23 Jul 2013

Pemahat Alam dari Saham

Desa Saham nampak lenggang di awal Desember 2010 lalu. Hanya beberapa orang yang terlihat lalu lalang. Di desa yang terletak di Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat ini membentang sebuah rumah panggung dengan ketinggian sekitar empat meter dan memiliki panjang 200 meter. Inilah Rumah Betang, rumah adat Dayak Kanayan. Rumah panjang yang usianya lebih dari 300 tahun ini telah dihuni masyarakat Dayak Kanayan selama enam generasi.


Siang itu, Albertus sedang sibuk memahat. Di Rumah Betang inilah, Albert berkarya. Ia memahat kayu-kayu yang disediakan alam dan menjadikannya sebuah karya seni. Meski tampak sederhana dan jauh dari kesan seorang seniman yang populer, namun Albert bukanlah seniman yang biasa-biasa saja. Bakatnya lahir dari alam. Mata seninya amat tajam mengangkat nilai-nilai budaya Dayak. Tak heran, jika karyanya banyak dilirik para penikmat, pemerhati, dan kolektor seni. Bukan hanya dari Indonesia saja, tapi para penikmat karya Albert juga datang dari mancanegara. Para wisatawan dan pemburu koleksi patung dan ukiran khas Dayak dari mancanegara kerap bertandang ke rumahnya.

Alamlah yang membentuk jiwa seninya. Alam yang telah menempa dirinya menjadi pribadi yang mampu berolah rasa dan memaknai setiap peristiwa. Albert memang lahir sebagai pematung. Meski tak pernah mengenyam pendidikan seni secara formal, tapi darah yang mengalir di jari-jarinya adalah darah seorang pematung. “Ini panggilan hidup saya!” tandasnya.

Dari tangannya yang kasar, telah lahir ratusan karya patung dan ukiran. Karyanya telah melalang buana ke berbagai belahan dunia seperti Belanda, Bulgaria, Perancis, Italia, Belgia, dan di kawasan Asia seperti Jepang, Korea, Cina dan Filipina.

Dan, Albert pun akan terus berkarya memahat kayu-kayu yang disediakan alam. Karya-karyanya itu akan berumur panjang, sepanjang usia Rumah Betang, tempat tinggalnya.
  

12 Jul 2013

Hikayat “Rumah Raksasa” di Tepian Sungai Utik

TERSEBUTLAH sebuah kampung bernama Sungai Utik di wilayah Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Nama Sungai Utik diambil dari sungai yang mengairi daerah ini sepanjang masa. Menurut cerita turun-temurun, Dayak Iban yang kini bermukim di tepian Sungai Utik, dahulu mendiami daerah Lanjak, tak jauh dari perbatasan dengan Malaysia.

Kala itu, mereka meyakini bahwa daerah Sungai Utik adalah tanah penuh harapan. Maka, mereka pun meminta ijin kepada masyarakat Dayak Embaloh yang ‘menguasai’ daerah itu, agar bisa menempati tanah harapan itu.

Ijin pun diterbitkan dengan satu syarat, masyarakat Dayak Iban harus menjauhi peperangan antarsuku. Syarat itu pun diamini masyarakat Dayak Iban. Maka, mereka pun mulai berpindah dari Lanjak ke Sungai Utik pada awal 1800-an. Beberapa kali, mereka memindahkan Rumah Bentang ini. Rumah Betang yang saat ini berdiri, dibangun pada era 1970-an dan telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

Untuk mencapai Rumah Betang ini butuh perjalanan panjang. Jika menggunakan jalur darat, perjalanan dari Pontianak, ibukota Kalimantan Barat harus ditempuh sejauh 647 kilometer atau sekitar 24 jam perjalanan. Jika tak mau terlalu lelah, perjalanan bisa menggunakan pesawat terbang dari Bandara Supadio Pontianak menuju Putusibau. Dari Putusibau, perjalanan dilanjutkan dengan perjalanan darat sekitar dua jam. Atau jika mau tantangan yang lebih ekstrem, bisa menggunakan jalur sungai dari Putusibau menuju tempat ini. Sepanjang perjalanan menuju tempat ini, panorama hutan belantara yang masih asri akan menjadi suguhan yang memanjakan mata.

Rumah Betang atau orang setempat menyebutnya ruma panjae ini membujur sepanjang 200 meter dengan 37 pintu. Pintu merupakan istilah untuk satu bilik dalam Rumah Betang. Di antara bilik terdapat sebuah jendela yang menghubungkan bilik yang satu dengan lainnya. Sekitar 70 keluarga hidup bersama dalam rumah ini.

Dari masa ke masa, masyarakat Dayak Iban menghidupi tradisi sembari menjaga kelestarian hutan. Kearifan tradisional ini pun membuahkan hasil. Wilayah ini ditetapkan sebagai desa adat pertama yang meraih penghargaan sertifikat ekolabel dari Lembaga Ekolabel Indonesia.
Maka, selama hutan masih lestari dan Sungai Utik masih mengalir, kehidupan masyarakat Dayak Iban masih penuh harapan. Seperti harapan para leluhur mereka, kehidupan masyarakat Dayak Iban masih akan terus membujur sepanjang Rumah Betang, tempat tinggal mereka.

