24 Okt 2015

Melacak Tenun Dayak

Penenun kain khas Dayak di Sentra Kerajinan Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.
Photo: y.prayogo
DUA perempuan duduk melantai. Kakinya selonjoran di lantai kayu itu. Sekali-sekali kedua tangannya dihentak-hentakkan ke arah pinggang. Utas-utas benang warna-warni perlahan membentuk kain. Ya, dua perempuan itu sedang menenun kain ikat dengan motif khas suku Dayak.

Siang baru saja beranjak dari pagi. Matahari semakin terik. Sentra Kerajinan Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, yang berbentuk Rumah Betang atau rumah panjang, nampak sepi. Rumah Betang ini terletak di bagian utara Putussibau, ibukota Kapuas Hulu. Perlu 24 jam untuk mencapai tempat ini dengan perjalanan darat dari Pontianak, ibukota Kalimantan Barat. 

Di Rumah Betang ini terlihat beberapa perempuan yang sedang tekun menenun. Mereka merajut benang-benang aneka warna menjadi selembar kain. Beberapa pria sedang memahat kayu membentuk patung. Showroom kerajinan yang menempati satu ruangan, juga terlihat sepi. Kain tenun khas Dayak mendominasi showroom ini.

Penenun kain khas Dayak di Sentra Kerajinan Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.
Photo: y.prayogo
Pembuatan kain tenun khas Dayak masih mempertahankan warisan leluhur. Mulai dari pemintalan benang, pewarnaan, sampai proses menenun, masih menggunakan cara-cara tradisional. Terdapat empat macam warna utama dalam kain ikat khas Dayak, yaitu merah, hitam, kuning, dan putih. Pewarna benang memanfaatkan alam sekitar. Warna merah didapat dari daun mengkudu atau kulit kayu salam. Warna hitam diperoleh dari daun renggat. Sementara warna kuning berasal dari kunyit dan temulawak.

Seperti kain tenun di daerah lain, perlu waktu yang panjang untuk menenun satu lembar kain. Satu bulan, waktu yang cukup untuk menghasilkan satu lembar kain tenun khas Dayak.

Mari melanjutkan perjalanan semakin dalam, melacak para penenun kain khas Dayak!

Kain tenun Dayak.
photo: y.prayogo
Kali ini perjalanan diarahkan menuju Rumah Betang Bali Gundi. Siang itu, di rumah panjang ini juga ditemui beberapa perempuan sedang menenun. Pada masa lalu, menenun adalah syarat bagi perempuan Dayak yang telah mencapai akil balik. Menenun menjadi penanda kedewasaan seorang perempuan. Nilai-nilai di balik kain tenun Dayak itu kian lama kian pudar. Kini, tidak semua kaum hawa di tempat ini piawai menenun. Di Betang Bali Gundi, rata-rata penenun telah berusia lanjut.

Situasi serupa terlihat ketika menginjakkan kaki di Rumah Betang Sungai Uluk Palin. Perempuan-perempuan tua nampak selonjoran menenun utas-utas benang. Sayang, beberapa waktu lalu, rumah panggung setinggi delapan meter dengan panjang 500 meter telah terbakar habis. Tentu, kekayaan kain tenun di tempat ini turut musnah dilahap si jago merah.

Kain-kain tenun Dayak di Rumah Betang Sungai Utik.
photo: y.prayogo
Perjalanan dilanjutkan ke Rumah Betang Sungai Utik. Ketika memasuki rumah panjang ini lembaran-lembaran kain tenun motif khas Dayak tersampir di sudut-sudut Rumah Betang. Kain-kain ini langsung menyergap mata. Tapi situasi serupa pun terlihat. Di sini, para penenun telah berusia lanjut. Perempuan-perempuan muda tak lagi pandai menenun.

Penari mengenakan kain tenun khas Dayak.
Photo: y.prayogo
Utas-utas benang aneka warna akan terus ditenun di rumah-rumah betang. Kain-kain ini tidak lagi menjadi penanda kedewasaan seorang perempuan. Ia akan menjadi penanda peradaban para penenunnya. Meski para penenun kian menua, tapi warisan kain tenun khas Dayak akan terus hidup. Kain tenun Dayak akan tetap hidup panjang, sepanjang rumah-rumah betang, tempat tinggal mereka.

20 Okt 2015

Batik di Tepian Serayu

Pembatik Tulis Banyumasan
photo: y.prayogo
Aliran Sungai Serayu mendayu pelan-pelan. Angin semilir menyejukkan hari yang panas, mengiringi lalu lalang orang yang beraktivitas di tepian Serayu, di Banyumas, Jawa Tengah.

Aliran Sungai Serayu dan semilir angin pun mengiringi aktivitas di sebuah rumah, tepatnya di Jalan Mruyung, Banyumas. Di halaman rumah yang berbatu itu terhampar kain-kain batik yang sedang dijemur. Saat memasuki rumah itu, sebuah showroom batik menyapa pengunjung. Deretan batik dengan motif Banyumasan menyergap pandangan mata. Para pelayan pun segera menghampiri menjajakan dagangan batiknya.

Masih dalam satu atap, aktivitas lain sedang berlangsung. Beberapa perempuan sedang memberikan motif pada kain-kain putih. Sementara yang lain, beberapa sudah nampak tua, melukis kain-kain dengan pena batiknya. Para pelukis batik, yang didominasi kaum hawa ini memang rata-rata sudah berusia lanjut. “Angel banget ngajari bocah enom kon mbatik (Susah sekali mengajari orang muda membatik),” ujar Sarminah dengan logat Banyumasan yang amat kental. 
Pewarnaan Batik Banyumasan.
photo: y.prayogo 
Sementara di sisi yang lain, beberapa kaum adam sedang mencap kain-kain putih dengan motif batik Banyumasan. Mereka mencelupkan plat-plat bermotif batik ke dalam malam yang masih panas, lalu menempelkan ke lembaran kain putih. Motif-motif batik pun tercetak jelas. Sekali-sekali, sembari berkarya, mereka melontarkan canda tawa khas Banyumasan.

