Lepas dari kehancuran dan mendapatkan berkat ketika perjumpaan dengan manusia lain tak mengancam, tapi memperkaya pekerjaan dan kehidupan,” imbuhnya.

Guru sejati
Meniru ungkapan Driyarkara, Anita mengatakan, guru bukan buruh. Menjadi guru sejati merupakan panggilan hati. Bagi seorang guru sejati, tugas utamanya adalah membantu anak didik berkembang menjadi manusia yang lebih utuh. Dia dipanggil untuk melakukan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Betapa pun pergumulan memperjuangkan tingkat kesejahteraan yang layak bagi guru, yang membedakan guru sejati dengan yang tidak, adalah cara memaknai profesi keguruannya. Yang satu menjalani sebagai panggilan hidup, sedangkan yang lain melakukan pekerjaan untuk mencari nafkah. “Seorang guru sejati, adalah yang membebaskan peserta didik dari kegelapan dan mengarahkan peserta didik menemukan guru sejati yang berada dalam dirinya sendiri,” pungkas Anita.

20 Nov 2008

Beragama secara Kritis

Judul : Bilangan Fu
Penulis : Ayu Utami
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) Jakarta, 2008
Tebal : 500 halaman

FU adalah bilangan tak berwujud dan fu bukan satu atau nol. Sandi Yuda, seorang pemanjat tebing yang menuturkan kisah ini. Ia memperoleh formula aneh itu saat berayun di sebuah tebing. Yuda terobsesi memecahkan rumus yang diciptakannya sendiri. Rumus fu memang bukan logika­ ma­tematika.


Pencarian fu, menurut penulis novel ini, Ayu Utami, adalah pencarian spiritual. Pen­carian yang menuntun Yuda berte­mu dengan Parang Jati, mahasiswa geologi Institut Teknologi Bandung dari Sewugu­nung. Di kaki Watugunung, pinggir pantai Laut Selatan Jawa Tengah. Jati seorang yang cerdas dan unik. Ia memiliki adik bernama Kupukupu. Karena kemiskinan, Kupukupu menjelma menjadi seorang penganut agama yang radikal, yang menegakkan keyakinan agama dengan pedang. Ia menganggap upacara sesaji dan kepercayaan pada Nyi Roro Kidul adalah musyrik. Namun, Jati justru mendukung sesajen, takhayul, dan berbagai mitos yang diyakini orang-orang desa. Itulah sengkarut peristiwa dalam novel ini yang mengambil seting waktu 1998-2001.

Lewat bentrokan kedua tokoh itu, Ayu Utami menyusupkan kritik terhadap monoteisme. Ideologi Kupukupu memicu kekacauan dan kekerasan di Sewugunung. Ia menghimpun pasukan berjubah dan menghardik para penyekutu Tuhan. Tapi, ia berselingkuh dengan perusahaan tambang yang akan merobohkan Watugunung. Ia juga memancing kehadiran pasukan ninja yang membunuh kiai dengan isu dukun santet.

3M
Lewat Bilangan Fu, Ayu Utami mau mengkritisi pemikiran modern. Pemikiran yang terlalu mengagungkan rasio atau akal yang telah terlampau jauh, sehingga meremehkan nilai-nilai tradisi yang ramah pada alam. Manusia, menurut Ayu Utami, harus menyadari hal yang mendesak untuk dilakukan saat ini, yakni menyelamatkan bumi, bukan akhirat.

Bilangan Fu menyinggung tentang 3M yang menyebabkan kehancuran manusia, yaitu modernisme, monoteisme, dan militerisme. Pemikiran tentang militerisme sebagai musuh demokrasi, muncul sebagai M pertama. Bentuknya muncul sebagai pengekangan pers pada era Orde Baru. Sekarang Indonesia lumayan terbebas dari militerisme, namun menghadapi ancaman baru, yang berasal dari ketidakbebasan pemikiran.

