30 Sep 2018

Yang Tipis, Ringan, dan Mumpuni Dambaan Jurnalis

(foto:y.prayogo)
“Selama di Kalimantan, kamu tetap harus mengirimkan naskah ya!” ujar sang redaktur.


“Siap, Bos!” jawabku spontan.


Ujaran redakturku itu bukanlah hal yang asing di telingaku. Hampir setiap bulan, aku mesti keluar kota, menunaikan tugas sebagai seorang jurnalis. Sebagian Pulau Jawa sudah pernah aku sambangi. Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Kepulauan Maluku, sudah aku jelajahi. Tinggal Papua yang belum aku rambah.


Sebagai jurnalis, waktu kerjaku lebih banyak dihabiskan di luar kantor. Kubikel di kantor pun lebih sering kosong. Aku biasa mengerjakan naskah di mana pun dan kapan pun.


Untunglah, selama ini aku dibekali dengan laptop yang lumayan tangguh. Meskipun sekarang jamannya smartphone, tapi bagi jurnalis, peran laptop belum tergantikan. Laptop masih menjadi perangkat penting di medan karya seorang jurnalis.


Laptop yang selama ini menemaniku sudah berusia uzur. Aku telah menggunakannya sejak sembilan tahun silam. Mungkin nilai ekonomisnya sudah nol. Tapi, ia memang sangat tangguh, mampu menemaniku dalam kondisi apapun. Ia juga mampu diajak kerja super cepat.


Nah, lantaran sudah uzur dan akhir-akhir ini, kinerjanya agak lemot, aku berniat ganti laptop. Memilih laptop tentu tak semudah membalikkan telapak tangan. Aku mesti membuat aneka pertimbangan untuk menjatuhkan kepada satu pilihan. Maka, aku pun mengulik sana-sini, mencari tahu aneka laptop yang sekarang beredar di pasaran, dan tentu disesuaikan dengan budget yang ada di kantong. Tapi, aku juga telah menetapkan pilihan, laptop yang aku cari, mesti tipis, ringan, dan mumpuni.


Dia harus ramping alias tipis, agar lebih ringkas; bisa masuk ke dalam backpack. Intinya, dia tidak terlalu makan tempat di tas, sehingga mudah dibawa ke mana-mana.


Dia juga harus ringan. Mengapa? Kalau terlalu berat, pundak bisa pegel-pegel, Bos! Karena aku kerap bepergian, maka aku mesti memilih laptop yang ringan, jika perlu yang super ringan.


Lalu, dia juga harus mumpuni atau powerful. Sebagai jurnalis, aku memerlukan perangkat yang tangguh dibawa ke segala medan, yang mampu diajak bekerja keras dan tentu cepat.
Setelah mencari-cari sana-sini, bertanya ke banyak orang termasuk ke rumput yang bergoyang, sepertinya aku mesti menjatuhkan pilihan ke ZenBook 13 UX331UAL yang baru dirilis ASUS awal tahun ini.
(channel.asus.com)


Tipis Tapi Kuat
ZenBook 13 UX331UAL merupakan varian lain dari versi UX331UN. Katanya, ini perangkat yang paling menggambarkan inti dari ZenBook, yakni laptop 13,3 inci yang paling ringan. Anggota baru ZenBook ini memiliki ketebalan yang sama seperti saudaranya, ZenBook UX331UN, yakni hanya 13,9 milimeter. Namun soal bobot, ZenBook 13 UX331UAL lebih unggul. Bobotnya tak sampai satu kilogram, tepatnya hanya 985 gram.


Cucok! Tak makan tempat di dalam tas, dan yang penting juga, pundak nggak pegel-pegel.
Meskipun tipis dan enteng, ZenBook 13 UX331UAL telah memenuhi standar military-grade MIL-STD 810G. Ia juga lolos uji daya tahan, sehingga bisa digunakan dalam berbagai kondisi.


