28 Agu 2008

Kepada Bulan

Hari ini tanggal lima belas penanggalan Jawa. Rembulan akan bersinar penuh. Namun, senja masih bergelanyut. Semburat jingga masih menggantung di ufuk barat. Sang penerang siang nampak enggan menuju cakrawala. Begitu pun dengan camar yang masih menari-nari di angkasa.

Anak-anak yang sedari tadi bermain di halaman rumahku, telah pulang satu-per satu. Pintu-pintu rumah telah ditutup rapat. Sampan-sampan pun mulai berdayung pulang menembus rimbunan bakau. Senja mulai gelap. Sepi pun menderap. Purnama masih saja malu-malu menampakan kepenuhan.

Kumandang adzan memecahkan kesunyian. Beriringan dengan madah pujian binatang malam. Beberapa orang melintas menuju surau. Sedang yang lain masih bertahan di sebuah gardu ronda di seberang jalan. Mengadu nasib di atas kartu-kartu peruntungan. Dewi Purnama sedikit demi sedikit mulai menampakan diri, memamerkan kecantikan.

Aku masih duduk di kursi kayu di beranda rumah. Sekali-sekali kepalaku mengangguk pada orang yang melintas di depan rumah. Melempar senyum seperti biasa. Senyum yang sudah kuhapal. Sudah beberapa minggu ini, aku lebih suka sendiri, bergelut dengan sepi, berselimut sunyi.

Anganku pun melayang pada kenangan yang selalu membuat rindu. Saat-saat penuh cinta. Penuh kebahagiaan. Meski harus dilalui dengan berkeringat, beradu mulut, bersunggut-sunggut dan berair mata. Sudah hampir dua puluh tahun aku tinggal di sini. Di sebuah desa yang jauh dari keramaian. Tak ada suara bising mobil, tak ada listrik, tak ada super market, tak ada sinyal telepon seluler. Jauh dari hiruk-pikuk dan simpang siur berita. Apalagi gosip para selebritis, tak terdengar sama sekali. Untuk mencapai tempat ini saja, harus naik perahu motor selama dua jam dari pelabuhan kota. Menyusuri laut, menembus jajaran hutan bakau.

Tak pernah terbayang, aku akan tinggal di daerah seperti ini. Hidup di antara rawa-rawa, berdekatan dengan pulau tempat pembuangan narapidana kelas kakap. Hidup di antara para nelayan. Hidup di daerah endemik malaria. Sungguh tak pernah terbayangkan!

Namun, selepas SMA, aku dipinang Yakobus, kakak kelasku. Harapanku untuk bekerja di Jakarta pun pupus. Karena aku harus mengikuti suamiku yang bekerja sebagai penyuluh pertanian di desa ini. Bagaimana pun aku harus ikut. Aku telah berjanji di hadapan Tuhan untuk selalu setia sehidup semati dengannya. “Yang telah disatukan Tuhan, tak boleh diceraikan manusia!” ucapku bersama Yakobus saat kami menikah.

Dua tahun menikah, aku dikarunia bayi perempuan. Wulan, namanya. Bayi perempuan mungil. Lima tahun kemudian, lahirlah Purnama. Lengkap sudah kebahagiaanku. Pun dengan Yakobus. Setiap hari, ketika akan berangkat kerja, ia selalu mengecup kening dan pipiku terlebih dahulu. Demikian pula ketika pulang. Wajahnya selalu ceria. Aku pun semakin sayang padanya.

Belum lama aku mencecap kebahagiaan itu, tiba-tiba, pada suatu sore, Yakobus pulang dengan wajah yang tak ceria. Ia dipecat, karena terlibat penggelapan uang proyek penghijauan dari pemerintah. Kebahagiaanku pun terancam.

Sejak saat itu, Yakobus berubah. Ia mulai berjudi. Mabuk-mabukan. Jarang pulang ke rumah. Sering marah-marah. Aku pun jadi sasaran kemarahannya. Pipiku yang dulu sering dikecupnya, kini jadi sasaran tangannya. Aku tak dapat melawan. Aku tetap sayang padanya.

Hingga pada suatu malam, selepas kami bercinta, ia mengungkapkan keinginannya. “Anna, aku tak dapat lagi hidup di sini. Aku harus pergi. Aku akan mencari pekerjaan. Mungkin ke Sumatera. Kamu boleh ikut, tapi boleh juga tidak!” ucapnya sedikit parau. Wajahnya masih berkeringat.

“Tapi anak-anak masih kecil, Mas! Tidak mungkin membawa mereka pergi jauh,” sergahku.

“Aku tak kuat lagi. Setiap hari orang-orang selalu membicarakan kejelekanku!” bela Yakobus. “Kamu tinggal di sini saja. Nanti, kalau aku sudah bekerja, aku akan mengirimimu uang setiap bulan,” lanjutnya sebelum terlelap. Keesokan paginya, dengan sangat berat hati aku melepaskan kepergiaan suamiku. “Hati-hati!” Hanya itu yang dapat aku ucapkan padanya.

Satu tahun berlalu. Aku rindu suamiku. Namun, tak ada kabar dari suamiku. Sepucuk surat pun tidak. Apalagi uang, seperti yang dijanjikannya. Aku mulai gelisah. Gundah makin menjarah. Uang persediaan sudah menipis. Sementara kebutuhan terus bertambah.