Mamasi, Penghormatan ala Dayak Taman

SORE mulai bertandang. Gelap pun hampir menjelang. Setelah menempuh perjalanan selama 13 jam, kami tiba di depan Rumah Betang Bali Gundi di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Ya, perjalanan dari Pontianak, ibukota Kalimantan Barat hingga Kapuas Hulu bagai menyusuri Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia ini dari hilir hingga ke hulu.

Tetabuhan kankuang, alat musik gong dengan beragam ukuran, menyambut tetamu. Beberapa penghuni Rumah Betang, baik tua maupun muda, menari mengikuti irama tetabuhan. Mereka berdandan layaknya sebuah pesta. Mereka mengenakan baju berbahan manik-manik aneka warna. Kemeriahan warna berpadu padan dengan alunan musik tradisional Dayak. Sementara, senyum dan binar mata anak-anak mengintip dari celah-celah pagar kayu di sepanjang Rumah Betang, yang memiliki panjang sekitar 150 meter dengan 23 bilik.

Ada banyak tangga untuk mencapai lantai Rumah Betang. Namun, saat digelar upacara adat, hanya satu tangga yang boleh dipakai, yakni tangga utama atau yang biasa disebut hejot.

Malam itu, masyarakat Dayak Taman di Betang Bali Gundi ini hendak menggelar upacara adat Mamasi. Mamasi adalah upacara adat penghormatan tertinggi masyarakat Dayak Taman. Upacara penghormatan ini diberikan dari seseorang atau beberapa perempuan kepada orang yang dianggap satria, seorang tokoh yang arif dan bijaksana, seorang dermawan, atau pahlawan yang telah berjasa bagi daerah, bangsa, dan negara. Menurut masyarakat setempat, tujuan mamasi, selain memberikan penghormatan, juga memohon berkat agar keturunan yang lahir di Rumah Betang ini meneladan orang-orang yang di-amasi.

Sebelum acara mamasi digelar, tetamu disambut dengan hidangan makan malam. Makan bersama ini diadakan di lorong pintu yang menghubungkan antarbilik. Hidangan malam itu adalah daging kerbau yang dimasak dengan santan kelapa ditemani tempoyak, sambal yang dicampur dengan buah durian.

Usai santap malam, mamasi dimulai. Tiba-tiba..., dorrr..., dorrr..., dorrrr.... Tembakan lantak, bedil tradisional Dayak memecah suasana, sebagai tanda mamasi segera dimulai. Pelita-pelita temaga dinyalakan sebagai simbol syukur atas kehidupan. Tetabuhan kankuang dimulai mengiringi prosesi.

Prosesi mamasi diawali dengan mendudukan pria yang akan di-amasi di atas gong besar atau kankuang. Mereka berhadapan dengan perempuan-perempuan yang akan mamasi. Sementara, para tetua adat, baik pria maupun perempuan berada di antara mereka. Lalu, beberapa orang muda membawa dung taapan, tampi besar yang ditutup dengan kain berwarna kuning sepanjang dua meter. Tampi itu diletakkan di depan para pria yang akan di-amasi. Dung taapan ini merupakan tanda penghormatan yang harus dibawa pulang oleh mereka yang di­-amasi.

Di dalam tampi yang tertutup kain kuning itu terdapat jerat tangan atau gelang dengan biji manik-manik, indulu amas-amas atau mahkota dari daun enau dan dua bulu ekor burung Enggang, pakaian, piring dan mangkok, tampuling atau mata kail, buah kelapa, garam, serta beragam makanan dan minuman.
 
Upacara dimulai dengan mengikat jerat tangan ke tangan kanan mereka yang di-amasi dan mamasi oleh para tetua adat. Jerat tangan berupa gelang ini terbuat dari akar tumbuhan liar yang hidup merambat di bukit-bukit. Akar ini dipilih lantaran memiliki kekuatan yang lebih dibanding akar tumbuhan lain. Jerat tangan ini mengandung makna agar yang di-amasi dan mamasi memiliki umur panjang, kekuatan, kesehatan, keselamatan, serta mendapat rejeki yang berlimpah.

Setelah itu, tetua adat memasang indulu amas-amas atau mahkota kebesaran di kepala yang di-amasi dan di-mamasi. Mahkota ini terbuat dari daun enau muda. Daun enau dipilih, karena memiliki warna yang bagus, mudah dibentuk, dan awet. Mahkota ini dihiasi bulu burung Enggang, yang menurut kepercayaan masyarakat Dayak Taman merupakan burung yang suci.

Saat mahkota dipasang di kepala, bunyi kankuang mengeras. Para lelaki berteriak managkio, sementara kaum hawa memekik pajiji. Suara mereka bersahut-sahutan. Ini merupakan puncak penghormatan tertinggi.

Lalu, mereka yang di­-amasi dan mamasi minum dan saling menukarkan delapan jenis minuman khas masyarakat Dayak Taman. Minuman itu antara lain, air maram atau beram yang terbuat beras ketan dan ragi. Minuman ini merupakan minuman khas masyarakat Dayak Taman sebagai lambang kekuatan dan kebesaran.

Air arak menjadi lambang kemurnian dan kesucian hati dalam berpikir dan bertindak. Air Papa’ yang terbuat dari air tebu dicampur kulit kayu dan diolah hingga mengandung alkohol, sebagai lambang bijaksana dalam memimpin.