ASUS juga memberikan sentuhan modern pada ZenBook 13 UX331UAL, di mana pengguna cukup menghadapkan wajah ke layar atau dengan sentuhan jari di sensor fingerprint, maka dia bisa langsung bekerja. Kecanggihan ini tentu amat mendukung kerja-kerja jurnalistik di medan karya yang membutuhkan kecepatan.
(channel.asus.com)
Ringan Tapi Tangguh
ZenBook 13 UX331UAL didesain agar menjadi yang paling portabel. Maka, bobot pun menjadi prioriatas. Material magnesium aluminium alloy memberikan ZenBook 13 UX331UAL menjadi yang paling ringan dalam keluarga ZenBook.


Meskipun ringan, ASUS tak berkompromi terkait performa. Maka, ZenBook 13 UX331UAL diperkuat dengan prosesor tercepat Intel Core i generasi kedelapan. Prosesor tercepat itu dipadupadankan dengan RAM tercepat pula, DDR4 2133MHz, serta teknologi penyimpanan berkecepatan tinggi dan handal berbasis M.2 SSD.


Dan bagi seorang jurnalis, satu hal yang paling penting adalah kemampuan Wi-Fi. Tahu kebutuhan ini, ASUS mempersenjatai ZenBook 13 UX331UAL dengan fitur Wi-Fi Master. Dengan Wi-Fi Master, para pengguna ZenBook 13 UX331UAL bisa menikmati streaming video FullHD YouTube yang lebih lancar pada jarak 300 meter atau lebih. Jarak ini sekitar 65 meter lebih jauh dibandingkan dengan laptop lain pada umumnya.



(channel.asus.com)
Berpadu dengan teknologi dual-band 802.11ac, Wi-Fi Master juga menawarkan kecepatan hingga 867Mbps atau sekitar enam kali lebih cepat dibanding single-stream 802.11n. Hal ini tentu amat mendukung para pengguna yang kerap bekerja di luar kantor, seperti saya, seorang jurnalis. Daya tahan baterai ZenBook 13 UX331UAL juga amat handal dan mumpuni. Dari berbagai hasil pengujian, saat ZenBook 13 UX331UAL digunakan secara multitasking non stop, baterai pada ZenBook 13 UX331UAL sanggup memasok daya hingga 4 jam 43 menit. Bahkan, ASUS mengklaim baterai ZenBook 13 UX331UAL sanggup bertahan hingga 15 jam.


Setelah melihat, menerawang, dan meraba ZenBook 13 UX331UAL, tunggu apalagi! Laptop generasi terbaru dari ZenBook besutan ASUS ini memang layak untuk pengguna yang sering "kelayapan" keluar kantor.

14 Nov 2017

Sewa Menyewa Hunian Jangkung

(dok.jendela360)
TOK... tok... tok.... Bunyi pintu diketuk. Si tuan rumah yang sedang berada di dapur tergopoh-gopoh membukakan pintu rumah. “Selamat siang, Bu, maaf mengganggu,” sapa sang tamu ramah. Si tuan rumah tak mau kalah. Ia pun langsung mempersilakan sang tamu duduk di kursi yang empuk.

Sejurus kemudian, sang tamu langsung ngerocos menjelas maksud kedatangannya. Ternyata sang tamu seorang sales. Ia mengurai semua produk yang ditawarkan, memaparkan segala fasilitas beserta aneka kemudahannya, serta membeberkan cara pembayaran yang meringankan konsumen. Semua itu ia katakan hingga berbusa-busa.

Tahukah Anda, apa yang ditawarkan sang tamu sales itu? Apartemen!!!

Hah... Apartemen!?? Bagaimana mungkin apartemen ditawarkan seperti ember anti pecah yang diider di kampung-kampung, bagaikan tahu bulat yang diecer dipinggir jalan, atau seperti roti basah yang dijual keluar masuk gang sempit?

Tapi inilah kenyataan pada zaman now. Apartemen tak lagi dianggap “barang” mewah. Ia telah menjelma menjadi kebutuhan pokok masyarakat urban, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta. Sehingga harus ditawarkan masyarakat dari berbagai lapisan.