Siki sih mandan lumayan sing tuku batik. Gembiyen lah babar pisan ora ana sing gelem nggo batik (Sekarang sih sudah lumayan yang membeli batik. Dulu, jarang ada orang yang mau memakai batik),” ucap Mukidin yang telah berusia 63 tahun.

Para pria sedang mengerjakan batik cap motif Banyumasan.
photo: y.prayogo
Ya, Banyumas juga menyimpan kekayaan batik. Batik Banyumas memang tak semoncer Batik Pekalongan atau Batik Solo. Padahal, pada medio 1970-an Batik Banyumas sempat populer. Namun lambat laun, keberadaan Batik Banyumas semakin tergeser. Meski trend batik sedang naik daun, tapi Batik Banyumas masih sulit menembus kecenderungan itu. Ia kalah pamor dengan batik Pekalongan,Solo, dan Yogyakarta.

Batik Banyumas di buat dengan tangan (tulis), cap, serta ada juga yang di sablon. Batik Banyumas memiliki ciri yang membedakan batik dari daerah lain. Warna asli Batik Banyumasan adalah cokelat dan hitam dengan plataran warna kuning tua. 

Pembatik Tulis Banyumasan.
photo:y.prayogo
Pada umumnya, Batik Banyumas dibedakan dari cara pembuatannya, yaitu batik cap dan batik tulis. Batik cap bisa diselesaikan dalam waktu tiga hari, sementara batik tulis bisa memakan waktu tiga sampai enam bulan. Ini akan berpengaruh kepada harga jual. Batik cap berkisar puluhan ribu sampai ratusan ribu rupiah, sedangkan batik tulis dari ratusan ribu sampai jutaan rupiah.

Batik Banyumas identik dengan motif Jonasan, yaitu kelompok motif non geometrik yang didominasi dengan warna-warna dasar kecoklatan dan hitam. Motif-motif yang berkembang saat ini, antara lain Sekarsurya, Sidoluhung, Lumbon (Lumbu), Jahe Puger, Cempaka Mulya, Kawung Jenggot, Madu Bronto, Satria Busana, dan Pring Sedapur. 

Membatik cap motif Banyumasan.
photo: y.prayogo
Batik Banyumas memiliki sejarah yang tak lepas dari pengaruh budaya, seperti Yogyakarta dan Surakarta, maupun Pekalongan. Asal mula Batik Banyumas memang belum dapat dilacak. Namun dari informasi para sesepuh dan penggiat Batik Banyumas, disebutkan Batik Banyumas muncul, lantaran pengaruh berdirinya kademangan-kademangan di daerah Banyumas dan para pengikut Pangeran Diponegoro yang mengungsi ke daerah Banyumas. 

Lokasi sentra industri batik Banyumas terbanyak di Kecamatan Banyumas (Desa Pekunden, Pasinggangan, Sudagaran, Papringan) dan Kecamatan Sokaraja (Desa Sokaraja Lor, Sokaraja Kidul, Sokaraja Tengah, Sokaraja Kulon, Karang Duren).

Meskipun masih kalah pamor dengan ragam batik dari daerah lain, Batik Banyumas akan tetap hidup beriringan dengan aliran Sungai Serayu. Sungai yang dalam sejarah selalu memberikan penghidupan bagi masyarakat di sekitarnya. Pun Batik Banyumas yang akan terus memberi penghidupan bagi para pengrajinannya.
Para Pembatik Banyumasan.
photo:y.prayogo

14 Okt 2015

Guru Anak-Anak Kampung Laut

BARISAN hutan bakau terus mengiringi perjalanan dari Pelabuhan Sleko Cilacap, Jawa Tengah menuju Kampung Laut. Sebuah perkampungan di antara gugusan Pulau Nusakambangan, Perairan Segara Anakan Cilacap. Dengan perahu bermesin motor tempel bermuatan sekitar 20 orang atau yang sering disebut compreng, memerlukan waktu sekitar dua jam untuk mencapai perkampungan pertama.

Adalah Yustina Wartati, yang sudah lebih 30 tahun tinggal di Desa Ujung Alang, desa pertama yang disinggahi compreng dari Cilacap. Selama itu pula, ia merintis sekolah dan mengabdikan diri sebagai guru honorer di sana. Untuk mencapai rumahnya di Dusun Lempong Pucung, masih harus menyeberang menggunakan sampan dari pelabuhan kecil di Ujung Alang, lalu disambung jalan kaki sejauh setengah kilometer.

Yustina Wartati
photo: y.prayogo
Buka sekolah
Di daerah yang terkenal sebagai endemik malaria inilah Tatik merintis sekolah. “Dulu, di sini tidak ada sekolah sama sekali, anak-anak harus berjalan kaki sejauh tiga, bahkan lima kilometer dan harus menyeberang dengan sampan untuk mencapai Sekolah Dasar (SD)  terdekat,” tuturnya. Hanya ada satu SMP di tempat ini. Sementara SMA berada di Kota Cilacap.

Ia pun mulai mengumpulkan anak-anak di sekitar rumah. Rumahnya dipergunakan sebagai sekolah. Tatik mengajar anak-anak dengan sangat sederhana. Pada 1989, ia diminta Yayasan Bimbingan Kesejahteraan Sosial (YBKS) Surakarta untuk mengikuti kursus guru Taman Kanak-kanak (TK).

TK pun harus berhenti karena alasan tak ada lagi anak-anak yang berusia TK. Namun, orangtua lalu mendesak Tatik membuka SD. Tatik sempat ragu. “Saya tidak memiliki ijazah atau sertifikat mengajar,” ucapnya ragu. Tetapi masyarakat terus mendesak. Tatik segera menghubungi pihak SD yang ada, untuk dijadikan sekolah induk. Ternyata izin keluar. Mulailah ia mengajar SD.