Secara khusus, Ayu Utami menyoroti monoteisme. Ia prihatin atas kesombongan monoteisme atas agama-agama lokal. Agama-agama monoteisme telah merendahkan agama-agama lokal sebagai penyembah berhala. Padahal, sesungguhnya agama lokal memiliki penghormatan terhadap alam. Dan, M yang ketiga adalah modernitas. Ketidakbebasan pikiran, berasal dari kemanjaan yang dipelihara kapitalisme, dan kapitalisme tidak bisa dilepaskan dari modernitas. Ayu Utami berpendapat, bahwa 3M itu sebagai ancaman terhadap dunia post-modernisme.

Spiritualisme kritis
Ayu Utami, dengan sangat kental meniupkan nafas spritualisme kritis pada novel terbarunya ini. Ia mengangkat wacana spritual-keagamaan, kebatinan, dan mistik. Penulis sepertinya ingin membedakan agama dan spiritual. Agama formal tak lebih dari seperangkat aturan dan kepercayaan yang dibebankan pada pengikutnya. Agama formal bersifat top-down, diwarisi dari rasul, pendeta, nabi, dan kitab suci atau ditanamkan melalui keluarga atau tradisi.
Bilangan Fu memberi tawaran cara beragama yang baru, yakni dengan laku kritis. Kritis tidak berarti membabi buta. Ia juga sama sekali tidak anti, apalagi membenci. Kritis terhadap ajaran-ajaran agama, mampu melihat nilai-nilai luhur pada agama asli dan kritis pada agama sendiri agar tak terperosok pada kesombongan dan monopoli kebenaran.

Laku kritis memberi kesadaran agar tak hanya memandang ke langit dan hidup demi surga. Karena, manusia hari ini -dan kelak anak keturunannya- masih tinggal di bumi yang sama. Maka yang utama adalah memelihara alam lingkungan. Demi kelangsungan hidup bumi dan anak-anak generasi nanti. Agama-agama nenek moyang yang meyakini bahwa ada penunggu dalam pepohonan, ada penjaga gaib di gunung-gunung, ada penguasa di dasar samudera. Hal ini perlu dilihat secara kritis, bahwa ada nilai kebijaksanaan agar berhati-hati mengolah alam dan senantiasa menjaga kelestarian dan keseimbangan.

Dosen Universitas Paramadina yang aktif di Jaringan Islam Liberal (JIL), Luthfi Assyaukanie mengatakan, ide Ayu sederhana saja, yakni animisme itu lebih ramah, menganggap alam sebagai subjek yang dipuja sehingga tidak pernah dirusak. “Sebaliknya, ketika kita menganut monoteisme, alam adalah objek yang dieksploitasi demi kemaslahatan hidup orang banyak. Monoteisme mengajarkan pada kita agar memperbaiki akhirat, namun merusak dunia,” ujarnya dalam peluncuran novel ini.

Laku kritis juga menuntut kesabaran memanggul kebenaran, agar tak jatuh menjadi ego yang mengalahkan kebaikan. Kritis untuk tidak menganggap kepercayaan orang lain hanya sekedar dongeng dan kemusyrikan penyembah berhala. Dan, sadar bahwa iman diri sendiri juga bisa menjadi takhayul bagi orang lain. Karena, kebenaran sejati masih menjadi misteri di kala depan, bukan kala sekarang. Kebenaran tak perlu dipaksakan. Ia boleh tertunda esok hari nanti, asalkan kebaikan memenuhi hari ini.

Bilangan Fu adalah bilangan metaforis, bukan matematis. Spiritual bukan rasional. Spiritual adalah kritik, bahwa pengertian kita tentang Tuhan yang satu dalam monoteisme, kadang terlalu matematis.

16 Okt 2008

Memberikan Kasih, Kebencian dan Gairah

Judul Buku : Jerusalem; Kesucian, Konflik, dan Pengadilan Akhir
Pengarang : Trias Kuncahyono
Penerbit : Kompas Gramedia, Jakarta 2008
Tebal : 315 halaman

“TAK ada tempat di bumi ini yang dapat memberikan kasih, kebencian, dan gairah sekaligus selain Jerusalem.” Demikianlah kalimat perdana yang ditorehkan salah satu Wakil Pemimpin Redaksi Kompas, Trias Kuncahyono dalam buku berjudul Jerusalem, Kesucian, Konflik, dan Pengadilan Akhir. Jerusalem, yang dilukiskan sebagai pusar dunia hingga detik ini. Jerusalem selalu menjadi pusat perhatian dunia. Bahkan, Jerusalem menjadi episentrum berbagai persoalan dunia yang tidak kunjung selesai.