(photobucket.com)
Terus Meroket
Ketersediaan lahan untuk rumah tinggal yang kian langka di daerah perkotaan, memang membuat masyarakat melirik hunian vertikal macam apartemen atau kondominium. Banyak orang yang memilih apartemen untuk mendapatkan akses yang lebih baik. Rumah tapak yang makin menjauh dari tempat bekerja serta kemacetan lalu lintas yang makin merajalela, membuat masyarakat memilih tinggal di apartemen.
(pusatdata.kontan.co.id)

Sementara, sebagian masyarakat yang lain, tentu yang memiliki kocek sedikit lebih tebal, melihat apartemen sebagai peluang investasi yang menggiurkan. Harga jual apartemen yang terus menanjak, membuat pembeli investor bisa menyewakan unitnya.

Menurut data pusatdata.kontan.co.id, dalam sepuluh tahun terakhir, setiap tahun para pengembang menaikkan harga apartemen rata-rata 18%. Dan melihat tren permintaan serta daya beli masyarakat masih besar, harga hunian jangkung mustahil akan anjlok. Bahkan diperkirakan harga akan kian meroket jika kelak infrastruktur, terutama transportasi di Jakarta menjadi lebih baik.
(pusatdata.kontan.co.id)
Para konsumen dan investor apartemen jangan khawatir. Pasokan unit apartemen di Jakarta dan sekitarnya akan terus bertambah. Pada tahun ini, sebanyak 28 ribu siap pasarkan. Angka ini meningkat sekitar 45% dari tahun sebelumnya. Sementara tahun depan, pasokan unit apartemen diperkirakan akan terus meningkat. Kenaikan ini tak hanya di kawasan pusat bisnis di Jakarta, tetapi juga mulai merambah ke wilayah-wilayah satelit Jakarta, seperti Tangerang, Bekasi, Bogor, dan Depok.

(pusatdata.kontan.co.id)

Apa sih keuntungan dan kerugian tinggal di apartemen?

Keuntungan
  • Keuntungan yang paling kasat mata adalah lokasi yang strategis. Biasanya konsumen akan memilih apartemen yang dekat dengan tempat beraktivitas sehari-hari; dekat dengan kantor dan terhindar dari kemacetan.
  • Fasilitas yang diberikan pengembang, seperti pusat perbelanjaan, kebugaran, taman, keamanan yang terjamin, serta yang lain. Ini tentu akan memanjakan setiap penghuni apartemen, lantaran tak perlu berkeringat untuk mendapatkan segala fasilitas tersebut.
  • Hal lainnya, para penghuni apartemen juga tak direpotkan dengan macam-macam pemeliharaan. Penghuni tinggal membayar sejumlah uang tiap bulan, dan pengelola akan membereskan semuanya.
(gambar-rumah.com)
Kerugian
Kerugian-kerugian ini tentu bisa dipandang sebagai sebuah konsekuensi logis atas pilihan tinggal di apartemen.
  • Maintenance fee atau biaya pemeliharaan tiap bulan mesti dibayar dong! Ya pasti lah! Kan tidak ada kerja yang gratisan.
  • Sosialisasi antarpenghuni juga amat kurang.
  • Tetangga di apartemen tidak hanya di kanan dan kiri, tetapi juga di depan dan belakang, atas dan bawah. Maka, setiap penghuni mesti menjaga ketertiban alias tak membikin gaduh. Tak ada lagi cerita menyetel musik dengan volume keras-keras. Pun tak ada lagi kisah memasak ikan asin, lantaran baunya pasti akan menyebar dan menyengat hidung tetangga kanan kiri, depan belakang, serta atas bawah.
(www.nreionline.com)
Nah, terlepas dari plus dan minus itu, apartemen tetap menjadi pilihan yang menarik. Jika kocek tebal bisa langsung membeli unit apartemen sesuai selera. Namun, kalau kantong masih cekak, sewa apartemen menjadi pilihan alternatif. Sewa-menyewa apartemen bukanlah hal yang baru. Mari perhatikan beberapa hal berikut jika Anda memilih untuk menyewa apartemen:
  • Cek ketebalan kantong Anda. Pertama-tama, Anda harus merogoh kantong Anda, seberapa banyak budget yang Anda tentukan untuk menyewa sebuah unit apartemen. Setelah itu, cari apartemen yang harga sewanya sesuai dengan budget Anda. Kedalaman dan ketebalan kantong Anda ini bukan semata untuk membayar sewa bulanan atau tahunan, tetapi juga aneka biaya yang menyertai ketika Anda tinggal di apartemen. Oleh karena itu, amat penting membuat perencanaan anggaran, apalagi jika ini merupakan pengalaman pertama Anda tinggal di apartemen.
  • Buat skala prioritas. Mengapa Anda memilih tinggal di apartemen? Kira-kira ini pertanyaan yang harus diajukan kepada diri sendiri sebelum memilih tinggal di apartemen. Misal jawabannya, karena dekat dengan kantor, atau karena dekat dengan sekolah anak-anak, atau karena fasilitasnya lengkap sekali, dan alasan-alasan yang lain. Dari jawaban-jawaban itu, Anda bisa menyusun skala prioritas, sehingga memudahkan ketika mencari unit apartemen yang diinginkan.
  • Cek dengan teliti unit apartemen. Jangan mudah tergiur bujuk rayu para sales apartemen. Maka, Anda harus datangi langsung unit yang akan Anda sewa. Cek dengan teliti mulai dari lingkungan luar sampai ke sudut-sudut ruangan. Ukuran ruangan, aliran air, sanitasi, listrik, serta yang lain, harus benar-benar Anda cek dengan seksama.
  • Jangan lupa, buatlah perjanjian sewa. Biasanya hal ini dilupakan atau dianggap sepele. Padahal ini amat penting, karena di surat ini dimuat hak dan kewajiban dari masing-masing pihak. Misal mencantum jumlah uang sewa, periode sewa, biaya-biaya, pihak mana yang bertanggung jawab jika ada kerusakan, dan yang lain. Sebaiknya surat perjanjian ini dibubuhi meterai, agar memiliki kekuatan hukum.
  • Pakai jasa agen sewa apartemen. Kalau Anda tak mau repot, pakailah jasa agen sewa apartemen.
(jendela360.com)
Agen sewa-menyewa apartemen yang sedang kekinian adalah Jendela360. Tak perlu susah, Anda bisa langsung berkunjung ke www.jendela360.com. Meski pemain baru dalam dunia sewa-menyewa apartemen, tetapi Jendela360 lumayan bisa diandalkan.