Sebanyak 48 siswa dia didik dengan lesehan di rumahnya. Baru pada 2001, Dinas Pendidikan membangun gedung sekolah di dekat rumahnya yang hingga kini masih dipakai. SD ini hanya menampung siswa hingga kelas tiga, untuk kelas empat, anak-anak harus melanjutkan ke sekolah induk.

Saban hari Tatik harus mengajar tiga kelas sekaligus. “Tidak pernah istirahat!” ucapnya. Kelas satu dan dua diajar dalam satu ruang. Untuk membedakan kelas, mereka duduk di barisan yang berbeda. Sedang kelas tiga berada di ruang yang berbeda.

Setiap siswa hanya dibebani Rp 6.000 setiap bulan. Lima ribu untuk honor Tatik mengajar dan seribu rupiah untuk membeli peralatan kelas. Namun, Tatik tak dapat berharap banyak. Karena dalam satu bulan hanya sepuluh atau bahkan tak seorang siswa pun yang membayar. Untunglah, banyak pihak yang membantu dia.

Dari 48 siswanya, hanya 15 anak yang melanjutkan hingga lulus SD. “Banyak yang sakit malaria, dan karena alasan biaya, tidak mau melanjutkan sekolah,” ceritanya. Meskipun setiap ada anak yang sakit malaria atau alasan kekurangan biaya dan menunjukkan tanda-tanda akan keluar sekolah, Tatik mengunjunginya. “Saya selalu menandaskan, agar anak-anak harus tetap sekolah. Tidak perlu memikirkan soal biaya,” tuturnya.

Seiring perkembangan waktu, kerja keras Tatik menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap pendidikan. “Kalau dulu hanya saya yang lulusan SMA, Tapi sekarang sudah banyak yang melanjutkan hingga SMA,” katanya. Sebagai penghargaan atas kerja kerasnya, masyarakat menyebut sekolah yang dirintis Tatik dengan sebutan ‘Sekolahnya Bu Tatik’.

Anak-anak Kampung Laut berangkat sekolah.
photo: tubasmedia.com

Tanpa kurikulum
Atas kerja yang tanpa lelah dalam dunia pendidikan, sejak tahun ajaran 2005-2006, setiap hari Senin hingga Rabu, Tatik dipercaya membantu mengajar di Pasuruan, sebuah dusun berjarak lima kilometer dari rumahnya. Meski jauh, Tatik tetap melakukan dengan sukacita.

Untuk mencapai Pasuruan, Tatik harus menyusuri tanggul saluran air yang merupakan jalan satu-satunya. Jika musim kemarau, ia dapat mengendarai sepeda motor bekas miliknya. Namun, sepeda motor harus beberapa kali dituntun ketika melewati jembatan bambu yang tidak memiliki penghalang di kanan kiri. Tapi jika musim penghujan datang, Tatik mesti berangkat lebih awal, pukul enam pagi. Berjalan kaki dengan sepatu boot dan jas hujan. Jalanan tanah amat licin dilalui sepeda motor.

Di Pasuruan, Tatik harus mengajar dua kelas sekaligus dengan 10 siswa. Kelas dua, dua siswa dan kelas tiga, tujuh siswa. Untuk kelas satu diajar guru lain yang tinggal di Pasuruan. Karena hanya menggunakan balai pertemuan RT, kondisi sekolah sangat memprihatinkan. Bangunan berukuran 3 x 6 meter ini hanya terbuat dari kayu. Berlantai tanah. Dinding-dinding yang terbuat dari anyaman bambu sudah ‘bolong’ di beberapa bagian. “Sebenarnya sudah tidak layak dipakai untuk sekolah, tapi bagaimana lagi, adanya hanya itu,” tutur Tatik.

Kondisi memprihatinkan tak menyurutkan semangat belajar. “Justru banyak siswa yang saya ajar dengan kondisi yang memprihatinkan, ternyata dapat berprestasi ketika mereka melanjutkan ke sekolah induk,” cerita Tatik bangga. Hal ini, menurut Tatik, dikarenakan cara mengajar yang tidak mengikuti kurikulum yang ada. “Kalau di sekolah lain yang lengkap fasilitas, kadang saya mendengar anak-anak sangat tertekan dengan kurikulum yang ada. Tapi anak-anak di sini tidak merasakan hal itu. Mereka justru sangat senang belajar,” ujar Tatik.

Tatik bersama anak didiknya.
photo: y.prayogo
Pengalaman dan kesenangan membaca, membuat cara mengajar Tatik lebih bervariasi. Ketika mengajarkan tentang IPA yang berhubungan dengan biota laut, Tatik akan membawa anak-anak ke lapangan. Mengamati hutan bakau dan hewan-hewan laut yang ada mengelilingi kehidupan mereka. Kesempatan ini, juga dipergunakan untuk mengajak anak-anak menjaga kelestarian lingkungan. Begitu juga dengan mata pelajaran yang lain. Tatik akan mengajar dengan memberikan contoh-contoh konkret yang dekat dengan dunia anak-anak. “Dengan cara seperti ini, kok saya melihat anak-anak justru lebih cepat mengerti dan paham. Berbeda jika diuraikan sesuai dengan yang ada di buku. Saya hanya ingin orang-orang di sini pintar. Karena dengan pintar, orang dapat mengatasi persoalannya sendiri dan juga masyarakat.”