Hingga suatu hari datang kabar dari Karjo, teman suamiku yang juga bekerja di Sumatera. “Mbak, aku disuruh Mas Yakob untuk menyampaikan kabar. Ia sekarang sudah bekerja, tapi belum dapat mengirimi uang. Gajinya masih kecil. Dan…”. Karjo tak melanjutkan ceritanya.

“Dan…apa, Jo?” sergahku cepat.

“Maaf, Mbak! Mas Yakob menikah lagi. Anaknya sudah satu!”

“Apa…?” Mendengar kabar itu, serasa ada suatu beban berat menimpa pundakku. Kepalaku terasa berat sekali. Dadaku sesak. Kaki dan tanganku bergetar tak beraturan. Sampai beberapa hari aku tak mau makan. Aku benar-benar sakit hati.

“Tapi…benarkah kabar itu? Sejahat itukah suamiku?” Aku ragu. Ada bimbang yang bergejolak di hatiku. Aku tak yakin kabar itu benar. “Aku baru percaya, kalau suamiku sendiri yang mengatakannya. Aku akan terus dan terus menunggu suamiku tercinta!” bisik hatiku.

Aku masih duduk di kursi kayu di beranda rumah. Seminggu lagi, genap empat puluh hari anakku, Purnama, dipanggil Sang Pencipta. Purnama, yah… itulah nama yang diberikan ayahnya. Dia memang lahir saat bulan sedang purnama. Anak laki-laki yang gagah. Tak tahu mengapa Dia memanggil Purnama, di usianya yang masih belia, tiga belas tahun.

“Entahlah..!” bisikku dalam hati.

Padahal, di hari saat anakku meninggal, Purnama begitu ceria. Sore itu, dia masih bermain kelereng di depan rumah. Tapi, tiba-tiba dia terjatuh. Tanpa ada sebab yang tak aku ketahui hingga kini. Ia tak sadarkan diri. Sampai tujuh hari ia terbaring koma di dipan rumah sakit. Tak ada penjelasan apa pun dari dokter yang merawatnya.

“Tapi, sudahlah! Aku yakin ini yang terbaik untuk Purnama,” desahku.

Aku masih duduk di kursi kayu di beranda rumah. Berteman bulan purnama yang telah penuh. Semburat mendung sedikit menggaris di tengah-tengahnya. Air dari mata sedikit menggaris di pipiku. Namun, tak mengurangi mataku yang terus menatap ke depan. Menjemput harapanku. Menanti cintaku.

“Bulan, titip salam buat Purnama dan suamiku tercinta!” desahku.

27 Agu 2008

Vanda Parengkuan; Menjaga Hati Anak-Anak

Konon, di negeri antah berantah, tersebutlah anak bernama Konya Konya Lonya. Ia anak miskin. Ia selalu ditolak teman-temannya. Padahal, ia ingin sekali bermain bersama anak-anak di desa itu. Namun, teman-temannya sangat sombong.

SUATU hari, penyihir Otero Tero datang mengacaukan permainan anak-anak desa itu. Penyihir itu menawari Konya Konya Lonya sebagai muridnya. Ia akan mengajari Konya Konya Lonya menjadi penyihir hebat. Namun, Otero Tero mengajukan syarat. Konya Konya Lonya tidak boleh lagi menggunakan hati. Hatinya harus dilepas. Konya Konya Lonya bersedia. Dengan kekuatan sihirnya, Otero Tero mengambil hati Konya Konya Lonya. Ia lalu menyimpannya di Gua Batu. Gua itu dikunci dengan tiga potong kunci berbentuk air, hati, dan daun. Ketiga kunci itu disimpan di tiga tempat yang berbeda.
Dua puluh tahun berlalu. Konya Konya Lonya telah menjadi penyihir jahat tanpa hati. Ia menyihir desanya menjadi kering kerontang. Sianya Wanya Senya, seorang anak perempuan yang mencintai lingkungan, bertekad mencari tiga potong kunci Gua Batu itu. Ia ingin mengembalikan hati Konya Konya Lonya. Kalau sudah punya hati, Konya Konya Lonya pasti bersedia menyihir kembali Bukit Baobab menjadi hijau lagi. Ditemani Bobo Sianya Wanya Senya berpetualangan mencari tiga potong kunci gua. Akhirnya Konya Konya Lonya mendapatkan hatinya kembali.
Ya, cerita di atas memang sebuah dongeng dari negeri antah berantah. Dongeng yang ditampilkan pada Operet Bobo akhir Juni lalu. Operet berjudul Konya Konya Lonya ini merupakan hasil coretan seorang perempuan bernama Vanda Parengkuan. Ia adalah redaktur Majalah Bobo.