Tidak seperti agen penyewaan atau marketplace apartemen yang lain, Jendela360 memanfaatkan kamera 360 dan headset virtual reality untuk menyampaikan penawaran. Jadi, calon penyewa apartemen bisa melakukan virtual tour; melihat kondisi secara detil apartemen yang hendak disewa melalui foto 360 derajat.
(jendela360.com)
Selain itu, konsumen juga mendapat informasi lengkap, seperti biaya bulanan yang mesti dikeluarkan, kelengkapan unit, serta yang lain. Layanan ini juga memungkinkan calon penyewa membuat jadwal kunjungan ke unit apartemen yang diidam-idamkan.

(jendela360.com)
Namun untuk saat ini, Jendela360 baru bisa melayani market di wilayah Jakarta saja. Jadi, bagi Anda yang ingin sewa apartemen di Jakarta langsung saja klik di www.jendela360.com. Anda bisa sewa apartemen di Jakarta Selatan; sewa apartemen di Jakarta Barat; atau sewa apartemen di Jakarta Pusat. Silakan dipilih, kawasan mana yang dirasa cocok dengan aktivitas Anda. Sebagai pilihan, Anda bisa sewa apartemen di Kemang Village, atau sewa apartemen di Thamrin Residence, atau sewa apartemen di Tamansari Semanggi, atau sewa apartemen Bellagio, atau sewa apartemen L’avenue, dan apartemen yang lain. Ada lebih dari 1300 unit apartemen yang tersedia dalam layanan Jendela360. Untuk memudahkan Anda menemukan lokasi apartemen yang diinginkan, Jendela360 menyediakan tampilan atraktif dengan peta.

(jendela360.com)
Untuk pembayaran, Anda jangan khawatir, lantaran Jendela360 telah bekerjasama dengan delapan bank swasta dan memungkinkan pembayaran secara kredit. Jendela360 akan menarik komisi sebesar lima persen dari pemilik apartemen, untuk setiap transaksi melalui Jendela360.