Air cabe yang pedas dipilih sebagai simbol kewibawaan dan keberanian memimpin. Air garam bagi masyarakat Dayak Taman menjadi simbol pengawet dan memberikan rasa. Air garam juga sebagai lambang penolakan terhadap segala sesuatu yang busuk atau tidak baik.

Sementara Air Laiya atau air jahe dipercaya sebagai lambang kekuatan dan kekerasan dalam menghadapi segala rintangan hidup. Selian itu, air jahe juga digunakan sebagai obat, sehingga air ini juga menjadi lambang penghindar dari segala kekeliruan dan kelalaian.

Air Pengasi yaitu air santan kelapa yang dicampur gula enau menjadi lambang kepemimpinan yang mengutamakan keharmonisan dan kerukunan. Dan yang terakhir, air minyak kelapa yang merupakan simbol kejujuran dalam bicara dan tindakan.

Upacara ini berlangsung cukup lama, lantaran para tetamu yang di-amasi tak terbiasa dengan delapan jenis minuman itu. Namun, semua jenis minuman itu harus dihabiskan. Pekikan terus terdengar memberi semangat. Satu per satu minuman pun habis. Sorak sorai kembali menggema keras sekali.

Ritual mamasi belum usai. Sebagai ungkapan syukur dan sukacita, semua tamu yang hadir di Rumah Betang diundang untuk “berpesta”. Mereka diminta duduk melingkar di balai-balai sepanjang Rumah Betang. Tak lama, beberapa perempuan berbalut baju manik-manik aneka warna ke luar dari sebuah bilik. Mereka membawa sebuah tas. Mereka berjalan satu per satu di belakang para tetamu yang duduk melingkar. Sembari berjalan, perempuan-perempuan ini memberikan makanan kepada para tamu. Setiap perempuan membawa satu jenis makanan. Ada sekitar sembilan jenis makanan yang dibagi-bagi dengan cepat. Dan, semua makanan itu harus segera dihabiskan oleh para tamu. Pesta ini disebut pasiap.
 
Meski malam kian larut, pesta belum berujung. Usai pasiap, mereka yang di-amasi dan mamasi wajib menari bersama. Mereka menari beriringan dari ujung Rumah Betang ke ujung yang lain, didahului oleh para tetua adat. Tetabuhan terus bertalu-talu. Tua muda, perempuan laki-laki, semua berbaur menjadi satu dalam alunan tabuhan dan tarian.

28 Jan 2011

Gerakan Rajin Menjamah

Peribahasa berkata, “surga ada di bawah telapak kaki ibu.” Ya, tentu tanpa mengecilkan peran laki-laki, lewat telapak-telapak kaki dan tangan seorang ibu, surga di bumi ini dapat tercipta. Alam kadang juga diidentikkan dengan kaum perempuan. Merekalah yang mengandung, melahirkan, dan merawat kehidupan. Tak heran jika alam disebut sebagai Ibu Pertiwi, bumi (mother earth). Mungkin juga tak salah jika menyebut ibu atau perempuan-lah sebenarnya pejuang penyelamat bumi.

Peran seorang ibu yang sejatinya paling tahu rumahnya. Bapak membuat house, sementara ibu membangun home. Dari peran itu, sosok seorang ibu memiliki peluang lebih besar untuk mengajak anggota keluarga lain melakukan gerakan rajin menjamah (ramah) lingkungan. Banyak yang bisa dilakukan seorang ibu dimulai dari rumah sendiri. Mulai dari perkara-perkara kecil di rumah. Mari simak bersama dan praktikkan saat ini juga!


Hanya isu?
Lihatlah sekeliling kita! Iklim dan cuaca yang sudah mulai tidak teratur. Musim hujan danusantara. Beberapa kawasan kota masih terendam banjir, sementara di kota lain mengalami kekeringan dan kesulitan air bersih. Udara kota kian terpapar polusi. Pun polusi suara yang semakin memekakkan gendang telinga. Semua itu sedang berlangsung di hadapan kita. Isu perubahan iklim bukanlah isapan jempol semata. Apakah kita masih bisa berkata, bahwa pemanasan global hanyalah isu belaka? Berbagai fakta dan data telah menunjukkan, lingkungan hidup tengah menuju “bunuh diri ekologis”.

Untuk menyelamatkan kehidupan kita di bumi, yang perlu diubah adalah gaya hidup yang kembali selaras dengan alam (ramah lingkungan). Mulai dari diri sendiri, keluarga terdekat, lingkungan terkecil. Mulai dari hal terkecil dan sederhana, hari ini juga.


Sampah

Pertama, sampah rumah tangga adalah penyumbang sampah paling besar. Maka, urailah sampah sejak dari sumbernya. Mulailah dari dapur. Sampah bisa langsung dipilih dan dipilah, menjadi sampah organik (sampah yang bisa terurai) seperti sisa makanan, sayuran, dan buah; serta sampah anorganik (tak dapat diurai) seperti bekas bungkusan yang terbuat dari plastik, botol, atau kaleng.

Kedua, sampah organik dapat ditampung di lubang-lubang biopori atau tong pengolah kompos. Setelah dua minggu, kompos dapat dipakai memupuk tanaman di taman atau pot-pot kembang cantik.