4 Agu 2015

BNI, Pelopor ATM Sepeda Motor

ATM BNI 46 Sepeda Motor di Jalan Raya Margonda Depok, Jawa Barat
(foto: y.prayogo) 

TUJUH hari sesudah Lebaran. Jalan Raya Margonda di Depok, Jawa Barat, sudah terlihat ramai. Lalu lalang kendaraan bermotor melintasi jalan raya di Kota Depok ini. Di satu sudut jalan raya ini berdiri kokoh sebuah Anjungan Tunai Mandiri (ATM) milik Bank Negara Indonesia (BNI) 46. Sekilas, ATM ini mirip dengan stasiun pengisian bahan bakar. Di ATM ini, para pesepeda motor tak perlu turun dari motor dan memarkir kendaraannya. Dari atas sepeda motor, mereka bisa melangsungkan transaksi di ATM.

“Jadi lebih mudah sih. Tidak perlu turun dan parkir sepeda motor,” ujar Maharani, seorang mahasiswi yang kerap bertransaksi di ATM Sepeda Motor ini.

“ATM ini luas dan aman, apalagi ada petugas keamanan,” kata Mohammad Rizal, seorang warga Depok yang siang itu bersepeda motor bersama istri dan dua anaknya.

“ATM Sepeda Motor ini seharusnya lebih diperbanyak, kan pengendara sepeda motor juga semakin banyak,” usul Iwan Setiawan yang mengaku bekerja sebagai pedagang di Depok.

Dalam satu jam, belasan bahkan puluhan nasabah BNI memanfaatkan ATM Sepeda Motor ini. Di sini, terdapat tiga mesin ATM yang senantiasa siap melayani para nasabah. ATM yang diresmikan pada Minggu, 1 September 2013 ini tak tertutup bagi nasabah yang tidak bersepeda motor. Beberapa nasabah tak bersepeda motor pun bisa menggunakan ATM ini.

Warga menggunakan ATM BNI 46 yang khusus bagi nasabah pengguna sepeda motor.
(foto: y.prayogo)
ATM Sepeda Motor ini yang pertama di Indonesia, bahkan mungkin di dunia. BNI, bank yang menjadi pelopor inovasi ATM Sepeda Motor ini. Direktur Utama BNI Gatot M Suwondo mengatakan, “ATM Sepeda Motor ini merupakan strategi untuk memberikan kemudahaan pelayanan atau transaksi, terutama bagi pengendara sepeda motor tanpa harus turun dari kendaraan.”

Penyediaan fasilitas ATM Sepeda Motor ini merupakan tanggapan BNI atas pertumbuhan pemakai sepeda motor yang kian meningkat di Indonesia. Melalui kehadiran ATM Sepeda Motor diharapkan dapat mengakomodir kepentingan dan kebutuhan nasabah dalam bertransaksi yang nyaman, terutama bagi pengendara sepeda motor.

Warga menggunakan ATM BNI 46 yang khusus bagi nasabah pengguna sepeda motor.
(foto: y.prayogo)
Pendirian ATM Sepeda Motor di Kota Depok ini bukanlah yang pertama dan satu-satunya. Hanya berselang beberapa bulan, bank yang berdiri pada 5 Juli 1946 ini, kembali mendirikan ATM Sepeda Motor di Grand Cakung, Kelurahan Ujung Menteng, Cakung, Jakarta Timur.

Rupanya, ATM Sepeda Motor mendapat tanggapan positif dari para nasabah BNI. Terbukti, bank pertama milik negara yang lahir setelah kemerdekaan Indonesia ini, mendirikan ATM Sepeda Motor di Surabaya, Malang, Denpasar, dan Palembang. BNI juga berencana akan mendirikan ATM Sepeda Motor di kota-kota lain di Indonesia. Semua ini dilakukan untuk memberikan pelayanan yang prima bagi para nasabah.

Warga menggunakan ATM BNI 46 yang khusus bagi nasabah pengguna sepeda motor
di Jalan Raya Margonda Depok, Jawa Barat
(foto: y.prayogo)
Di ATM Sepeda Motor ini biasa tersedia tiga mesin ATM dengan satu pecahan uang Rp 100.000 dan dua pecahan uang Rp 50.000. Sementara ini yang tersedia memang baru pelayanan tarik tunai. Bank yang memiliki cabang di London, New York, Tokyo, Singapura, dan Hongkong ini akan terus melakukan evaluasi setiap bulan. Jika ada kebutuhan untuk setoran tunai, maka BNI akan mengganti mesin ATM.

Inovasi pendirian ATM Sepeda Motor ini sejalan dengan visi BNI yang bercita-cita menjadi bank yang unggul, terkemuka, dan terdepan dalam layanan dan kinerja. BNI juga selalu memberikan pelayanan prima dan solusi yang bernilai tambah kepada seluruh nasabah dan selaku mitra pilihan utama, maka sudah menjadi komitmen BNI untuk selalu memberikan layanan terbaik kepada seluruh nasabah.

14 Feb 2015

Menyusuri Adat Kelola Hutan ala Dayak Iban

Rumah Betang Sungai Utik (y.prayogo)

BERKUNJUNG ke Rumah Panjang atau Rumah Betang Sungai Utik merupakan pengalaman yang tak bisa dihapus begitu saja dari ingatan. Tapi sayang, saya hanya singgah sejenak di “rumah raksasa” ini. Meski sejenak, saya mendapat aneka pencerahan. Ingin rasanya terbang kembali ke sana.

Untuk mencapai Rumah Panjang ini, juga butuh perjalanan yang cukup panjang. Jika menggunakan jalur darat, perjalanan dari Pontianak, ibukota Kalimantan Barat harus ditempuh sejauh 647 kilometer atau sekitar 24 jam perjalanan darat. Itupun jika tak menemui aral melintang di jalan, seperti air sungai pasang, pohon tumbang, atau yang lain.

Jika tak mau terlampau lelah, sebenarnya perjalanan bisa menggunakan pesawat terbang dari Bandar Udara Supadio Pontianak menuju Putusibau. Tiket pesawat tentu harus dipesan terlebih dahulu. Karena jalur ini termasuk jalur yang cukup padat. Dari Putusibau, perjalanan dilanjutkan dengan perjalanan darat sekitar dua jam menuju Rumah Betang Sungai Utik.