Nah, bagi Anda yang telah memiliki unit apartemen dan berniat untuk menyewakannya juga jangan lupa dengan Jendela360. Situs ini bisa dengan membantu Anda untuk menemukan calon penyewa. Untuk bisa menikmati layanan Jendela360, Anda mesti regestrasi terlebih dahulu. Tim dari Jendela360 akan mendata serta menjadwalkan kunjungan ke unit apartemen yang hendak disewakan untuk dipotret. Proses pemotretan ini dilakukan secara gratis. Setelah itu, unit apartemen yang akan disewakan akan dimasukkan ke website Jendela360.

(www.theflyer.com)
Tapi, sebelum itu sebaiknya Anda perhatikan beberapa tips berikut:
  • Anda harus merapikan apartemen. Semua orang pasti ingin tempat tinggal yang tertata rapi dan bersih sehingga nyaman. Maka untuk itu, sebelum apartemen disewakan sebaiknya dirapikan dan dibersihkan terlebih dahulu. Bila perlu dicat ulang. Dan jangan lupa, pastikan bahwa tidak ada kerusakan sekecil apapun.
  • Patok harga sewa. Pada umumnya harga sewa apartemen antara lima hingga sepuluh persen dari harga beli. Memang harga sewa apartemen juga dipengaruhi oleh lokasi dan fasilitas. Agar mempermudah Anda menentukan tarif sewa, cobalah survei harga sewa apartemen di sekitarnya dan buatlah harga yang bersaing.
  • Memasang iklan. Ini salah satu cara yang efektif untuk memasarkan apartemen Anda. Memasang iklan sewa apartemen bisa dilakukan secara offline maupun online. Tapi, untuk zaman now, cara-cara online dinilai paling efektif. Bahkan ada website-website pemasok iklan yang tak berbayar alias gratis.
So, tunggu apalagi, segera cari unit apartemen yang Anda mimpikan! Atau jika Anda memiliki unit apartemen yang kosong, sewakan saja untuk menambah pundi-pundi uang saku Anda.

22 Nov 2016

Happy Travelling!


Traveling atau jalan-jalan atau pesiar, saat ini telah menjadi bagian dari gaya hidup. Apalagi Indonesia dengan kemolekan alam dan budayanya adalah surga bagi para traveler. Di setiap daerah, para traveler dengan mudah menemukan beraneka ragam keunikan dan keragaman, mulai budaya, bahasa, rumah, hingga makanan. Mulai dari Aceh dengan Pulau Weh, Pantai Lampuuk, Pantai Lhoknga, Pulau Rubiah, Pantai Ulee Lheue, dan juga budaya, seperti Tari Saman, dan tentu saja kuliner khasnya yang tidak bisa ditemui di tempat lain. Derawan, Wakatobi, Raja Ampat, Ubud, Karimun Jawa, itu hanya sebagian dari destinasi yang ingin dikunjungi para traveler. Bisa jadi, untuk mengunjungi dan mengenal Indonesia secara utuh tak cukup usia kita.

Nah, kenapa sih travelling amat penting?

Saya hobi travelling sejak masih remaja. Alam bebas menjadikan saya jatuh cinta dengan dunia travelling. Setelah berjalan ke sana kemari, ternyata travelling turut membentuk karakter pribadi saya. Ini beberapa alasan saya menjadi penyuka travelling.

Pertama, saya merasa menjadi sangat Indonesia. Dengan berjalan atau travelling ke beberapa daerah yang dulu mungkin tak pernah terbayangkan, saya jadi mengenal Indonesia dengan lebih dekat. Padahal saya lahir dan besar di Indonesia lho.... Seperti yang saya tulis sebelumnya, untuk mengunjungi seluruh kepulauan di Indonesia, mungkin usia kita tak cukup. Ada ribuan pulau yang menyimpan beragam budaya yang menjadi kekayaan luar bisa negeri ini.