Ketiga, sampah anorganik merupakan barang berharga yang masih dapat didaur-ulang menjadi barang multi guna. Botol-botol bekas masih dapat digunakan berulang kali. Kaleng dapat menjadi celengan atau pot-pot bunga yang mungil. Plastik dan kertas atau barang lainnya dibungkus yang rapi, dan disiapkan agar mudah diambil para pemulung. Jangan biarkan ruangan rumah menjadi gudang besar yang disesaki barang-barang yang sudah tidak bisa digunakan.


5 R

Kurangi penggunaan bahan-bahan yang berpotensi merusak lingkungan (reduce), menggunakan ulang barang-barang yang tidak terpakai lagi (reuse), mendaur ulang barang yang tidak dapat dipakai menjadi barang baru yang berguna (recycle). Lalu, menolak membeli barang yang akan berakhir sebagai sampah atau dapat merusak lingkungan (refuse), dan memperbaiki barang untuk dapat digunakan kembali (repair).


Pilih transportasi bijak
Pertama, kurangi kemacetan lalu lintas, terutama di kota-kota besar, yang semakin parah, sekaligus mengurangi pencemaran udara dengan pemakaian kendaraan pribadi yang lebih bijak. Seperti satu mobil untuk mengantar jemput seluruh anggota keluarga atau bepergian bersama keluarga di akhir pekan. Satu mobil untuk beramai-ramai.


Kedua, untuk jarak yang relatif dekat, biasakan diri berjalan kaki atau bersepeda. Badan menjadi lebih sehat dan terasa segar, serta sedikit mengurangi pencemaran udara. Untuk menempuh jarak yang sedang hingga jauh, gunakan bus, kereta api, atau alat transportasi massal lainnya, serta dipadu dengan bersepeda atau berjalan kaki.


Belanja cerdas


Saat berbelanja, belilah dan gunakan produk-produk daur ulang yang sudah banyak tersedia dengan harga yang terjangkau. Jangan lupa, selalu sediakan tas kain untuk berbelanja, daripada menggunakan tas-tas plastik yang akan menjadi sampah dan perlu waktu penguraian ratusan tahun.


Hemat Air

5 R juga bisa dilakukan pada air. Gunakan seperlunya saja (reduce), misal menggunakan ulang air bekas yang masih cukup bersih untuk keperluan lain. Air bekas cucian sayuran atau buah-buahan, tentu masih dapat digunakan untuk menyiram tanaman di taman (reuse). Mendaur ulang air untuk kebutuhan lain (recycle), mengisi kembali persediaan air tanah

dengan sumur resapan air atau lubang biopori (recharge), dan mendorong perbaikan sumber-sumber air seperti mata air, situ, atau sungai (recovery).


Jangan lupa pula, tutup keran bila tidak digunakan lagi. Menghemat air saat cuci tangan dan cuci gelas/ piring, pilih dual flush untuk toilet, pasang keran air bersensor, selalu habiskan air yang kita minum, dan buat sumur resapan air di halaman rumah.


Pandai listrik

Pakailah produk-produk elektronik yang hemat listrik. Matikan lampu di siang hari atau sudah tidak diperlukan lagi. Mematikan peralatan komputer dan alat elektronik lainnya, jika tidak digunakan. Jangan meninggalkan peralatan listrik dalam keadaan stand by, karena listrik masih terpakai.


Perhatikan bukaan pintu, jendela, lubang atap (skylight), dan lubang angin di rumah. Buatlah lubang-lubang ventilasi di rumah, agar udara dalam ruang terasa segar dan terang sepanjang hari.


Hijaukan halaman

Pertama, jika lahan di rumah kita masih cukup luas, buatlah taman di depan, belakang, atau samping rumah. Namun, jika lahan rumah yang kita miliki terlalu sempit, pergunakanlah pot-pot kecil untuk menghijaukan halaman rumah. Buatlah jalur hijau di depan rumah kita. Upayakan agar ruang-ruang dalam rumah menghadap taman dan hiasi dengan tanaman pot cantik. Sehingga, meskipun kita berada dalam rumah, kita dapat memandang hijau-hijau daun dan warna-warni bunga yang menyegarkan mata


Kedua, tanamlah pohon besar sebisa dan sebanyak mungkin. Pohon adalah paru-paru alam yang memproduksi oksigen untuk bernapas. Ketiga, ajaklah seluruh anggota keluarga untuk melakukan kegiatan-kegiatan ini. Kita juga bisa mengajak tetangg

a di kanan kiri rumah kita. Catat hasil kegiatan, evaluasi bersama, perbaiki, serta tingkatkan yang sudah berhasil.


Melalui tangan-tangan ibu yang “rajin menjamah” lingkungan, gerakan sederhana ini dapat dimulai. Mulai dari dapur, kamar tidur, kamar mandi, ruang tamu, halaman rumah, hingga meluas ke para tetangga. Kecil, sederhana, namun berdampak. Sehingga kita bisa menikmati surga hijau di rumah, di halaman, dan di sekitar kita. Mulailah dengan perkar a-perkara kecil, saat ini juga!




26 Jan 2011

Membuat Monumen Hidup

Setiap tahun, tetumbuhan di bumi ini mempersenyawakan sekitar 150.000 juta ton karbondioksida (CO2) dan 25.000 juta ton hidrogen dengan membebaskan 400.000 juta ton oksigen (O2) ke atmosfer. Dan satu hektar daun-daun hijau mampu menyerap delapan kilogram CO2 atau setara dengan CO2 yang dihembuskan oleh 200 manusia dalam waktu yang bersamaan. Atau setara juga dengan CO2 dari 20 kendaraan bermotor.