Atau jika mau tantangan yang lebih ekstrem, bisa menggunakan jalur sungai. Dari Pontianak menyusuri Sungai Kapuas ke arah hulu hingga kota Putusibau. Dari kota kecil ini, perjalanan susur sungai dilanjutkan menuju Sungai Utik. Tapi pasti dibutuhkan waktu berhari-hari, bahkan bisa berminggu-minggu baru sampai di Rumah Betang Sungai Utik.

Di sekitar Rumah Betang Sungai Utik tak ada hotel atau penginapan. Hotel paling dekat berada di kota Putusibau, yang berjarak sekitar dua jam perjalanan dengan mobil. Namun tak perlu khawatir. Karena penghuni Rumah Betang Sungai Utik pasti akan amat senang jika tamu menginap di bilik mereka.

Di pelataran Rumah Betang Sungai Utik yang berbentuk rumah panggung (y.prayogo) 

Rumah Betang atau orang setempat menyebutnya Ruma Panjae ini membujur sepanjang 200 meter dengan 37 pintu. Pintu merupakan istilah untuk satu bilik dalam rumah betang. Di antara bilik terdapat sebuah jendela yang menghubungkan bilik yang satu dengan lainnya. Sekitar 70 keluarga hidup bersama dalam rumah ini. Di sini, hidup masyarakat Dayak Iban.

Rumah Betang Sungai Utik berada di wilayah Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Nama Sungai Utik diambil dari sungai yang mengairi daerah ini sepanjang masa.

Dari masa ke masa, masyarakat Dayak Iban menghidupi tradisi, sembari menjaga kelestarian hutan. Mulai dari nenek moyang hingga kini, masyarakat Dayak Iban amat tertib menjaga hutan. Menjaga hutan sudah menjadi aturan dalam adat mereka. Dan hal itu dipahami sejak dari orangtua yang diturunkan kepada anak, kepada cucu, dan seterusnya hingga kini.

Jendela antarbilik di Rumah Betang Sungai Utik
(y.prayogo)
Di hutan seluas 9.452,5 hektar, siapapun yang berkunjung ke sini, bisa belajar tentang komunitas Dayak Iban yang mampu hidup dan bekerja sama dengan alam, mengelola hutan dengan cara yang adaptif untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Nah, atas informasi ini, melalui Lomba Blog Pegipegi, saya mengajak siapa saja yang ingin melihat dan belajar mengelola hutan bersama masyarakat Dayak Iban. Sejenak meninggalkan kesibukan dan kepenatan untuk melongok kabar hutan hujan tropis di Kalimatan Barat ini.

Masyarakat Dayak Iban membagi tiga hutan adatnya. Pertama, Kampong Taroh, merupakan kawasan hutan yang boleh ada kegiatan perladangan. Hutan ini juga berfungsi untuk melindungi mata air serta tempat berkembang biak satwa. Hutan ini berada di kawasan hulu sungai.

Kedua, Kampong Galao, merupakan kawasan hutan cadangan. Kegiatan yang diperbolehkan di kawasan ini adalah mengambil tanaman sebagai bahan obat, mengambil kayu api, serta menebang pohon untuk membuat sampan. Pemanfaatkan hutan ini sangat terbatas dan diawasi dengan amat ketat. Bahkan, jika ada yang melanggar akan dikenai sanksi adat.

Ketiga, Kampong Endor Kerja, merupakan kawasan hutan produksi, di mana hutan ditujukan untuk fungsi produksi dan dikelola secara adil dan berkelanjutan. Di kawasan ini boleh mengambil kayu dengan syarat berdiameter di atas 30 sentimeter. Selebihnya, kawasan hutan ini difungsikan sebagai sumber bibit.

Kearifan tradisional ini pun membuahkan hasil. Wilayah ini telah ditetapkan sebagai desa adat pertama yang meraih penghargaan sertifikat ekolabel dari Lembaga Ekolabel Indonesia.

Selama hutan masih lestari dan Sungai Utik masih mengalir, kehidupan masyarakat Dayak Iban masih penuh harapan. Seperti harapan para leluhur mereka, kehidupan masyarakat Dayak Iban masih akan terus membujur sepanjang Rumah Betang, tempat tinggal mereka.

“Air adalah darah. Tanah adalah asal dan tempat kembali manusia.” Demikian mereka memaknai setiap jengkal tanah dan setiap tetes air.

20 Nov 2013

Tujuh Sahabat Petualang Mencari Tujuh Surga Tersembunyi



BENDERA start dikibar-kibarkan Direktur Marketing PT Astra Daihatsu Motor, Amelia Tjandra di halaman Vehicle Logistic Center (VLC) Daihatsu di kawasan Sunter, Jakarta Utara, Selasa, 1 Oktober 2013. Lima unit Terios TX MT dan dua unit Terios TX AT, keluaran terbaru Daihatsu ini segera menderu dan melaju di jalanan ibukota, Jakarta. “Ini merupakan Terios 7 Wonder jilid kedua. Sahabat Petualang yang terdiri dari para blogger dan jurnalis bisa merasakan sensasi Terios terbaru menjelajahi tujuh tempat terbaik dalam Hidden Paradise di Jawa hingga Pulau Komodo,” kata Amelia Tjandra.


Ya, ini adalah petualangan Terios jilid kedua. Pada jilid pertama, Terios telah sukses menaklukkan Pulau Sumatra dalam “Terios 7 Wonder: Sumatera Coffee Paradise”. “Perjalanan ini telah membuktikan ketangguhan Terios dalam menaklukkan berbagai medan jalan dalam rangkaian kegiatan Terios 7 Wonders: Hidden Paradise. Ekspedisi ini membuktikan, Terios adalah sahabat yang tepat untuk berpetualang. Kami juga berharap peserta dapat berbagi cerita tentang destinasi-destinasi menarik ini kepada masyarakat agar semakin ramai dikunjungi wisatawan” ujar Domestic Marketing Division Head PT Astra Daihatsu Motor, Rio Sanggau.