Trias menulis buku ini dengan pendekatan jurnalistik. Pria kelahiran Yogyakarta, 11 Juni 1958 ini berhasil menikahkan teknik reportase dengan studi pustaka yang mendalam. Sebanyak 29 buku, 21 artikel surat kabar, 12 tulisan dalam jurnal berkala dan 29 naskah dari internet, mendukung penulisan buku ini. Dukungan referensi ini menjalin sejarah kehidupan umat beragama.

Tiga agama
Ini merupakan buku Trias yang kelima. Sebelumnya ia menulis Dari Damascus ke Baghdad, Bulan Sabit di Atas Baghdad, Irak Korban Ambisi Kaum Hawkish dan Paus Yohanes II, Musafir dari Polandia. Dalam buku Jerusalem, Trias melukiskan keunikan Jerusalem. Jerusalem bukan hanya warisan sejarah yang panjang. Namun, juga menyimpan nilai-nilai spiritual. Tiga agama besar dunia, yaitu Yudaisme, Kristen, dan Islam, disatukan dalam suasana kecintaan terhadap Jerusalem. Meski, ketiganya berbeda dalam konsep fundamental tentang Tuhan. Salah satu penulis Kata Pengatar Zuhairi Misrawi, melukiskan. ‘Di jalan menuju Masjid Al Aqsha, dari atas terlihat rombongan umat Yahudi beribadah di Tembok Ratapan. Tak jauh dari tempat itu, orang-orang Kristiani memenuhi Gereja Makam Kristus atau yang biasa disebut sebagai Makam Suci’. Demikianlah Jerusalem, menjadi tempat bagi tiga agama besar hidup.

Menyitir buku Jerusalem; The Three Religions of the Temple Mount, Leah Sullivan menceritakan bahwa, kaum Yahudi, Kristen, dan Islam memandang Jerusalem sebagai ‘pintu ke surga’. Jerusalem dipercaya sebagai titik pertemuan antara surga dan bumi. Maka, tak heran jika Jerusalem dikuduskan agama, tradisi, sejarah dan teologi. Jerusalem menjadi kota yang dipuja-puji umat Yahudi, Kristen, dan Islam.

Orang Yahudi percaya, Jerusalem adalah satu-satunya kota suci di dunia. Kota pilihan Tuhan sebagai ‘tempat kediaman nama-Ku’, sebagaimana tertulis dalam Kitab Tawarikh. Bagi umat Kristen, Jerusalem adalah kota suci yang penting. Ki kota inilah Yesus hidup, berkarya, wafat, dan bangkit. Dari Jerusalem mengalir ajaran cinta kasih kepada sesama umat manusia disebarkan oleh Yesus. Sementara, bagi umat Muslim, Jerusalem adalah tempat Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan dari Mekah ke Jerusalem, Isra Mikraj ke Sidrat Al Muntaha. Perjalanan malam Nabi itu memperkuat hubungan antara Mekah dan Jerusalem sebagai kota suci.

Konflik
Jerusalem pernah menjadi pusat perdamaian dunia. Namun, 30 tahun terakhir, kota bertubi-tubi dihancurkan. Sudah 20 kali pula kota ini dibangun. Di kota ini, dua bangsa, Israel dan Pelestina serta tiga agama hidup. Berabad-abad mereka hidup dalam damai. Karena, hidup berdampingan secara damai bukanlah impian.

Pada medio 1967, pertumpahan darah menjadi pemicu baru perselisihan politik. Pertikaian yang menyulut api benci dengki antarsesama, antarsaudara. Sungguh, suatu bencana, Jerusalem hingga hari ini, masih menjadi simbol konflik yang mengancam seluruh dunia.