Tukar hati
Rabu petang, 29/7, perempuan yang sering disapa Vanda ini, tampak berpenampilan sederhana. Ia membalut diri dengan busana batik bermotif bunga-bunga. Ia duduk di sudut kedai kopi bermerek internasional di tengah sebuah pasar modern di kawasan Jakarta Barat. Vanda pun membuka cerita. Namun, suaranya harus bersaing dengan hiruk pikuk pengunjung.
Dalam operet yang didukung beberapa wartis itu, perempuan kelahiran Sangir Talaud, Sulawesi Utara, 21 September 1967 ini, juga menyelipkan sebuah lagu berjudul ‘Jangan Tukar Hatimu'. Lindungi hatimuu... Jangan tukar hatimu, dengan harta dan benda, atau apapun juga... Demikian penggalan syair lagu itu. “Operet ini memang berbicara tentang hati nurani,” papar Vanda. Hati nurani, menurutnya, jangan pernah ditukarkan dengan apapun. Karena, kalau hati nurani ditukar, maka perbuatan jahat akan semakin mudah diperbuat. “Dan ketika melakukan kejahatan, rasa bersalah pun sudah tak ada lagi,” tambahnya.
Selain itu, banyak pesan yang dapat dipetik dari operet ini. Soal pertemanan, lingkungan hidup dan juga pesan bagi para orangtua. “Jangan membuat anak-anak kesepian sendiri. Karena di luar rumah, banyak penyihir seperti Otero Tero, yang dapat berpura-pura baik, namun menyimpan maksud yang jahat,” papar Vanda sembari sekali-sekali menyeruput kopi.
Operet ini muncul dari keprihatinan Vanda. Ia melihat, di berbagai media massa, tampilan kekerasan datang bertubi-tubi. Mutilasi, pembunuhan, penculikan, perampokan, dan lain-lain. “Tapi, saya yakin, para pelaku kejahatan itu, saat kecil pasti juga lucu-lucu dan polos. Namun, karena ada yang mengambil hatinya, maka mereka dapat berbuat jahat dan tega pada sesamanya,” katanya.
Permasalahan ekonomi, terutama kemiskinan, menurut istri Ferdinand Makahanap, SH ini, menjadi penyebab utama. “Ujung-ujungnya duit!” tegasnya. Pemerintah harus lebih peduli dengan mengalokasikan anggaran negara pada anak-anak. Dengan demikian, akan banyak anak-anak di Indonesia yang tertolong dan diselamatkan. Orangtua pun harus menaruhkan hatinya pada anak-anak. Karena, masalah ekonomi membuat manusia mudah menukarkan hati dengan uang atau apapun. “Mencuri atau tidak? Korupsi atau tidak? Kalau tidak, tidak bisa makan! Itu yang terjadi di masyarakat,” papar Vanda.

Mesin ketik
Mendongeng atau menulis naskah operet, bukanlah hal baru bagi ibu tiga anak ini. Saat Vanda kecil, Bapaknya rajin membelikan buku-buku cerita. Ia sangat gemar membaca. Berapa pun buku yang dibeli bapaknya hari itu, pasti habis dilahapnya hari itu juga. Suatu hari, matanya bengkak dan harus dikompres, lantaran terlalu banyak membaca.
Karena gemar membaca, ia tertarik menulis. “Ketika membaca satu cerita, kadang saya tidak setuju dengan akhir ceritanya. Ya, saya menulis ulang cerita itu, dengan akhir cerita yang saya ingini,” kenangnya sembari tertawa renyah. Itu adalah kenangannya saat masih kelas empat SD. Semakin remaja, Vanda makin rajin menulis. Melihat tingkah itu, bapaknya pun membelikan mesin ketik. Mulailah ia mengetik. Ia pun memberanikan diri mengirimkan naskah-naskah yang diketiknya dengan dua jari, ke media anak-anak. Tulisannya dimuat. Vanda pun gembira. Semangatnya menulis makin terpompa. Saat tingkat pertama kuliah, ia diminta mengajar Sekolah Minggu. Ketika Paskah atau Natal tiba, Vanda pun selalu diminta membuat operet kecil-kecilan untuk dipentaskan di gereja.