Surga Sawarna
Tak lama berselang, iring-iringan tujuh Terios: Sahabat Petualang telah menari-nari di jalanan berkelok di kawasan Ciawi serta perbukitan Sukabumi. Jalan menanjak dan menurun yang cukup terjal dengan mudah dan nyaman ditaklukkan Terios yang dibekali mesin 1500cc VVTi ini.

Usai meliuk-liuk di jalan pegunungan, Terios melaju menuju Pelabuhan Ratu. Rasa bosan mulai menggelanyut. Untunglah, kejenuhan itu dapat diatasi dengan fasilitas dalam Terios keluaran baru ini: koneksi USB, Aux dan MicroSD yang memungkinkan para penumpang mendengarkan musik langsung, baik dari MP3-player maupun smartphone.

Panorama perbukitan segera beralih menjadi pemandangan pesisir pantai menuju Desa Sawarna. Aroma pantai selatan Pulau Jawa segera menyambangi tim ekspedisi ini. Sawarna menyimpan panorama pantai yang dipadu dengan batu-batu karang. Deburan ombak di Sawarna mulai dilirik para peselancar mancanegara dan domestik. Sawarna juga menyimpan beberapa gua yang menampilkan stalaktit dan stalakmit yang elok.

“Sawarna Beach is nice. Soft brownish white sand and blue water stretched far from east to west,” tulis salah satu blogger yang turut dalam tim Terios 7 Wonders: Hidden Paradise, Murni Amalia Ridha alias Mumun di laman pribadinya.
 
Susur Pantai Selatan
Setelah semalam melepas lelah di Sawarna, tim Terios 7 Wonders: Hidden Paradise menempuh perjalanan sekitar 600 kilometer dari Sawarna menuju Yogyakarta melalui jalur selatan Pulau Jawa. Usai mentari membuka hari, tim pun bertolak. Selepas Sukabumi, tim memutuskan masuk ke jalan tol Padaleunyi menuju Tasikmalaya. Kondisi jalan yang lenggang, membuat tujuh Terios ini dipacu dengan kecepatan cukup tinggi.

Keluar dari jalan tol Padaleunyi, tujuh Terios ini harus berhadapan dengan tanjakan dan turunan berkelok yang cukup terjal di jalur Nagreg. Lagi-lagi, tujuh New Terios dengan transmisi manual 5 percepatan ini tampil handal dan lincah.

Perjalanan lanjut ke Banjar hingga membawa tim menuju perbatasan Jawa Barat dengan Jawa Tengah. Kali ini, New Terios menghadapi jalan yang sempit dan datar. Jalur Banjar menuju Yogyakarta cukup padat. Bus dan truk mendominasi jalanan. Arena ini menjadi tantangan untuk menguji tenaga mesin dari SUV 7 penumpang ini dalam menyalip dan meliuk di jalan dua lajur ini.

Offroad di Kaki Merapi
Dari Kota Gudeg, tim Terios 7 Wonders: Hidden Paradise mendaki menuju Desa Kinahrejo di lereng Gunung Merapi. Lalu lintas pagi itu masih sepi. Dari kota yang berjuluk Kota Pelajar ini, tim menempuh perjalanan selama 60 menit menuju Kinahrejo.

Sayup-sayup tetabuhan gamelan, alat musik khas Jawa, mengalun. Tarian Kuda Lumping menyambut rombongan. Di tempat ini, tim Terios 7 Wonders: Hidden Paradise mengadakan penanaman 10.000 pohon; 7000 pohon penghijauan dan 3000 pohon produktif, secara simbolis untuk menghijaukan daerah pasca erupsi Gunung Merapi, November 2010.

Di Kinahrejo, tim juga mengunjungi kediaman sang juru kunci Gunung Merapi, almarhum Mbah Maridjan, sembari melakukan Lava Tour di Desa Cangkringan. New Terios terbukti handal di jalan berpasir yang diwarnai tanjakan terjal. Memang, beberapa kali New Terios sempat meradang melewati tanjakan terjal akibat lapisan pasir yang tebal. Namun akhirnya, tujuh New Terios ini berhasil menaklukkan medan “offroad” di kaki Gunung Merapi.


Kemah di Ranu Pane
Keesokkan pagi, Jumat, 4 Oktober 2013, tim Terios 7 Wonders: Hidden Paradise meneruskan petualangan menuju kota Malang, Jawa Timur. Perjalanan di hari keempat ini, dihabiskan di perjalanan dari Yogyakarta ke Malang. Tak ada yang istimewa selama perjalanan yang menempuh rute 342 kilometer ini.

Malam hari, tim baru menyentuh kota Malang. Para anggota tim pun segera melempar badan ke pembaringan, melepas lelah setelah sepanjang hari dalam perjalanan.

Keesokkan pagi, tim melanjutkan petualangan ke kawasan kaki Gunung Semeru. Iring-iringan New Terios membelah jalan beraspal Tlogosari yang menyajikan pemandangan Puncak Mahameru dari kejauhan. Menjelang sore, konvoi New Terios baru lepas dari Malang.

Hari sudah petang. Tim pun akhirnya masuk pintu gerbang Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Suasana kian gulita. Hanya pepohonan besar yang bisa terlihat di kanan kiri jalan aspal yang hanya bisa dimuati satu mobil itu. Semakin dalam ke hutan, jalan kian rusak. Batu-batu berukuran sedang berhamburan saat terlindas ban mobil. Namun, kondisi itu bukanlah halangan bagi New Terios. Medan di kaki Gunung Merapi telah membuktikan ketangguhannya. Kini saatnya, New Terios unjuk gigi di lereng Semeru, gunung tertinggi Pulau Jawa ini.