Buku ini memberi pesan mendalam. Di Jerusalem, Tuhan menciptakan pluralitas. Buku ini seperti membuka mata dan menyadarkan diri, bahwa manusia memiliki kiblat yang sama, Abraham yang sama, Tuhan yang sama. Di Jerusalem, Tuhan ada dalam pluralitas dan multikuturalitas. Di kota ini, Tuhan telah menyemaikan benih-benih kasih sayang, persaudaraan dan perdamaian antarpemeluk agama. Dalam bahasa Ibrani, Jerusalem berarti warisan perdamaian. Yerusha berarti warisan dan shalom berarti damai!

Menemukan Tuhan dalam Wajah Korban

Judul : Kesucian Politik; Agama dan Politik di Tengah Krisis Kemanusiaan
Penulis : Patrisius Mutiara Andalas SJ
Penerbit : Libri Jakarta, 2008
Tebal : 254 halaman


Tragedi Mei 1998 meninggalkan tubuh korban yang rusak. Wajah beberapa korban hampir tak dikenali lagi. Tragedi itu meninggalkan luka dan penderitaan. Peristiwa yang memberikan jejak pelucutan atas kemanusiaan. Melihat kondisi korban yang mengerikan itu, mengingatkan kita pada sosok Pontius Pilatus saat mempertontonkan Yesus sebelum mengundinya dengan Barabas di hadapan massa. “Pandanglah manusia yang rusak itu!” ucapnya.

Menolak lupa
Mei 1998 adalah sejarah berdarah yang seharusnya selalu dikenang rakyat Indonesia. Kecuali, mereka yang dengan sengaja menutupi dan melupakan. Mei 1998 menjadi titik balik politik Indonesia, setelah dibisukan rezim otoriter, yang pecah dalam perlawanan mengusung bendera reformasi. Kebisuan berhasil dipecahkan. Reformasi 1998 pun menagih nyawa sebagai biaya politik. Ribuan nyawa hilang dalam kesewenang-wenangan amuk massa. Ribuan perempuan, terutama etnis Tionghoa dirobek batin dan tubuhnya oleh kebengisan massal. Orangtua harus merelakan anak-anaknya menjadi jasad yang tak dikenali.

Penulis buku ini, mencoba menghimpun kembali daya yang masih tersisa dalam perjuangan melawan politik lupa. Pastor Patrisius Mutiara Andalas SJ pernah mendampingi Paguyuban Keluarga Korban Mei Semanggi. Paguyuban ini terus setia pada panggilan nurani kemanusiaan. Mereka berjuang bagi orang-orang yang mereka cintai. Mereka terus melawan pelupaan pada korban sejarah perubahan bangsa ini. Bukan untuk menggulingkan kekuasaan, namun untuk mengingatkan, bahwa martabat kemanusiaan pernah dilecehkan di negeri ini.

Merangkul korban
Kesewenangan kekuasaan tidak hanya terjadi di Indonesia. Itu adalah sejarah kelam bangsa-bangsa di dunia. Penulis merajut kisah-kisah korban dalam suatu dialog imajiner. Kisah-kisah itu membawa pembaca pada satu kesadaran, bahwa kita pernah dan hampir melupakan suara-suara korban itu. Melalui kisah-kisah pergumulan kemanusiaan yang terentang dari para ibu Plaza de Mayo, Rigoberta Menchu, Aung San Suu Kyi, Elie Wiesel, Hannah Arendt, Jon Sobrino, serta keluarga korban tragedi kemanusiaan di Indonesia, penulis mengajak pembaca untuk mendekati tragedi kemanusiaan dari perspektif iman.

Elie Wiesel, seorang korban hidup tragedi Holocaust, menolak berbicara mengenai Tuhan saat mendiskusikan tragedi kemanusiaan Holocaust. Wiesel khawatir, komunitas agama akan memberi kiat, agar para korban melarikan diri pada Tuhan dan melupakan semua. Namun, Wiesel mengundang komunitas agama sebagai saksi kemanusiaan, agar ikut menghentikan atau menahan laju pelupaan pada korban.