Mendongeng
Vanda lahir sebagai anak Pulau Sangir. Ia di sana hingga usia empat tahun. Pulau Sangir terletak di selatan Filipina. Jika menumpang pesawat terbang kecil dari Madano memakan waktu tempuh sekitar 45 menit. Namun, jika melalui jalur laut, baru sampai sekitar 12 jam kemudian.
Vanda masih menyimpan kenangan masa kecil di Sangir. Rumahnya berada dekat dengan pantai. Setiap hari ia bisa melihat pantai dengan pasir putih dan laut yang membiru. Jernih dan bersih. Di samping rumahnya, rak kayu berundak-undak membujur. Di atasnya, dihiasi tanaman bunga anggrek beragam jenis. Itu adalah kegemaran ibundanya. Nama Vanda diperoleh dari sang ibunda yang gemar anggrek. Vanda adalah sejenis anggrek. Tahun 1996, ia sempat melonggok tanha kelahirannya itu. Ingatan-ingatan masa lalu itu, seperti tak pernah terbang hilang. Ingatan-ingatan itu pun muncul dalam Operet Bobumba yang dipentaskan pada tahun lalu di Balai Sidang Jakarta.
Bagi Vanda, dongeng memiliki satu kekuatan yang besar. Dongeng adalah alat. Berbeda dengan nasihat langsung yang kadang justru ditolak anak-anak. Dongeng, menurut Vanda, alat untuk memberi nilai-nilai melalui alam bawah sadar anak-anak. Melalui tokoh, alur dan latar cerita, nilai-nilai itu ditaburkan dalam diri anak. Lewat dongeng, anak-anak akan lebih dapat memahami nilai-nilai tersebut. Tidak hanya itu. Dongeng juga dapat disisipi ilmu pengetahuan atau pemecahan masalah. “Dalam dongeng kan kadang ada masalah-masalah, apalagi jika ceritanya tentang kehidupan yang dekat dengan anak-anak. Dari situ orangtua dapat membantu anak untuk belajar mengatasi masalah,” papar Vanda.
Menurut Vanda, dongeng atau cerita untuk anak-anak yang baik, tidak memiliki kesan menggurui. Anak-anaklah yang akan mengambil kesimpulan sendiri atas cerita itu. Memang, kadang anak agak sulit menangkap makna dari cerita itu. “Tapi, biarlah anak menyimpannya dalam alam bawah sadarnya. Saya yakin, kelak anak akan mengerti makna dari cerita itu,” tambah ibu yang saban malam mendongengi ketiga anaknya ini.
Dan, malam makin gelap. Pembicaraan pun harus disudahi. Vanda mesti bergegas pulang. Ketiga anaknya pasti sudah menunggu di peraduan keluarga. Menanti kehangatan dongeng-dongeng pengantar tidur yang mengalir dari hati sang ibu.

Agustinus Wibowo; Menyusuri Negeri Tak Dikenal

”Hidup adalah perjalanan. Kita tidak tahu kapan perjalanan hidup kita akan selesai. Begitu pula, saya tidak tahu kapan petualangan saya ini akan berakhir,” tulis Agustinus Wibowo lewat surat elektronik.

SUDAH tiga tahun, Agus –sapaannya- melakukan perjalanan tanpa jeda. Ia melintasi Asia Selatan dan Tengah melalui jalur darat. Agus memang sedang melakukan misi pribadi berkeliling Asia. Perjalanan dimulai dari Stasiun Kereta Api Beijing, China pada 31 Juli 2005. Ia menuju Tibet, menyeberang ke Nepal, turun ke India, dan menembus Pakistan, Afghanistan, Iran, berputar lagi ke Asia Tengah, diawali Tajikistan, kemudian Kyrgyzstan, Kazakhstan, hingga Uzbekistan dan Turkmenistan. Ia menempuh perjalanan itu dengan berbagai ragam alat transportasi, seperti kereta api, bus, truk, kuda, keledai, bahkan berjalan kaki. Agus memang menghindari perjalanan dengan pesawat. ”Perjalanan udara menghalangi saya menyerap saripati tempat yang saya lalui,” ujarnya dalam perbincangan lewat internet beberapa waktu lalu. Ia ingin menyatu dengan budaya, menjalin persahabatan, mencecap kehidupan masyarakat yang dikunjunginya.
Agus memulai perjalanan berbekal 2.000 dolar AS, hasil tabungan saat kuliah di Universitas Tshinghua Beijing, China. Ketika bekal habis, ia menetap sementara di suatu tempat. Ia bekerja apa saja untuk mendapat bekal dan bertahan hidup. Bekal terkumpul, Agus pun melanjutkan petualangan. ”Untung saya hobi fotografi dan menulis. Saya menulis dan menjual foto-foto saya ke beberapa media di China, Singapura dan Indonesia,” tuturnya.

Menjadi turis
Agus lahir di Lumajang, Jawa Timur, tahun 1981 sebagai sulung dari pasangan Chandra Wibowo dan Widyawati. Usai belajar di SMU 2 Lumajang, Agus meneruskan kuliah di Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS). Ia hanya melalui satu semester di ITS. Ia memutuskan pindah kuliah ke Fakultas Komputer Universitas Tshinghua Beijing, China.
Sejak kecil ia memang hobi jalan-jalan. Ia sudah menyimpan harapan untuk berkelana ke negeri-negeri jauh. Sewaktu masih SD, gurunya pernah bertanya tentang cita-cita Agus. Dengan polos, ia menjawab ingin jadi turis. Gurunya berkata, kalau turis itu bukan pekerjaan, bukan cita-cita. Tapi, Agus terus menyimpan mimpi masa kecilnya itu.
Pertama kali, ia pergi ke Mongolia tahun 2002. Ia sangat mengagumi kebesaran alam, gurun pasir, padang rumput, dan danau ciptaan-Nya. Tahun 2003, Agus melawat ke Afghanistan, yang baru saja bangkit dari perang. Pikirannya berkecamuk. “Betapa banyak manusia di muka bumi ini yang luput dari perhatian kita,” pikirnya. Dan, saat tahun 2005, ia mengunjungi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), selepas tsunami. “Saya menyadari betapa mulia tugas wartawan yang mengabarkan kisah-kisah di daerah yang sebagian besar orang tak dapat melihat langsung. Saat itulah saya memutuskan untuk menjadi wartawan dan fotografer,” ceritanya. Cita-cita itu pun terwujud, setelah ia lulus kuliah pertengahan 2005.
Ia telah mewujudkan mimpi menjadi turis. Perubahan itu dimulai tahun 2002. Ketika seorang temannya menantang Agus berpetualang ke Mongolia. Agus juga sangat terinspirasi oleh perempuan asal Jepang, yang pernah keliling Asia Tenggara selama enam bulan. Ia sangat kagum, ketika perempuan Jepang itu bercerita tentang perjalanannya.