Malam sedang tampil menawan. Taburan bintang di langit menyambut kedatangan tim Terios 7 Wonders: Hidden Paradise di Ranu Pane. Malam itu, tim bercengkerama hangat bersama masyarakat Suku Tengger. Mereka sedikit mencecap kehidupan orang-orang lereng Semeru ini. Tim memilih berkemah di tepi Danau Ranu Pane. Hawa dingin menusuk hingga tulang belulang. Meski dingin membekap, langit tampil sempurna. Tak ada awan yang bergelayut. Bintang-bintang menampilkan keelokannya.

Esok pagi, mentari muncul dengan malu-malu di ufuk timur. Semburat-semburat oranye menggaris di angkasa. Dari pinggir Danau Ranu Pane, tim Terios 7 Wonders: Hidden Paradise menikmati “surga” yang tersembunyi di balik kegagahan Gunung Semeru.

Africa van Java
Setelah “menggigil” di Ranu Pane, tim Terios 7 Wonders: Hidden Paradise menuju Taman Nasional Baluran di ujung timur Pulau Jawa, tepatnya di Banyuputih, Situbondo, Jawa Timur. Nampak panorama sabana dihiasi tanaman-tanaman yang meranggas oleh musim kemarau.

Baluran merupakan nama gunung yang menaungi habitat taman nasional ini. Selain sabana yang membentang luas, di taman nasional ini juga terdapat hutan mangrove, hutan pantai, hutan pegunungan bawah, hutan musim, hutan rawa, serta hutan yang selalu hijau sepanjang tahun. Taman nasional ini kerap disebut sebagai “Africa van Java”.

Tim pun memilih malam hari untuk “mengintip” rusa-rusa liar yang masih berkeliaran bebas di alam. Beruntung, safari night dengan berjalan kaki ini berhasil “mengintip” beberapa rusa dan kijang, meskipun hanya dari kejauhan.

Setelah puas mencecap “surga” di ujung timur Pulau Jawa, petualangan dilanjutkan menuju Pulau Dewata. Jalan yang dipenuhi batu-batu kerikil akibat aspal mengelupas di akses keluar Taman Nasional Baluran, menjadi medan pembuktian ketangguhan New Terios. Dengan kecepatan 40 kilometer/jam, New Terios nyaman dan mulus melewati jalan berlubang serta melibas tikungan yang landai.

Iring-iringan New Terios pun menuju Pelabuhan Ketapang untuk menyeberang ke Bali dengan kapal ferry. Aroma Pulau Dewata segera menyengat tatkala sampai di Gilimanuk. Sajian ayam betutu, kuliner khas Bali, segera menyapa tim petualangan Terios 7 Wonders: Hidden Paradise. Bali hanya menjadi tempat persinggahan sejenak, sebelum tim melanjutkan perjalanan menuju Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Kampung Suku Sasak
Di Lombok, tim Terios 7 Wonders: Hidden Paradise langsung menuju “surga” berikutnya di Kampung Sade, daerah Rambitan, Pujut, Lombok Tengah, yang dihuni Suku Sasak. Alunan musik tradisional khas Suku Sasak dan tarian Gendang Belek menyambut rombongan. Pertunjukan Peresehan, tradisi perkelahian dengan tongkat rotan panjang serta perisai yang terbuat dari kulit sapi, pun disuguhkan.

Di kampung Suku Sasak ini, terdapat kebiasaan unik. Penduduk kampung ini selalu membersihkan lantai rumahnya dengan kotoran kerbau. Cara ini, menurut mereka, dapat lebih menghangatkan rumah serta dijauhi nyamuk.

Setelah dari Sade, tim Terios 7 Wonders: Hidden Paradise mengungkapkan belarasa dengan berbagi bersama siswa-siswi SMA AL Masyhudien NW Kawo, Lombok Tengah. Kegiatan ini menjadi salah satu pilar tanggung sosial perusahaan Daihatsu; Pintar Bersama Daihatsu.

Perjalanan berlanjut. Kali ini, petualangan tim Terios 7 Wonders: Hidden Paradise menguak keelokan pantai-pantai di Pulau Lombok. Dua pantai yang disambangi adalah Pink Beach, di daerah Tanjung Ringgit, Lombok Timur dan Pantai Selong Belanak di Lombok Tengah.

Untuk mencapai Pink Beach, diperlukan dua jam perjalanan dari Mataram. Dari jauh, sekilas pasir pantai ini berwarna merah muda atau pink. Tak heran, jika pantai ini dinamai Pink Beach. Lokasi pantai ini jauh dari keramaian. Pohon-pohon yang sedang meranggas menjadi keunikan panorama di pantai ini.


Usai menikmati Pink Beach, tim melanjutkan perjalanan menuju Pantai Selong Belanak. Lagi-lagi, New Terios harus menghadapi medan berbukit dan berkelok-kelok. Hari menjelang sore. Mentari pun sudah agak condong ke barat. Tim tak mau kehilangan moment sunset di Pantai Selong Belanak. Tujuh New Terios pun digeber, bagai sebuah petualangan mengejar matahari.

“Ah Lombok, so little time so many beautiful hidden paradises,” ujar seorang blogger perempuan yang ikut dalam petualangan Terios 7 Wonders: Hidden Paradise, Lucia Nancy dalam laman miliknya.

Mencecap Susu Kuda Liar
Selepas meluapkan kekaguman di Pulau Lombok, tim Terios 7 Wonders: Hidden Paradise berpetualang ke Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Pagi-pagi, konvoi New Terios menuju Pelabuhan Kayangan untuk menyeberang dengan kapal ferry selama empat jam ke Sumbawa.