Kedua, ternyata travelling juga membuat saya sehat. Ya tentulah, travelling sangat menempa fisik. Mengekplorasi keindahan Nusantara, tentu tak nyaman jika raga kita tidak dalam kondisi sehat walafiat. Maka, persiapan fisik juga menjadi amat penting, di samping persiapan finansial tentu. Tapi dengan travelling, ternyata juga membuat kondisi kocek kita sehat lho..., lantaran kita dipaksa untuk menabung agar bisa terus-terusan travelling...

Ketiga, selain membuat sehat dan bugar, travelling juga meluaskan jejaring perteman kita. Saban travelling, kita pasti bertemu dengan orang-orang baru dengan budaya dan latar belakang yang beraneka macam. Selain menambah perbendaharaan perkoncoan, hal ini juga melebarkan wawasan kita terhadap aneka perbedaan yang merupakan anugerah bangsa ini.

Keempat, ini rahasia... tapi mesti saya bagikan ya... Ternyata travelling juga bisa mendatang penghasilan. Paling tidak itu yang pernah saya rasakan. Dengan menulis dan memotret keanekaragaman dan keindahan Indonesia, kita bisa mendapatkan fulus dari situ.

Maka, jika mau travelling jangan lupa beberapa barang ini ya:

Laptop menjadi perlengkapan penting jika ingin terus meng-update dan membuat catatan-catatan atas perjalanan yang kita lakukan. Untuk kepentingan travelling, bawalah laptop tipis dan ringan. Ukuran laptop pun sebaiknya tak usah terlalu besar, usahakan tidak lebih dari layar 13 inci dan bobot satu kilogram. Agar tak repot dan berat di jalan, Kawan!

Jika selama travelling, kita tetap ingin terhubung dengan dunia luar, maka bawalah tablet dengan ukuran yang kecil dan ringan. Tablet juga sebaiknya punya daya tahan baterai lebih lama dibandingkan laptop. Jangan lupa bawa pula perlengkapan untuk menghubungkan dengan internet, jika ada yang internet ultra cepat ya....

Smartphone sudah pasti menjadi barang wajib dalam travelling. Nah untuk barang yang satu ini, jangan lupa dengan beberapa aplikasi wajib seperti Google Maps, Google Translate, serta yang lain.

So, sudah siap travelling? Mari kita travelling untuk semakin mengindonesia; mengenal dan makin mencintai negeri ini.... Happy travelling!

Penulis perjalanan berkelana ke tempat-tempat yang jarang terjamah, melukis nuansa lewat tulisan. (Agustinus Wibowo: Garis Batas: Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah)

24 Okt 2015

Melacak Tenun Dayak

Penenun kain khas Dayak di Sentra Kerajinan Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.
Photo: y.prayogo
DUA perempuan duduk melantai. Kakinya selonjoran di lantai kayu itu. Sekali-sekali kedua tangannya dihentak-hentakkan ke arah pinggang. Utas-utas benang warna-warni perlahan membentuk kain. Ya, dua perempuan itu sedang menenun kain ikat dengan motif khas suku Dayak.

Siang baru saja beranjak dari pagi. Matahari semakin terik. Sentra Kerajinan Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, yang berbentuk Rumah Betang atau rumah panjang, nampak sepi. Rumah Betang ini terletak di bagian utara Putussibau, ibukota Kapuas Hulu. Perlu 24 jam untuk mencapai tempat ini dengan perjalanan darat dari Pontianak, ibukota Kalimantan Barat. 

Di Rumah Betang ini terlihat beberapa perempuan yang sedang tekun menenun. Mereka merajut benang-benang aneka warna menjadi selembar kain. Beberapa pria sedang memahat kayu membentuk patung. Showroom kerajinan yang menempati satu ruangan, juga terlihat sepi. Kain tenun khas Dayak mendominasi showroom ini.

Penenun kain khas Dayak di Sentra Kerajinan Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.
Photo: y.prayogo
Pembuatan kain tenun khas Dayak masih mempertahankan warisan leluhur. Mulai dari pemintalan benang, pewarnaan, sampai proses menenun, masih menggunakan cara-cara tradisional. Terdapat empat macam warna utama dalam kain ikat khas Dayak, yaitu merah, hitam, kuning, dan putih. Pewarna benang memanfaatkan alam sekitar. Warna merah didapat dari daun mengkudu atau kulit kayu salam. Warna hitam diperoleh dari daun renggat. Sementara warna kuning berasal dari kunyit dan temulawak.