Dipukuli
Sejak saat itu, tak ada yang dapat menghentikan langkah kaki Agus. ”Makin sering saya berpetualang, semakin dalam keingintahuan saya tentang hal-hal baru di dunia ini. Dunia ini tidak seluas daun kelor. Ada banyak kehidupan dengan berbagai kebajikan lain di luar sana,” jelas pria muda telah menguasai bahasa Hindi, Urdu, Farsi, Rusia, Tajik, Kirghiz, Uzbek, Turki, Arab, Armenia, dan Georgia. Agus memang suka belajar bahasa asing. Biasanya, ia membeli buku pelajaran bahasa asing sebelum masuk ke negara yang dituju. Menguasai bahasa asing sangat membantu perjalanannya. Misal, ketika ia berjumpa Maois, para pengikut pemikiran Mao Zedong yang berhaluan komunis di Nepal. Karena ia dapat berbahasa Hindi, maka ia tidak dimintai uang. “Malah dianggap teman yang mendukung perjuangan mereka,” ceritanya.
Namun, kemampuan menguasai beragam bahasa, pernah membuat Agus hampir celaka. Ketika di Afghanistan, polisi setempat mencurigai Agus sebagai seorang teroris dari Pakistan. Tanpa sebab musabab, sepasukan polisi memukulinya dengan geram. Agus marah. Ia berteriak dan memaki. Tapi, yang keluar dari mulutnya adalah bahasa Urdu, bahasa nasional Pakistan. ”Harusnya saya berbahasa Inggris, tapi waktu itu spontan yang keluar bahasa Urdu,” ujarnya.
Tak hanya sekali, Agus mengalami kejadian naas. Seorang pengembara mau tidak mau harus berteman dengan marabahaya. Berulangkali ditangkap polisi, ditahan agen rahasia, dipukul preman, dirampok, dan berakrab dengan perut lapar. Agus pun pernah putus asa, lantaran kameranya rusak dan uang bekal dicuri orang. Pernah juga, ia menginap di rumah pelaku kriminal. Ia pun pernah menyelundup melintasi perbatasan Uzbekistan dan Kyrgyzstan. Dua negara di Asia Tengah. Batas antar negara sengaja dibuat kacau. Sehingga ketika dua negara ini merdeka, mereka tak dapat lepas dari konflik dan sengketa. “Di perbatasan, ada rumah yang dapur di Kyrgyzstan, sementara kamar tidur di Uzbekistan,” ujarnya.

Seni mengembara
Melihat sepak terjang Agus ini, orangtuanya tentu sering khawatir. Masih jelas dalam ingatannya, ketika ia hendak ke Mongolia tahun 2002. Setelah tiga minggu di Mongolia, Agus menelepon ke rumah dan ibunya menjerit saat dengar suaranya. Begitu pula saat ia pergi secara diam-diam ke Afghanistan. Sekembali dari Afghanistan, ia dimarahi habis-habisan oleh ibunya. Namun, kini semua sudah berubah. ”Ayah saya pernah berkata, kamu sudah besar, sudah bisa menimbang sendiri baik buruknya. Kami hanya mengarahkan, tapi kamu sendiri yang memutuskan,” tiru Agus. Orangtuanya pun telah percaya akan pilihan Agus dan mendukungnya.
Bagi Agus, petualangannya bukan bukan sekadar menikmati kemolekan pantai, kesegaran pegunungan atau kemewahan hotel berbintang. Bagian terbaik dari perjalanan, menurutnya, adalah ketika ia menemukan apa yang disebutnya sebagai ’seni mengembara’. ”Ketika kita tidak lagi menjadi diri sendiri, ketika kita kehilangan identitas kita, masa lalu kita, ikatan norma masyarakat yang selama ini mengikat kita, dan pada akhirnya lepas dari jerat yang selama ini memasung kita. Kita menjadi terbuka pada kehidupan dan menerima apa yang diajarkan kehidupan pada kita. Ketika sampai pada titik ini, kita akan melihat dunia dengan mata hati yang baru,” tuturnya. ”Bahkan di lekukan gunung Afghanistan dan padang pasir Pakistan, ada kebijaksanaan maha tinggi dari orang-orang pedalaman yang terlupakan dunia,” tambah Agus.
Agus masih di jalan, entah sampai kapan. Ia menyimpan cita-cita. Ia ingin melihat negeri yang ‘ada namun tiada’ di Afrika, melintasi Kaukasus, Eropa Timur hingga Timur Tengah. Di bagian bumi ini, ada negeri-negeri yang hampir tak pernah terdengar. Abkhazia, Transdniestr, Ossetia, Nagorno Karabakh.
Hidup memang perjalanan. Tujuan bukan yang utama. “Tapi, lika-liku menjalaninya yang paling penting. Perjuangan menuju kebahagiaan tak mudah. Harus melewati berbagai tahap, kesenangan duniawi, kesusahan, kesadaran, pelepasan, pencerahan, hingga akhirnya menyadari bahwa segala sesuatu itu begitu sederhana,” pungkasnya.