Setiap pohon yang ditanam juga mempunyai kapasitas mendinginkan udara di sekitarnya, yang ekuivalen dengan rata-rata lima pendingin udara (AC) yang dioperasikan 20 jam terus-menerus. Dan setiap 93 m2 pepohonan mampu menyerap kebisingan suara sebesar delapan desibel (Zoer’aini Djamal Irwan, 1996).

Data di atas menunjukkan betapa pentingnya tetumbuhan yang hidup berdampingan dengan kita. Namun, data tersebut segera menemui kebuntuan ketika kita melihat kenyataan yang terjadi di lapangan. Apalagi di daerah perkotaan.

Di daerah perkotaan kita melihat, begitu luas lahan pertanian produktif atau ruang terbuka hijau yang telah ditanami tiang-tiang pancang untuk mendirikan bangunan berbeton. Mall, apartemen, ruko, atau perumahan. Itulah ‘monumen-monumen mati’. Dan, kita pun dipaksa untuk menyaksikan, menghirup, dan hidup berdampingan dengan “monumen-monumen mati” itu. Monumen yang selalu menghembuskan asap polusi dan menyanyikan lagu-lagu yang memekakkan telinga. Kita pun harus hidup berdampingan dengan krisis lingkungan dan siap untuk memanen panasnya udara, polusi, kebisingan, kekeringan atau kebanjiran.

Melihat begitu pentingnya fungsi tetumbuhan di bumi dalam menangani krisis lingkungan, terutama di daerah perkotaan, maka sangat tepat jika keberadaan hutan kota (urban foresty) mendapat perhatian yang serius dalam pelaksanaan pembangunan tata kota.

Hutan kota berfungi sebagai, pertama, paru-paru kota, kedua, pengatur lingkungan mikro dan penyeimbang alam (adaphis). Vegetasi yang ada akan memunculkan hawa lingkungan setempat menjadi sejuk, nyaman, dan segar, serta sebagai tempat pembentukan hidup bagi berbagai satwa. Ketiga, perlindungan (protektif) terhadap kondisi fisik alami sekitar (seperti angin kencang, paparan terik matahari, gas atau debu-debu). Keempat, keindahan (estetika) kota. Dan, kelima, sebagai sarana rekreasi dan pendidikan.

Menurut Fukuara (1988), hutan kota adalah ruang terbuka yang ditumbuhi vegetasi berkayu di wilayah perkotaan yang memberikan manfaat lingkungan sebesar-besarnya kepada penduduk kota. Mengingat tumbuhan sebagai produsen pertama dalam tata ekosistem dan fungsi hutan kota sangat bergantung pada vegetasi yang digunakan. Maka tidaklah perlu mempersoalkan luas lahan sebagai syarat utama hutan kota. Yang terpenting adalah jumlah dan keanekaragaman vegetasi yang ditanam.

Dan untuk menciptakan sebuah hutan kota yang dapat berdiri kokoh dan lama, maka perlu memperhatikan; pertama, pilihlah bibit generatif, karena bibit ini memiliki akar tunggang dan dapat hidup lebih lama dibandingkan dengan bibit vegetatif. Kedua, media tanam harus dipersiapkan terlebih dahulu, paling tidak seminggu sebelum proses tanam. Ketiga, perawatan pasca-tanam, seperti penyiraman dan pemupukkan. Dan, keempat, political will dari pemerintah yang mengajak masyarakat untuk menciptakan lingkungan kota yang hijau.

Dengan menciptakan hutan kota, meskipun sempit, kita sebenarnya tengah membangun ‘monumen-monumen hidup’. Monumen yang terus hidup dan kelak akan bermanfaat bagi generasi mendatang.


29 Mei 2009

Yusuf Daud; Berjalan Menuju Roma

Senin, 6 Oktober 2008 menjadi hari bersejarah bagi Yusuf Daud. Itulah hari pertama, kakinya menginjak Kota Abadi, Roma, Italia.

KETIKA sampai di bandara, Yusuf, demikian ia kerap disapa, telah dijemput seorang pastor asal Indonesia. Sambutan ala Italia pun segera digelar, yakni minum cappucino. Usai melepas lelah, Yusuf bergegas menuju Basilika St Petrus Vatikan. Saat menjejakkan kaki di Basilika St Petrus, Yusuf merasakan sebuah tarikan energi yang sangat kuat. Batinnya berujar, “Energinya sangat kuat. Sama seperti saat saya masuk Masjidil Haram di Mekkah.”

Yusuf adalah mahasiswa Muslim asal Indonesia yang pertama kali mendapat beasiswa dari Nostra Aetate, sebuah lembaga kepausan yang peduli pada hubungan antaragama. Selama satu semester, bapak tiga anak ini berada, hidup, bergaul, belajar dan bergumul di Vatikan. Seluruh biaya hidup, sewa apartemen dan keperluan kampus ditanggung pemberi beasiswa. Tak tanggung-tanggung, ia belajar di tiga universitas ternama; Universitas Gregoriana, Angelicum dan Pisai. “Saya betah tinggal di Vatikan. Maunya sih lama. Saya seperti ‘raja’. Walau beda agama, beda bangsa, tapi saya diterima dengan penuh kasih sayang,” ujar pria kelahiran Jakarta, 4 November 1974 ini.