Seperti kain tenun di daerah lain, perlu waktu yang panjang untuk menenun satu lembar kain. Satu bulan, waktu yang cukup untuk menghasilkan satu lembar kain tenun khas Dayak.

Mari melanjutkan perjalanan semakin dalam, melacak para penenun kain khas Dayak!

Kain tenun Dayak.
photo: y.prayogo
Kali ini perjalanan diarahkan menuju Rumah Betang Bali Gundi. Siang itu, di rumah panjang ini juga ditemui beberapa perempuan sedang menenun. Pada masa lalu, menenun adalah syarat bagi perempuan Dayak yang telah mencapai akil balik. Menenun menjadi penanda kedewasaan seorang perempuan. Nilai-nilai di balik kain tenun Dayak itu kian lama kian pudar. Kini, tidak semua kaum hawa di tempat ini piawai menenun. Di Betang Bali Gundi, rata-rata penenun telah berusia lanjut.

Situasi serupa terlihat ketika menginjakkan kaki di Rumah Betang Sungai Uluk Palin. Perempuan-perempuan tua nampak selonjoran menenun utas-utas benang. Sayang, beberapa waktu lalu, rumah panggung setinggi delapan meter dengan panjang 500 meter telah terbakar habis. Tentu, kekayaan kain tenun di tempat ini turut musnah dilahap si jago merah.

Kain-kain tenun Dayak di Rumah Betang Sungai Utik.
photo: y.prayogo
Perjalanan dilanjutkan ke Rumah Betang Sungai Utik. Ketika memasuki rumah panjang ini lembaran-lembaran kain tenun motif khas Dayak tersampir di sudut-sudut Rumah Betang. Kain-kain ini langsung menyergap mata. Tapi situasi serupa pun terlihat. Di sini, para penenun telah berusia lanjut. Perempuan-perempuan muda tak lagi pandai menenun.

Penari mengenakan kain tenun khas Dayak.
Photo: y.prayogo
Utas-utas benang aneka warna akan terus ditenun di rumah-rumah betang. Kain-kain ini tidak lagi menjadi penanda kedewasaan seorang perempuan. Ia akan menjadi penanda peradaban para penenunnya. Meski para penenun kian menua, tapi warisan kain tenun khas Dayak akan terus hidup. Kain tenun Dayak akan tetap hidup panjang, sepanjang rumah-rumah betang, tempat tinggal mereka.

20 Okt 2015

Batik di Tepian Serayu

Pembatik Tulis Banyumasan
photo: y.prayogo
Aliran Sungai Serayu mendayu pelan-pelan. Angin semilir menyejukkan hari yang panas, mengiringi lalu lalang orang yang beraktivitas di tepian Serayu, di Banyumas, Jawa Tengah.

Aliran Sungai Serayu dan semilir angin pun mengiringi aktivitas di sebuah rumah, tepatnya di Jalan Mruyung, Banyumas. Di halaman rumah yang berbatu itu terhampar kain-kain batik yang sedang dijemur. Saat memasuki rumah itu, sebuah showroom batik menyapa pengunjung. Deretan batik dengan motif Banyumasan menyergap pandangan mata. Para pelayan pun segera menghampiri menjajakan dagangan batiknya.

Masih dalam satu atap, aktivitas lain sedang berlangsung. Beberapa perempuan sedang memberikan motif pada kain-kain putih. Sementara yang lain, beberapa sudah nampak tua, melukis kain-kain dengan pena batiknya. Para pelukis batik, yang didominasi kaum hawa ini memang rata-rata sudah berusia lanjut. “Angel banget ngajari bocah enom kon mbatik (Susah sekali mengajari orang muda membatik),” ujar Sarminah dengan logat Banyumasan yang amat kental. 
Pewarnaan Batik Banyumasan.
photo: y.prayogo 
Sementara di sisi yang lain, beberapa kaum adam sedang mencap kain-kain putih dengan motif batik Banyumasan. Mereka mencelupkan plat-plat bermotif batik ke dalam malam yang masih panas, lalu menempelkan ke lembaran kain putih. Motif-motif batik pun tercetak jelas. Sekali-sekali, sembari berkarya, mereka melontarkan canda tawa khas Banyumasan.