22 Agu 2008

Taman Keukenhof

Tunas musim semi kembali bertumbuh. Kuncup-kuncup bunga mulai bermekaran. Sepoi angin menebarkan semerbak ganda kehangatan. Aku masih duduk sendiri di sebuah bangku kayu Taman Keukenhof. Sebuah taman bunga yang teramat besar.

Beberapa kupu-kupu terlihat menari-nari. Mengitari bunga-bunga yang berwarna-warni. Seperti angan yang terus menari-nari di antara pelupuk mataku. Masih jelas terngiang di tambur telingaku percakapan satu minggu yang lalu dengan ibu.

“Ibu, waktu tiga tahun masih teramat singkat bagiku untuk melupakannya.”

“Nak, sudah saatnya kau memikirkan kembali janji perkawinanmu dulu ‘sampai maut memisahkan’. Dan kini, maut telah membawa kematian istrimu. Kematian telah memisahkan kalian berdua.”

“Namun, kematian bukanlah berarti mengijinkan aku untuk menikah lagi, Bu.”

“Joan, usiamu masih sangat muda dan kedua anakmu tentu membutuhkan perhatian dan belaian kasih sayang dari seorang ibu. Kau tidak boleh terlalu larut dalam duka!”

“Tidak, Ibu! Aku sudah tidak berduka. Dukaku telah aku kubur. Aku pun sudah berusaha untuk melupakan Anggit. Tapi semakin aku berupaya untuk tidak mengingatnya, bayangan wajahnya justru semakin melekat di hatiku. Anggit telah menjadi bagian dari hidupku. Ia telah menjadi belahan jiwa.”

“Ibu sangat tahu kau berbahagia bersama Anggit. Ibu pun sangat bahagia melihat kalian berdua berbahagia. Tapi kau tidak dapat hidup dengan masa lalu, Nak! Anggit telah menjadi masa lalumu. Kau kini hidup dalam realita dan masa depan kedua anakmu.”

“Aku masih sangat mencintai Anggit, Bu!”

“Dengan selalu pergi ke Taman Keukenhof?”

“Apa itu salah, Bu?”

“Tidak, Joan! Kau tidak salah. Tetapi itu akan selalu membuka masa lalumu.”

“Aku pertama kali bertemu dengan Anggit di Taman Keukenhof. Ketika itu kami masih sama-sama kuliah. Dan di sana pula aku untuk pertama kalinya menyatakan cintaku pada seorang perempuan. Dan di sana juga aku melamarnya untuk menjadi pendamping hidupku untuk selamanya. Hampir setiap tahun kami selalu berkunjung ke sana. Melihat bunga-bunga yang bermekaran. Indah sekali. Banyak kenangan tersimpan di sana, Bu!”

“Jangan kau larut dalam kenanganmu itu, Nak!”

“Cintaku ada di sana, Bu! Bunga-bunga itu selalu menampilkan wajah Anggit. Sosoknya yang bersahaja penuh senyum dan selalu memancarkan kasih sayang tiada hentinya. Selalu memberi tapi tak pernah berharap kembali. Dan itu sangat mendorongku untuk lebih mencintai kedua anakku. Lesung pipit Lorens dan tawa Alex adalah bayangan dirinya. Taman Keukenhof telah menjadi saksi cinta kami. Tempat kami saling menabur benih-benih cinta, menyiraminya sepanjang waktu dan menuai buah-buah kebahagaian.”

“Joan, Anggit telah tiada. Dan kau harus hidup dalam realita. Tataplah ke depan! Kau harus berani hidup tanpa bayang-bayang wajah Anggit. Kau membutuhkan pendamping hidup yang nyata dan ada di sisimu. Seorang istri yang akan mengasuh dan mengasihi kedua anakmu. Serta selalu menemanimu setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari, setiap bulan, setiap tahun dan untuk selamanya. Joan, jangan kau pergi ke Taman Keukenhof lagi!”

“Tidak, Bu! Aku masih belum dapat melupakan Anggit. Aku masih merasa ia ada di sampingku.”

“Nak, kelak kau akan merasakan apa yang Ibumu rasakan. Satu persatu anakmu akan pergi. Kau akan ditinggalkan orang-orang yang selama ini kau cintai. Mereka akan membentuk dunia mereka sendiri. Dan kau pun akan sendiri. Hanya berteman sunyi dan berdampingan dengan sepi.”

“Itu yang Ibu rasakan setelah ayah pergi?”

“Yah, sepeninggal ayahmu, Ibu merasa hidup sendiri. Makanya Ibu ada di sini. Membuang rasa sepi. Menawarkan sunyi. Tapi, tentu Ibu tak dapat lama tinggal di sini. Rumah tak ada yang merawat.”

“Ibu sudah mau pulang ke Indonesia?”

“Cepat atau lambat, ibu harus pulang. Ibu di sini hanya ingin mendorongmu untuk kembali menetap ke masa depan. Bukan maksud Ibu untuk mencuri kenangan kebahagiaanmu bersama almarhumah istrimu.”