Sementara, Jon Sobrino mengusulkan, agar bela rasa menjadi paradigma baru bagi komunitas agama di tengah krisis kemanusiaan. Bela rasa muncul dari rahim perjumpaan dengan penderitaan korban. Agama membuka diri untuk disentuh korban. Perjumpaan dengan korban menumbuhkan persaudaraan dan mendorong komunitas agama menjadi pelaku dalam membangun dunia yang lebih humanis.

Tragedi kemanusiaan mengundang komunitas agama keluar dari altar menuju pelataran. Menjumpai Tuhan dalam diri korban. Tuhan kehidupan yang memanggul penderitaan korban. Seperti teks Kitab Suci yang mengundang komunitas beriman agar berani memanggul salib bersama Yesus yang juga telah menjadi korban.

Namun, komunitas agama sering kali mencerabut persoalan ini dari wilayah agama, karena menganggap sebagai aktivitas politik. Kecerobohan komunitas agama ini berakibat fatal terhadap kemanusiaan korban. Komunitas agama perlu kembali kepada habitat sosialnya, yakni menjadi pelaku politik. Komunitas agama perlu merangkul korban dan mendampingi perjuangan kemanusiaan mereka, untuk mengetuk nurani bangsa Indonesia.

Tragedi Mei 1998 telah berlalu sepuluh tahun lalu. Paguyuban keluarga korban masih terus berjuang demi keadilan dan humanisasi di Indonesia. Tragedi Mei 1998 seharusnya membangunkan kesadaran komunitas agama, bahwa negara dapat berubah perilakunya. Dari pengayom dan pelindung warga, menjadi pelaku pembiaran, kekerasan, dan diskriminasi. Stigma negara terhadap korban, telah menghancurkan jembatan solidaritas dengan korban.

29 Sep 2008

Ahmad Syafii Ma'arif: Harus Keluar Kandang

Senin sore, 15/9, hari masih cerah. Beberapa tokoh agama, praktisi hukum, pengusaha, pejabat pemerintah dan wartawan berkumpul memenuhi ruang pertemuan Gedung Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat.

Mereka menanti kehadiran Prof. DR. Ahmad Syafii Ma’arif yang baru saja menerima Magsaysay Award 2008 dalam bidang ‘Peace and International Understanding’ di Manila, Filipina, Minggu, 31/8 yang lalu. Penghargaan ini disebut sebagai Nobel-nya Asia. Buya -sapaan akrab Prof. DR. Ahmad Syafii Ma’arif- adalah tokoh Indonesia ke-19 yang memperoleh penghargaan itu.
Acara ini memang digelar sebagai tasyakuran bersama atas penghargaan itu, sekaligus berbuka puasa bersama. Buya datang berbalut busana batik. Ia didampingi sang istri, anak menantu dan cucunya. “Penghargaan ini sangat berat bagi saya. Saya tidak hebat, istri saya tahu itu,” ujarnya saat menyampaikan sambutan.

Ramon Magsaysay adalah mantan presiden Filipina yang ketiga (1953-1957). Ia berdarah campuran, Melayu, Spanyol dan China. “Ia bukan intelektual, tapi ia banyak banyak berbuat. Dia presidennya orang miskin. Presidennya penegakkan keadilan. Presidennya para petani!” tegas pria kelahiran Sumpurkudus, Sumatera Barat, 31 Mei 1935 ini.

Masih di kandang
Ditemui usai acara, mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah (1999-2004) ini, mengurai pandangannya tentang gerakan membangun budaya damai antara agama di Indonesia. Ia menegaskan, Al-Quran adalah Kitab Suci yang sangat toleran. “Lebih toleran dari pada orang Islam!” tegasnya. Beberapa ayat berbicara tentang kebebasan beragama. “Nabi Muhammad pun tak pernah memaksa orang untuk masuk ke agama Islam. Itu sangat jelas. Nabi sangat akomodatif pada semua orang. Karena, tak ada kekuatan duniawi mana pun yang dapat memaksa orang, mengadili, bahkan membunuh keyakinan orang lain!” imbuhnya sembari santap buka puasa.