Ke Vatikan
Semua itu bermula, ketika suatu hari di akhir 2006, Yusuf berkenalan dengan Sr Gerardette Philips RSCJ. Perkawanan itu pun kian karib. Apalagi, Sr Gerard kerap berbagi pengalaman di Sufi Centre Myskatul al-Anwar Padepokan Thaha, tempat Yusuf berkarya sebagai kepala departemen hubungan internasional. Padepokan Thaha, yang terletak di Jl. Suryo No. 2 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan ini dirintis Kyai Haji Rahmat Hidayat sejak tahun 1992.

Menurut Yusuf, padepokan ini mengajarkan nilai-nilai universalitas dan spiritualitas Islam. Pada waktu tertentu, padepokan ini juga mengundang tokoh-tokoh agama lain. “Kita ingin mewujudkan Islam yang rahmatan lil‘alamin. Islam yang menjadi rahmat bagi siapa saja,” urai pria yang pernah bekerja di beberapa hotel ini.

Nah, suatu hari, Sr Gerard menawari Yusuf mengambil beasiswa kuliah di Vatikan. Yusuf tersentak mendapat tawaran itu. Ia sungguh tak menyangka. “Kalau ke Mesir, Libya, atau Arab, itu sudah biasa, karena saya seorang Muslim. Tapi, ini tawaran ke Vatikan, markas besarnya orang Katolik. Ini sungguh luar biasa!” ucapnya bersemangat.

Yusuf pun segera mempersiapkan segala sesuatunya, mengirim dokumen persyaratan, mengikuti tes tertulis dan wawancara, hingga mendapatkan rekomendasi dari Kedutaan Besar Vatikan untuk Indonesia di Jakarta. “Alhamdulilah... Puji Tuhan, saya lulus dan bisa berangkat ke Vatikan,” ungkapnya.

Selama di Vatikan, Yusuf tak hanya belajar tentang kekatolikan di bangku kuliah. Ia, seperti tak mau diam. Ia ingin memanfaatkan waktu yang pendek itu untuk mempelajari segala sesuatu tentang kekatolikan. Ia ingin merasakan tiap denyut kehidupan di Vatikan. Setiap ada kegiatan yang diadakan para biarawan/biarawati asal Indonesia di Vatikan, Yusuf pasti terlibat. Ia pun selalu hadir pada Perayaan Ekaristi yang dipimpin Paus Benediktus XVI. Di sela-sela kuliah, ia juga kerap bertandang ke biara-biara. “Ketika bertemu, berbicara, atau berdiskusi dengan saudara-saudara saya yang Katolik, saya merasakan, di situlah dialog antaragama sedang terjalin,” ujarnya.

Bertemu guru
Sebelum pergi ke Vatikan, Yusuf memendam sebuah mimpi. Mimpi itu telah terjalin saat Sr Gerard memberinya piagam yang ditandatangani Paus Benediktus XVI. Saat menerima piagam itu, Yusuf menorehkan sebuah kalimat di piagam itu. “Tuhan, berikan saya kesempatan untuk menemui seorang pemimpin agama dunia, yakni Paus Benediktus XVI,” tulisnya.

Akhirnya, mimpi Yusuf terwujud. Rabu pagi, 4 Februari 2009, Yusuf terlihat berpakaian rapi. Ia pun segera bergegas ke sebuah aula di mana Paus menggelar audiensi umum. Ia hanya ingin bertemu Paus dari jarak yang dekat. Tak disangka, ia mendapat bangku paling depan, paling dekat dengan Paus. Usai audiensi umum, sekitar pukul 10.30, Paus berjalan menghampiri hadirin yang duduk paling depan. Jantung Yusuf berdegup keras. “Mimpiku akan terwujud!” teriaknya dalam hati.

Dan, ternyata benar. Paus menghampiri dan menyodorkan tangan. Yusuf segera merengkuh tangan Paus dengan kedua tanganya dan mencium penuh takzim. Tak hanya itu. Paus memberi sebuah cenderamata berupa Rosario dan sempat bercakap dengan Yusuf. “Saya Yusuf Daud, Muslim dari Indonesia,” ujarnya kala itu pada Paus. “Walau berbeda, mari kita melakukan yang terbaik bagi kebaikan dunia,” kata Yusuf menirukan pesan Paus.

Setelah Paus berlalu, Yusuf duduk termenung. Tak sadar, air matanya keluar dari pelupuk matanya. Mulutnya seperti tak mampu melontarkan kata-kata lagi. “Mimpiku sungguh terwujud!” ujar batinnya. Yusuf mengaku, itulah puncak perjalanannya selama di Vatikan.
Paus Benediktus XVI, bagi Yusuf adalah sosok yang menjadi inspirasinya, sosok guru yang menebarkan jala penuh kasih sayang. Meski bertemu singkat, Yusuf mendapat segenggam semangat untuk menyebarkan nilai-nilai kasih sayang dan cinta pada semua orang. Bahkan, Rosario pemberian Paus pun masih ia genggam. “Saya sering memakainya sebagai tasbih. Walau ada salib di situ, tak jadi soal. Bukan bermaksud mencampuradukkan agama,” akunya. Salib, bagi Yusuf, adalah simbol yang penuh makna. Menurutnya, setiap manusia memanggul ‘salib’ masing-masing menuju Bukit Golgota. “Bukit Golgota itu ya rumah Tuhan,” imbuhnya.