“Perlukah aku untuk menikah lagi, Bu?”

Ibu tak menjawab pertanyaanku. Ia berdiri dan mendekatiku. Duduk di sampingku. Ia memelukku dengan hangat dan lembut. Ia menatap wajah Anggit yang terpampang di dalam sebuah bingkai foto. Aku sengaja mengantung foto Anggit di ruang tengah, agar aku dapat menatapnya setiap waktu.

“Ia memang cantik. Cantik sekali. Matanya selalu memancarkan kasihnya. Senyumnya selalu menebarkan kebahagiaan. Pantas kau memilihnya, Nak!”

“Tidak mudah menemukan perempuan seperti Anggit, Bu! Biarlah waktu lebih lama bagiku. Setelah anak-anak lebih dewasa untuk menerima kehadiran seorang perempuan lain sebagai pengganti ibunya. Dengan segala kelebihan dan tentu kekurangannya.”

“Kau memang keras kepala seperti ayahmu.”

“Tapi Ibu sangat mencintai ayah, kan?”

“Ayahmu kadang tak mau mendengarkan pendapat orang lain. Ia berpendirian teguh. Maunya menang sendiri!”

“Dan ibu sangat bahagia hidup bersama ayah?”

“Tentu”

“Meskipun ayah seorang yang keras kepala?”

“Itu hanya salah satu sifatnya saja.”

“Kalau demikian, keras kepala dalam satu hal saja, tidak mengapa bukan?”

“Apakah itu wujud kesetiaanmu pada Anggit?”

“Ibu yang mengajariku. Ibu telah menunjukkan kesetiaan yang luar biasa pada ayah. Meski ayah seorang yang keras kepala, Ibu dengan sangat sabar mendamping ayah hingga akhir hayatnya. Bahkan sampai sekarang aku masih dapat melihat kesetiaan itu memancar dari lubuk hati ibu.”

“Kau masih muda, sedang Ibumu ini sudah terlalu tua, Nak.....” Ibu terdiam sesaat. Meski usianya yang mulai menjelang kepala tujuh, Ibu masih terlihat sangat bijaksana. Kepikunan belum tersirat dalam ketuaan wajahnya. Meski kerut-kerut di raut mukanyanya semakin menonjol, aku masih dapat melihat kecantikan menebar dari wajahnya. Mungkin ini karena ia adalah seorang mantan bidan di desa. Maka makna hidup sangat mengendap dalam di hatinya. Dan sangat berarti dalam menjalani hidupnya. Ia terlalu sering membantu orang-orang yang miskin, yang tak mampu membayar biaya persalinan. Ia terlalu sering membukakan jalan bagi kehidupan yang baru.

“Tuhan telah memberi kita waktu untuk menabur, waktu untuk memelihara, dan waktu untuk memanen. Tuhan memberi kita waktu untuk mencintai dan dicintai, waktu untuk menyayangi dan disayangi, waktu untuk mengasihi dan dikasihi. Kita boleh mengatur waktu, tetapi Tuhan yang menentukan segalanya. Kini, keputusan ada di tanganmu, Nak! Dan Ibu yakin apa pun keputusanmu, itulah yang terbaik untukmu dan kedua anakmu itu.”

“Terima kasih, Bu!”

Aku kecup kening dan kedua pipi Ibuku. Aku memeluknya erat. Erat sekali. Kami pun larut dalam pelukan yang penuh kehangatan kasih sayang.

“Joan, minggu depan Ibu akan pulang ke Indonesia. Bolehkah anak-anakmu ikut dengan Ibu?”
“Tentu saja, Bu! Nanti akan saya tanyakan pada mereka berdua.”

Satu minggu kemudian, aku mengantar ibu dan kedua anakku ke Bandara Schiphol di Amsterdam. Sebenarnya ada rasa berat dalam hatiku.

“Hati-hati, ya! Kalian tidak boleh nakal di sana! Ayah pasti merindukan kalian.” ucapku sembari mengecup kening Alex dan Lorens.

“Ayah juga hati-hati, ya! Aku juga pasti rindu ayah!” balas Lorens.

Pesawat perlahan bergerak. Dan akhirnya lepas landas. Meningalkanku dalam kesendirian. Aku masih berdiri memandangi pesawat hingga termakan gumpalan awan putih. Ada sedikit air yang menggantung di kedua pelupuk mataku. Aku segera menghapusnya.

Kini, semua harus kukerjakan sendiri. Kujalani sendiri. Kesunyian mulai menyelimutiku. Kesepian serasa bergelayut dan mencengkeram hatiku. Aku merasa ada sesuatu yang hilang dari diriku. Mungkin benar yang dikatakan Ibu. Sudah hampir lima belas tahun, aku tak pernah sedetik pun tinggal di rumah sendiri. Semua kujalani bersama.

Aku masih duduk sendiri di bangku kayu Taman Keukenhof. Secangkir kopi telah kuhabiskan. Orang berlalu lalang tanpa menghiraukan keberadaanku sedari tadi. Sepasang kekasih terlihat sedang berciuman mesra di tengah rimbunan bunga-bunga yang berwarna-warni. Membuat hatiku iri.