Sesampai di Sumbawa, tujuh New Terios segera dipacu menuju Dompu yang berjarak lebih kurang 585 kilometer. Jalanan yang mulus menjadi santapan ringan bagi New Terios.

Baru dini hari, rombongan sampai di penginapan yang terletak di Pantai Lakey, destinasi wisata yang kondang di Dompu. Pantai ini dikenal dengan ombak yang amat diminati para peselancar.

Keesokkan pagi, petualangan dilanjutkan ke daerah perbatasan Dompu dengan Bima, yakni Desa Palama, Donggo, Bima. Di tempat ini, tim menyaksikan pemerahan susu kuda liar. Disebut kuda liar, karena kuda-kuda ini memang digembalakan secara liar di alam terbuka. Mereka juga berkembangbiak di alam liar.

Sumbawa tak hanya menyimpan pesona alam yang elok. Sumbawa juga memiliki warisan kudapan susu kuda liar yang telah menjadi daya pikat daerah ini.

Pulau Keajaiban Dunia
Dari Sumbawa, tim Terios 7 Wonders: Hidden Paradise bertolak ke Labuan Bajo di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Pulau Komodo menjadi tujuan utama dan juga akhir dari petualangan ini.

Pagi itu, mentari belum menyembul di ufuk timur. Tim telah bersiap menuju Pulau Komodo. Kapal Phinisi Lafina dari Bone, Sulawesi Selatan siap menemani tim mengarungi lautan selama lima jam dan berlabuh di pulau tempat bersarang reptil raksasa itu.

Tujuh New Terios pun berhasil mencapai tempat yang telah ditetapkan sebagai salah satu Warisan Keajaiban Dunia ini. Seluruh tim Terios 7 Wonders: Hidden Paradise melakukan selebrasi dan bersyukur atas petualangan ini serta membuktikan ketangguhan New Terios sebagai Sahabat Petualang.

********

Potong Pantan, Menyambut Tamu ala Dayak Taman


SEORANG bocah laki-laki meliuk-liukkan tubuhnya menari di depan rombongan. Tangan kirinya memegang sebuah perisai. Tangan kanannya mengenggam mandau, senjata tajam seperti parang khas Dayak. Bocah itu menyabetkan mandau-nya ke kanan dan ke kiri, seolah menyingkirkan segala mara bahaya di jalan yang hendak dilalui para tamu. Sementara enam penari perempuan cilik berpakaian warna-warni mengiringi di belakang. Tarian yang diiringi tetabuhan khas Dayak ini mengantar para tamu menuju pintu gerbang utama Rumah Betang Ulu Palin di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Sesampainya di depan pintu gerbang utama, para tamu belum diperbolehkan naik ke rumah panggung setinggi tujuh meter ini. Para tamu dihadang dengan batang pohon yang diletakkan melintang di pintu gerbang yang dihiasi juntai-juntai kuning daun kelapa muda. Seorang pria Dayak maju ke depan. Ia menanyakan nama dan maksud kedatangan para tamu.

Sejurus kemudian, pria itu menyerahkan sebilah mandau kepada ketua rombongan. Ia meminta sang ketua rombongan memotong batang pohon itu. Sebelum mulai memotong, pria Dayak itu menyorongkan secangkir air maram atau beram yang terbuat beras ketan dan ragi. Minuman ini merupakan minuman khas masyarakat Dayak Taman sebagai lambang kekuatan dan kebesaran. Si ketua rombongan pun menenggak air maram itu.

Setelah itu, ia mulai bekerja keras memotong batang pohon berdiameter sepuluh centimeter itu. Tetabuhan terus bertalu-talu. Beberapa orang berteriak, “Haus... haus... haus...!” Dan si pemotong kayu pun berhenti sejenak, lalu ia kembali menenggak air maram.

Tatkala batang kayu benar-benar terpotong sempurna, semua orang yang hadir berteriak dan bertepuk tangan. Semua bergembira, lantaran satu ‘rintangan’ telah berhasil dilalui. Iringan tabuhan pun kian keras. Ini menjadi puncak tradisi Potong Pantan, upacara adat Dayak Taman untuk menyambut tamu. Upacara ini digelar untuk menghilangkan segala pengaruh buruk yang mungkin dibawa sang tamu.

Namun, pesta penyambutan belum usai. Tetabuhan masih bertalu-talu mengiringi langkah menuju anak tangga untuk naik ke Rumah Betang. Saat berada di anak tangga paling akhir, beberapa pemuda telah menanti. Aroma tuak, minuman tradisional Dayak, terasa menyengat lubang hidung. Kali ini para tamu wajib minum tuak menggunakan tanduk kerbau yang telah disulap menyerupai sebuah cangkir. Bagi tamu yang tak bisa minum tuak, cukup menghirup aromanya saja.


Satu ‘rintangan’ kembali dapat dilalui. Rasa lega menyelimuti saat berada di Rumah Betang sepanjang 286 meter ini. Namun rasa itu hanya singgah sementara saja. Sebuah upacara adat kembali harus dilalui. Kali ini giliran para perempuan. Mereka telah menanti sembari menari-nari mengikuti irama tetabuhan di sebuah pintu gerbang yang terbuat dari daun muda pohon kelapa. Di gerbang itu melintang selendang berwarna-warni. Sang tamu pun wajib berjalan di bawah kain selendang itu. Saat melalui selendang itu, sang tamu disuguhi segelas Air Papa’, minuman yang terbuat dari air tebu dicampur kulit kayu dan diolah hingga mengandung alkohol. Bagi masyarakat Dayak Taman, minuman ini merupakan lambang kebijaksanaan.

Setelah semua upacara dilalui, para tamu dan penghuni Rumah Betang duduk bersama beralaskan tikar. Mereka makan dan minum bersama, seperti dalam sebuah keluarga besar. Mereka berbincang dan saling menyapa membentuk pertalian kekerabatan yang penuh kehangatan.