Ke rumah Tuhan

Setelah enam bulan belajar di Vatikan, Yusuf kembali ke Tanah Air pada Selasa, 17 Februari 2009. Rekan-rekannya, terutama di Padepokan Thaha telah menantinya. Mereka menanti kisah-kisah Yusuf selama di Vatikan. Yusuf pun pulang dengan seonggok cita-cita.

Yusuf ingin mengembangkan dialog antaragama hingga akar rumput. Tidak hanya berhenti pada dialog antar elite atau pemuka agama saja. Maka, menurutnya, para pemuka agama harus memberikan pemahaman, bahwa agama boleh beda, tapi nilai yang di tuju sama, yakni nilai kemanusiaan yang menuju pada Tuhan. Dialog antaragama juga tak melulu soal teologi, spiritualitas, atau filsafat, tapi juga soal pendidikan, kemiskinan, atau kesehatan. “Itu sebenarnya sudah dikembangkan di Padepokan Thaha,” urainya.

Ia juga berpendapat, masih banyak pemuka agama yang hanya mengajar umatnya hanya sisi lahiriah atau syariatnya saja dan mengabaikan sisi yang lebih dalam lagi, yakni sisi hakikat dari sebuah agama. “Jika hanya mengajarkan syariat saja, maka akan banyak terjadi benturan dengan agama lain. Karena, syariat itu akan berujung pada hukum. Dan, hukum pasti mencari yang benar dan yang salah,” paparnya.

Padahal, menurut Yusuf, jika mengajar hingga hakekat, maka ketika terjadi kesalahan, tidak mudah menyalahkan. “Agama tak hanya soal hukum. Agama tak hanya syariat. Agama itu juga cara manusia berteknologi. Agama itu juga cara bercocok tanam. Agama itu juga cara berkomunikasi. Agama itu bagaimana kita menerima semua makhluk Tuhan dengan penuh kasih sayang. Jadi, kalau agama tidak mengajak manusia berpasrah total hanya kepada Tuhan, itu bukan agama!” urainya.

Meski berbeda, kata Yusuf, tiap agama mengajarkan tentang kedamaian dan cinta. “Hanya ‘kendaraan’nya saja yang berbeda. Tapi, tujuannya sama,” ungkapnya. Yusuf pun menyitir satu peribahasa, ‘banyak jalan menuju Roma’. “Ya, Roma itu maksudnya rumah Tuhan. Agama boleh berbeda-beda, tapi tujuannya satu, yakni Tuhan,” imbuhnya.

11 Des 2008

Prof. Anita Lie: Menapaki Jalur Spiritualitas Guru

Suatu ketika, seorang muda meminta saran mengenai bidang studi atau karir yang paling baik untuk ditekuni. Lantas, seorang guru perempuan mendorong orang muda itu untuk mengingat dan menggali impian masa kecilnya.

GURU perempuan itu adalah Anita Lie. Seorang pakar pendidikan dari Kota Pahlawan, Surabaya, Jawa Timur yang pada 16 Februari 2008, dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Kurikulum Pendidikan di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Pencapaian gelar terdidik dalam dunia akademik ini, tak lepas dari masa kecilnya. “Pencapaian ini adalah satu titik di tengah perjalanan saya menggapai impian masa kecil,” perempuan kelahiran Surabaya, 1 Juni 1964 ini berujar.

Anita --panggilannya-- semasa kanak-kanak paling gemar bermain sekolah-sekolahan. Anita kecil kerap didapuk peran sebagai guru. Tak disangka, mimpinya terajut nyata. Anita menapaki perjalanan karir, profesi dan panggilan sebagai seorang guru. Sebuah pilihan yang tak biasa dalam keluarga besarnya. Ia satu-satunya yang membuat pilihan itu.

Tempat sakral
Menjadi guru, kata Anita, adalah suatu penjelajahan dan perjalanan emosional, intelektual, dan spiritual. Guru mengandung makna yang luas. Dalam bahasa Sansekerta, guru, lebih dari seorang pengajar. Guru adalah juga seorang ahli, konselor, sahabat, pendamping dan pemimpin spiritual. Sebagai kata benda, guru berarti tempat sakral ilmu pengetahuan. Sebagai kata sifat, guru berarti berbobot karena ilmu pengetahuan dan kearifan spiritual. Guru menggambarkan suatu metafora peralihan dari kegelapan menuju terang. Suku kata ‘gu’ berarti kegelapan dan ‘ru’ berarti terang. “Jadi, guru bermakna membebaskan dari kegelapan, karena ketaktahuan dan ketaksadaran,” papar umat Paroki Gembala Yang Baik Surabaya saat ditemui di Jakarta beberapa waktu lalu.

Menyitir novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, Anita mengatakan, guru yang pertama kali membuka mata kita akan huruf dan angka-angka, sehingga kita pandai membaca dan menghitung, tak akan putus-putus pahalanya hingga akhir hayatnya. Dan, tak hanya itu yang dilakukan seorang guru. Ia juga membuka hati kita yang gelap gulita.
Belenggu pendidikan

Satu permasalahan mendasar sistem pendidikan nasional, menurut ibu satu anak ini, adalah dehumanisasi pendidikan. Pendidikan seharusnya menghormati dan menghargai martabat manusia dengan segala hak asasinya. Peserta didik harus tumbuh dalam kemanusiaannya sebagai subjek melalui proses pendidikan. “Tapi, yang sedang terjadi justru sebaliknya. Ada terlalu banyak contoh yang menunjukkan, betapa peserta didik sudah diperlakukan sebagai objek demi kepentingan ideologi, politik, industri, dan bisnis,” paparnya kritis.