Mengomentari Hara Raya Idul Fitri 1429 H, Buya mengatakan, bahwa dalam Islam, sebenarnya tak ada perintah menerima zakat. Tapi, yang harus dilakukan umat Islam adalah mengeluarkan zakat. Artinya, menurut Buya, orang Islam itu tak boleh merasa miskin. Namun, kenyataan berkata lain. Di satu sisi, masih banyak orang yang berada dalam kungkungan derita kemiskinan. Dan, di lain pihak, banyak juga orang yang berlomba-lomba pamer kemewahan saat Idul Fitri. “Tidak hanya Idul Fitri! Itu terjadi di semua agama. Lihat saja kemewahan saat Natal. Hari raya agama selalu identik dengan kemewahan. Ini masalah!” tegasnya.

Idul Fitri di Indonesia juga menjadi perayaan untuk saling memaafkan. “Semangat memaafkan adalah perintah Al-Quran,” ujar Buya. Memaafkan, menurutnya, bukan berarti semangat untuk membiarkan kesalahan. Memaafkan adalah ungkapan kepercayaan diri dan sebuah kekuatan. Memaafkan bukan karena lemah, tapi karena percaya diri. “Karena kita mau mengakui kesalahan, lalu minta maaf dan dengan lapang dada mau memaafkan orang lain,” urainya.
Menurut Buya, kedua semangat itu sebenarnya satu idealisme yang harus terus diperjuangkan untuk membangun budaya damai di Indonesia. “Maka, saya menyarankan agar seluruh umat dari agama apa pun harus berani mengkritik dirinya secara tajam. Kita jangan hanya bergaul dengan orang yang seagama saja. Bangsa ini kan plural,” tegasnya. Perjuangan pluralisme di Indonesia, menurutnya, masih memerlukan kerja keras. “Karena agama masih sibuk dengan dirinya sendiri. Tidak mau keluar kandang, hanya bermain di dalam kandang sendiri,” imbuh pendiri Maarif Institute for Culture and Humanity ini.

Itik dan ayam
Selain itu, tantangan kemiskinan juga terus mendera. Jumlah orang miskin terus bertambah, baik secara kualitas maupun kuantitas. Buya mengungkapkan hal itu dengan peribahasa, “Ayam bertelur di atas padi, mati kelaparan. Itik berenang di air, mati kehausan. Itulah bangsa ini. Bangsa yang tuna kepekaan,” katanya. Maka, menurut Buya, agama harus masuk ke dalam persoalan kemiskinan. “Ini salah satu tugas pokok agama. Kalau agama hanya mengurusi hubungan manusia dengan Tuhan, maka, agama tidak terlalu banyak gunanya bagi kehidupan manusia,” imbuhnya.

Hal lain yang menurut Buya menjadi tantangan dalam membangun budaya damai di Indonesia adalah soal kepemimpinan. Menurutnya, selama ini pemerintah lemah dalam melindungi pluralitas di Indonesia. “Saya tidak tahu, apakah bibit pemimpin yang seperti itu ada atau tidak. Apakah rahim Indonesia ini bisa melahirkan pemimpin yang memiliki ketegasan, kearifan, dan pilihan pemihakan pada yang lemah?” ujarnya.

Namun, Buya tetap optimis dengan masa depan perjuangan pluralisme di Indonesia. “Dengan satu syarat, semua orang menempatkan diri secara wajar dalam tataran Indonesia yang plural, terbuka, dan memberi peluang yang lebar bagi tumbuhnya benih toleransi. Termasuk bagi orang yang tak beragama harus diberi hak hidup di muka bumi Indonesia. Planet bumi yang satu ini harus menjadi tempat hidup secara bersama-sama,” tegasnya.

Idul Fitri tahun ini akan jatuh bersamaan dengan Hari Kesaktian Pancasila. Namun, menurut Buya, Pancasila lebih banyak menjadi sebuah retorika politik. “Dimuliakan dalam kata, dipuja dalam tulisan, dikhianati dalam perbuatan!” ungkapnya tegas.

24 Sep 2008

DR. Abdul Moqsith Ghazali: Menelisik Pluralisme dalam Alquran

“SAYA membaca Alkitab ketika masih di pesantren,” kisah koordinator Jaringan Islam Liberal DR. Abdul Moqsith Ghazali saat ditemui di Kedai Tempo Utan Kayu, Jakarta Timur, awal September lalu.

