2 Agu 2013

Keramik dari Tungku Naga

Keramik dari Singkawang, Kalimantan Barat memang sudah terkenal sejak dulu. Sentuhan budaya Cina amat terasa pada keramik asal tempat yang berjuluk Kota Seribu Klenteng ini. Tak jauh dari pusat kota Singkawang, terdapat tempat pembuatan keramik yang masih tradisional, seperti kala kerajinan dari keramik ini dibuat pertama kali.

Tempat pembuatan kerajinan keramik ini terkenal dengan mana Tungku Naga. Ya, memang terdapat sebuah tungku, tempat membakar keramik-keramik yang nampak memanjang dan mengeluarkan asap pekat. Tungku ini bak naga yang sedang berbaring mengeluarkan asap panas dan dari perutnya siap keluar karya-karya keramik yang ciamik, seperti mangkok, piring, gelas, dan guci.
 
Proses pembuatan keramik di sini masih tradisional. Semua masih menggunakan tenaga manusia. Mulai dari membuat pola, membentuk, menjemur, mewarnai, hingga membakar, masih dikerjakan dengan tangan manusia.

Harga karya keramik di tempat ini juga beragam. Mulai dari Rp 1.500 untuk mangkok atau piring berukuran kecil, hingga guci-guci yang harga mencapai puluhan jutaan rupiah. Tak hanya untuk konsumen dalam negeri, benda-benda berbahan keramik ini pun dikirim hingga mancanegara.
   

26 Jul 2013

Wisata “ngak ngik ngok” di Taman Suropati

Lamat-lamat suara “ngak ngik ngok” terdengar begitu menjejakkan kaki di Taman Suropati yang awalnya bernama Burgemeester Bisschopplein di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Meski beradu dengan deru mesin kendaraan bermotor yang melintas di Jalan Diponegoro, JalanTeuku Umar, dan Jalan Imam Bonjol, suara-suara itu makin dominan. Apalagi jika semakin melangkah masuk taman ini, suara kian jelas terdengar.

Ya, suara “ngak ngik ngok” itu berasal dari beberapa kelompok orang yang sedang belajar musik, terutama alat musik gesek, biola. Mereka dibagi dalam kelompok-kelompok sesuai dengan kemampuan. Ada yang masih belajar do re mi. Ada yang sudah agak mahir. Ada pula yang sudah sangat piawai memainkan alat musik. Suara-suara itu, meski tak beraturan, bagai membentuk sebuah orkestra di tengah keteduhan taman yang dibangun saat pemerintahan walikota (burgemeester) Batavia yang pertama G.J. Bisshop (1916-1920).

Mereka adalah komunitas musik Taman Suropati Chambers (TSC). Setiap hari Minggu mereka berkumpul dan bermain musik di Taman Suropati. Mereka berlatih mulai pukul 10.00 hingga 12:00 WIB, bahkan terkadang hingga hari gelap. Anggota TSC terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar musik. Mulai dari pedagang, pelajar, pegawai kantor, hingga pengusaha. Bahkan pengamen juga ada di komunitas ini. Saat ini anggota komunitas ini lebih dari 150 orang.

Awalnya berlatih musik di sini tak dikenakan biaya. Namun, karena anggota kian bertambah, maka tiap anggota dikenakan iuran sebesar 100 ribu rupiah setiap bulan. Dana itu sebagai ganti ongkos fotokopi teks lagu dan hal-hal lain yang berhubungan dengan acara komunitas.

Komunitas TSC awalnya digawangi Ages Dwiharso. Pada 2006, Ages mengikuti workshop keroncong di Den Haag, Belanda. Di Negeri Kincir Angin, ia menyaksikan beberapa musisi memainkan musik di taman kota. Ia pun ingin membuat hal yang sama di Indonesia. Bersama tiga rekannya, Ages pun membentuk Komunitas TSC tepat pada hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2007. TSC pernah menggelar konser di Balai Sidang Jakarta dan diundang tampil di Istana Negara dalam acara Parade Senja.