Ironisnya, guru tak mampu mengembangkan kesadaran dan menghentikan gejala dehumanisasi ini dan membebaskan peserta didik dari kegelapan. Karena, para guru sendiri juga terjebak sebagai objek dalam sistem pendidikan nasional. Anita pun membeberkan persoalan yang membelenggu guru. Pertama, dengan gaji dan tunjangan yang tak memadai, guru menjadi sibuk mencari penghasilan tambahan, sehingga mengabaikan tugas dan tanggung jawab sebagai pendidik. Kedua, dengan jam mengajar yang panjang dan tugas administratif yang membebani, guru tak punya waktu mengembangkan diri. Ketiga, sebagai objek dalam sistem pendidikan nasional, membuat sebagian guru tak mampu mengelola emosi negatif, sehingga harus mengumpat di kelas atau memperlakukan peserta didik dengan kasar. Keempat, sebagian guru melakukan pelanggaran etika sebagai pendidik dengan memberikan les privat bagi peserta didik. Bahkan, membocorkan soal ulangan, menjual buku-buku ajar dengan berharap mendapat komisi, ikut terlibat dalam tindak manipulasi dan korupsi oleh birokrasi pendidikan atau pengelola sekolah. Kelima, belenggu kemiskinan finansial, intelektual, emosional, dan kultural, membuat guru kehilangan identitas dan integritas. “Semua itu membuat pekerjaan sebagai guru tak lagi dilandasi spiritualitas profesi dan tak menjadi bagian dari perjalanan kemanusiaan,” tegas Anita.

Budaya ketakutan
Selain itu, menurut Anita, dunia pendidikan juga telah dibelenggu dan beroperasi dalam budaya ketakutan. Ketakutan terhadap sistem dengan segala perangkatnya. Takut pada kekuasaan lembaga yang menggelar evaluasi dengan Ujian Nasional. Takut pada program sertifikasi guru. Takut pada kepala sekolah. “Ketakutan ini telah menghambat guru menjadi dirinya sendiri secara utuh,” tegasnya. Lebih jauh lagi, keterbelengguan sistem dan ketakutan pada kemiskinan, juga membatasi guru untuk menggali, menjelajahi, dan menemukan nilai-nilai kebenaran dalam ilmu pengetahuan.

Ketakutan ini juga berimbas pada peserta didik. Peserta didik takut pada ulangan dan ujian, takut pada hukuman, takut menjadi bahan cemooh teman-teman sekelas, dan takut tidak naik kelas. Ketakutan-ketakutan ini telah memisahkan guru dari peserta didik.

Sebagai seorang guru, ada beragam cara yang dipakai Anita untuk mengurai ketakutan itu. Ia mencoba mengembangkan metodologi dan teknik mengajar. Ia mencoba dan bermain-main dengan cooperative learning, multiple intelligences, learning styles, dan sebagainya. Ia berharap, dengan beragam metode itu, dapat menjadi senjata dan tameng, agar tampak terampil dan kompeten di depan kelas dan sesama rekan guru. Perangkat-perangkat itu pun, ia bagikan pada sesama guru di acara-acara pelatihan. “Namun, setelah makin lama masuk dalam perjalanan sebagai guru, saya melihat, bahwa betapa pun pentingnya metode dan teknik mengajar, perangkat adalah tetap perangkat. Guru harus menggunakan perangkat bukan untuk menutupi ketakutan, tapi sebagai jembatan untuk menyapa dan membuka hati setiap peserta didik,” ujarnya.

Bagi Anita, pengalaman menguraikan ketakutan adalah bagian dari perjalanan spiritual seorang guru. Banyak tradisi spiritual berupaya mengatasi dampak ketakutan, termasuk agama. Seruan ‘Jangan takut!’, ada dalam berbagai agama. “Ajaran berbagai agama mengajak untuk mengatasi ketakutan dengan satu harapan. Lepas dari kehancuran dan mendapatkan berkat ketika perjumpaan dengan manusia lain tak mengancam, tapi memperkaya pekerjaan dan kehidupan,” imbuhnya.

Guru sejati
Meniru ungkapan Driyarkara, Anita mengatakan, guru bukan buruh. Menjadi guru sejati merupakan panggilan hati. Bagi seorang guru sejati, tugas utamanya adalah membantu anak didik berkembang menjadi manusia yang lebih utuh. Dia dipanggil untuk melakukan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Betapa pun pergumulan memperjuangkan tingkat kesejahteraan yang layak bagi guru, yang membedakan guru sejati dengan yang tidak, adalah cara memaknai profesi keguruannya. Yang satu menjalani sebagai panggilan hidup, sedangkan yang lain melakukan pekerjaan untuk mencari nafkah. “Seorang guru sejati, adalah yang membebaskan peserta didik dari kegelapan dan mengarahkan peserta didik menemukan guru sejati yang berada dalam dirinya sendiri,” pungkas Anita.