Moqsith -sapaannya- lahir dari keluarga santri dan tumbuh di lingkungan pesantren. Kondisi pesantren membatasi ruang pergaulan pria kelahiran Situbondo, Jawa Timur, 7 Juni 1971 ini. “Perjumpaan dengan umat agama lain sangat minim,” protesnya kala itu. Saban hari, ia membaca Alquran dan buku-buku yang hanya berbicara tentang keislaman. Moqsith juga membaca beberapa buku yang bicara pertentangan antara Islam dan Kristen. Dari situ, ia mulai tertarik membaca Alkitab. “Apa sih sebenarnya isi Alkitab itu?” pikirnya saat itu.

Keprihatinan berkait dengan pertentangan agama makin merayap dalam pikirnya. Apalagi, ketika menjumpai pandangan-pandangan para ulama yang keliru tentang pluralisme. Pertama, ada pandangan yang berkata, bahwa pluralisme itu mau menyamakan semua agama. Kedua, pluralisme itu tidak mengakui agama-agama. Dua hal ini, membuat Moqsith berniat meraba dan menelisik lebih jauh bagaimana Alquran berbicara tentang umat agama lain. Pemikiranannya makin terbuka, ketika ia belajar di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta dan Sekolah Tinggi Teologi Jakarta.

Piagam Madina
Dalam disertasinya, Moqsith mengangkat pluralisme. Ia memberi judul disertasinya Pluralisme dalam Alquran; Sebuah Studi tentang Pluralisme dan non-Pluralisme. Ketika meneliti, ia menemukan beberapa ayat dalam Al-Quran yang sangat menghormati umat agama lain, namun ada pula yang sebaliknya. “Kritik dan apriori umat Islam pada agama lain, lebih karena persoalan politik dan ekonomi,” tegas dosen di Universitas Paramadina Jakarta dan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Ia mencontohkan, saat Nabi Muhammad dan orang-orang Yahudi serta beberapa kelompok agama lain membuat Piagam Madina. Piagam ini berisi konsensus politik yang tak ada hubungannya dengan Alquran. Namun, orang Yahudi melanggar konsensus tersebut, maka timbul ketegangan. Ketegangan antara Islam dan Yahudi ini, bukan masalah teologis, tapi murni masalah politik dan ekonomi. Orang Yahudi sebagai putra daerah merasa tersaingi oleh kedatangan orang Islam dari Mekah.

Maka, menurut Moqsith, turunlah beberapa ayat dalam Alquran guna menyikapi kondisi itu. Ayat-ayat tersebut menganjurkan agar umat Islam melakukan perlawanan atas serangan orang Yahudi. “Jadi, memang ada ayat-ayat Alquran, yang jika dilucuti dari konteksnya, seakan menganjurkan penggunaan kekerasan. Padahal, ayat-ayat itu turun dalam kondisi darurat perang,” papar ayah dua anak ini. Moqsith menyebut ayat-ayat tersebut sebagai ayat partikular, karena ada ayat-ayat universal yang justru memberi penghormatan pada agama lain.

Islam dan Kristen
Ketegangan hubungan antaragama di Indonesia, menurut Moqsith, sering terjadi antara Islam dan Kristen. Ketegangan itu juga berakar pada persoalan politik dan ekonomi. Ia memaparkan, bahwa kekristenan masuk ke Indonesia bersama dengan kolonial Belanda. Saat itu, pemerintahan kolonial Belanda sering melakukan tindak diskriminasi terhadap umat Islam. Misal, sekolah-sekolah Kristen mendapat lebih banyak subsidi dari pada sekolah Islam.