Namun, sejurus kemudian, aku terhenyak. Aku mencium bau wewangian yang sangat aku kenal. “Anggit...!” bisikku dalam hatiku.

Seorang perempuan bergaun putih bersih melenggang pelan di depanku. Beberapa jenak ia berhenti. Menoleh ke arahku dan melemparkan sebuah senyum. Lalu berjalan menjauhiku.

“Ya, Tuhan, mimpikah aku? Bau parfum itu...gaun putih itu...senyum itu... Bukankah itu Anggit?” tanyaku pada diriku sendiri.

Aku segera bangkit dari tempat dudukku. Dengan perlahan mengikuti perempuan itu. Aku terus mengikutinya hingga perempuan bergaun putih itu berhenti. Perempuan itu mengambil duduk di bangku kayu di bawah sebuah pohon. Aku segera menghampirinya.

“Mengapa ia sangat mirip dengan Anggit, istriku?” Aku bingung. Bulu kudukku berdiri. Jantungku berdegup cepat sekali. Rasa takut semakin menguasai diriku. Aku memberanikan diri untuk duduk di sampingnya. Perempuan itu diam. Kepalanya tertunduk.

“Siapa kamu?” tanyaku padanya.

Ia tak segera menjawab. Untuk sekian lama kami terdiam. Dengan sangat pelan-pelan perempuan itu mengangkat wajahnya. Matanya menatap ke arahku. Senyumnya tersungging lembut di bibirnya.

“Ya, Tuhan!” ucapku dalam hati. Aku beringsut dari tempat dudukku. Mencoba menatapnya dalam.

“Kau sudah tak mengenalku, Mas?”

Aku diam. Tak menjawab pertanyaan.

“Aku Anggit, Mas! Istrimu!”

“Tidak mungkin! Ini tidak mungkin! Kau bukan istriku! Istriku telah meninggal tiga tahun yang lalu!”

“Parfum yang aku pakai dan gaun pengantin ini! Kau sudah melupakannya, Mas?”

Aku kembali diam. Tak percaya dengan apa yang sedang terjadi di hadapanku. Parfum itu memang milik Anggit. Begitu juga gaun pengantin itu. Gaun itulah yang ia pakai saat menikah denganku. Itu semua milik Anggit!

“Yah..., Taman Keukenhof! Di sinilah kita pertama kali bertemu. Di sini pula kau nyatakan cintamu padaku. Dan di sini pula kau melamar aku untuk menjadi istrimu. Di taman ini pula, kita sering menghabiskan waktu bersama...”

Ia terdiam beberapa saat.

“Oh, ya Mas, bagaimana kabar Alex dan Lorens, anak kita? Mereka baik-baik saja, bukan?”
“Tidak! Tidak!”

Hanya itu yang keluar dari mulutku. Aku masih tidak percaya dengan kejadian yang ada di depan mataku.

“Aku tahu, Mas, kau sangat kesepian semenjak kepergiaanku. Aku juga tahu, kau masih sangat mencintaiku. Aku pun masih mencintaimu, Mas! Maka dari itu aku datang menemuimu. Tapi kau tak boleh menyiksa dirimu seperti ini, Mas! Kau tak boleh larut dalam kesepian ini terus-menerus. Kasihan Alex dan Lorens!”

“Kau...kau...kau bukan istriku. Istriku sudah mati. Sekarang kau pergi dari sini! Pergi kataku! Pergiiii!!” aku berteriak sekeras-kerasnya.

“Aku memang sudah pergi, Mas! Kita tak mungkin bersama-sama lagi. Kita pernah bertemu, tapi kini kita telah berpisah. Aku tak mungkin lagi hadir dalam kehidupanmu. Carilah penggantiku, Mas! Berilah anak-anak kita ibu yang baru. Ibu yang akan selalu mengasihi dan mencintai mereka. Serta mendampingimu setiap waktu.”

“Pergiiiii..!” teriakku sekali lagi.

“Baiklah, Mas! Aku akan segera pergi! ” katanya terbata.

Perempuan itu lalu berdiri. Aku melihat pipinya basah. Air mengalir dari matanya. Ia menunduk dan berlalu sambil menghapus air matanya. Dengan langkah gemulai ia berjalan meninggalkanku. Aku terus memandangi kepergiannya. Bunga-bunga Taman Keukenhof menelan sosok perempuan itu.

“Benarkah perempuan itu Anggit, istriku?”

Aku ragu. Aku bimbang. Aku tak tahu apa sedang terjadi dalam diriku.
Aku masih duduk sendiri di bangku kayu Taman Keukenhof. Kuhempaskan punggungku ke sandaran bangku. Tubuhku lemas sekali. Sendi-sendiku terasa mau lepas. Jantungku masih berdegup kencang. Kudongakkan kepalaku. Mataku basah. Kututup wajahku dengan kedua tanganku. Tanganku dingin sekali.

Aku berdoa pada Tuhan, agar Dia segera mengirimkan malaikat-malaikat-Nya ke sini. Menjagai aku. Menemani aku. Aku yang masih duduk sendiri di bangku kayu Taman Keukenhof.

“Tuhan, aku tak mau sendiri lagi!”

maret 2007
(dimuat di Majalah FEMINA)