Maka, saat itu, memusuhi Kristen bersamaan dengan memusuhi kolonial Belanda. “Mungkin akan lain cerita, jika kekristenan hadir di Indonesia tidak bersamaan dengan kedatangan kolonial Belanda,” paparnya. Pengalaman ini, menurut Moqsith masih menempel kuat dalam memori kolektif sebagian umat Islam di Indonesia. Kekristenan identik dengan kolonial.
Ia juga melihat, bahwa kedua agama ini, Islam dan Kristen memiliki keinginan yang sama, yakni menyebarkan agama. Di Islam ada konsep dakwah, sementara di Kristen ada konsep misi. “Kedua konsep tersebut kan untuk menyebarkan agama masing-masing. Ini juga menjadi salah satu tantangan dalam membangun proses dialog antar kedua agama ini,” katanya.

Padahal, saat belajar kristologi di STF Driyarkara, ia menemukan adanya keberlanjutan ajaran dari Kristen ke Islam. Mulai Perjanjian Lama, Perjanjian Baru hingga ajaran-ajaran yang dibawa Nabi Muhammad. Misal, dalam kekristenan terdapat konsep puasa, begitu pula dalam Islam. Atau contoh lain, bahwa kedua ajaran agama ini memiliki semangat untuk berpihak pada mereka yang lemah, miskin dan tertindas. “Hanya mekanisme teknis pelaksanaannya saja yang berbeda,” tandasnya.

Ia melanjutkan, bahwa kelahiran agama dari rumpun Abrahamik adalah agama sebagai bentuk perlawanan terhadap kelompok-kelompok yang kuat secara ekonomi dan politik. “Yesus, Musa dan Nabi Muhammad kan lahir bukan dari kalangan orang kaya atau bangsawan. Mereka hadir sebagai bentuk perlawanan dari kelompok yang tertindas dan miskin,” tambahnya.
Inilah tantangan bagi gerakan pluralisme di Indonesia. Yakni, agar pluralitas dipandang sebagai sebuah fakta dan persamaan prinsip ajaran dapat mewujud dalam kerja-kerja nyata. “Saya juga berharap agar umat Kristiani lebih mengambil peran dalam kerja nyata ini di tengah dinamika kemasyarakatan dan kebangsaan,” harapnya.

Tantangan pluralisme
Melihat tantangan ini, Moqsith tetap optimis dengan masa depan pluralisme di Indonesia. “Karena pluralisme adalah dasar pemersatu bangsa Indonesia. Kalau pluralisme di Indonesia gagal, maka bangsa ini akan rontok dan selesai,” tegasnya. Menyikapi maraknya kelompok-kelompok fundamentalisme agama, Moqsith mengatakan, bahwa ini adalah akibat kelemahan negara dalam menegakan hukum. “Kelompok ini memang akan tumbuh dan menjamur ketika negara masih pada masa trasisi menuju demokrasi. Tapi, jika demokrasi telah terwujud, saya yakin, kelompok ini akan mati,” imbuhnya.

Maka, ia mengusulkan agar para pegiat pluralisme di Indonesia masuk ke tiga ranah, yakni kultural, pendidikan dan politik. Karena saat ini, masyarakat lebih cenderung menjadi eksklusif. Orang bergaul hanya dengan sesama yang seagama saja. Hal ini ditandai dengan kemunculan perumahan-perumahan yang khusus untuk umat agama tertentu. “Ada perumahan Islam. Dan lebih parah lagi, tidak mau menerima umat dari agama lain,” jelasnya. Dalam dunia pendidikan, Moqsith memandang, baik madrasah, pesatren atau seminari masih mengajarkan beberapa pelajaran yang isinya diskriminatif terhadap agama lain. Sementara dalam politik, muncul aturan-aturan atau Peraturan Daerah (Perda) yang diskriminatif.

Menurut Moqsith, ketiga hal itu menjadi tantangan pokok gerakan pluralisme di Indonesia. Maka, perlu ada kerja-kerja lintas sektoral. Dalam pendidikan, perlu mengubah kurikulum agar lebih toleran pada agama lain. Pada ranah kultural, harus ada mekanisme kebudayaan yang bisa memerangi ketegangan antar umat beragama. “Dan, perlu masuk ke dunia perpolitikan, untuk andil dalam merumuskan aturan-aturan yang mengedepankan pluralisme dan toleransi dengan umat agama lain,” pungkasnya bersamaan dengan bedug tanda buka puasa.