Siki sih mandan lumayan sing tuku batik. Gembiyen lah babar pisan ora ana sing gelem nggo batik (Sekarang sih sudah lumayan yang membeli batik. Dulu, jarang ada orang yang mau memakai batik),” ucap Mukidin yang telah berusia 63 tahun.

Para pria sedang mengerjakan batik cap motif Banyumasan.
photo: y.prayogo
Ya, Banyumas juga menyimpan kekayaan batik. Batik Banyumas memang tak semoncer Batik Pekalongan atau Batik Solo. Padahal, pada medio 1970-an Batik Banyumas sempat populer. Namun lambat laun, keberadaan Batik Banyumas semakin tergeser. Meski trend batik sedang naik daun, tapi Batik Banyumas masih sulit menembus kecenderungan itu. Ia kalah pamor dengan batik Pekalongan,Solo, dan Yogyakarta.

Batik Banyumas di buat dengan tangan (tulis), cap, serta ada juga yang di sablon. Batik Banyumas memiliki ciri yang membedakan batik dari daerah lain. Warna asli Batik Banyumasan adalah cokelat dan hitam dengan plataran warna kuning tua. 

Pembatik Tulis Banyumasan.
photo:y.prayogo
Pada umumnya, Batik Banyumas dibedakan dari cara pembuatannya, yaitu batik cap dan batik tulis. Batik cap bisa diselesaikan dalam waktu tiga hari, sementara batik tulis bisa memakan waktu tiga sampai enam bulan. Ini akan berpengaruh kepada harga jual. Batik cap berkisar puluhan ribu sampai ratusan ribu rupiah, sedangkan batik tulis dari ratusan ribu sampai jutaan rupiah.

Batik Banyumas identik dengan motif Jonasan, yaitu kelompok motif non geometrik yang didominasi dengan warna-warna dasar kecoklatan dan hitam. Motif-motif yang berkembang saat ini, antara lain Sekarsurya, Sidoluhung, Lumbon (Lumbu), Jahe Puger, Cempaka Mulya, Kawung Jenggot, Madu Bronto, Satria Busana, dan Pring Sedapur. 

Membatik cap motif Banyumasan.
photo: y.prayogo
Batik Banyumas memiliki sejarah yang tak lepas dari pengaruh budaya, seperti Yogyakarta dan Surakarta, maupun Pekalongan. Asal mula Batik Banyumas memang belum dapat dilacak. Namun dari informasi para sesepuh dan penggiat Batik Banyumas, disebutkan Batik Banyumas muncul, lantaran pengaruh berdirinya kademangan-kademangan di daerah Banyumas dan para pengikut Pangeran Diponegoro yang mengungsi ke daerah Banyumas. 

Lokasi sentra industri batik Banyumas terbanyak di Kecamatan Banyumas (Desa Pekunden, Pasinggangan, Sudagaran, Papringan) dan Kecamatan Sokaraja (Desa Sokaraja Lor, Sokaraja Kidul, Sokaraja Tengah, Sokaraja Kulon, Karang Duren).

Meskipun masih kalah pamor dengan ragam batik dari daerah lain, Batik Banyumas akan tetap hidup beriringan dengan aliran Sungai Serayu. Sungai yang dalam sejarah selalu memberikan penghidupan bagi masyarakat di sekitarnya. Pun Batik Banyumas yang akan terus memberi penghidupan bagi para pengrajinannya.
Para Pembatik Banyumasan.
photo:y.prayogo

14 Okt 2015

Guru Anak-Anak Kampung Laut

BARISAN hutan bakau terus mengiringi perjalanan dari Pelabuhan Sleko Cilacap, Jawa Tengah menuju Kampung Laut. Sebuah perkampungan di antara gugusan Pulau Nusakambangan, Perairan Segara Anakan Cilacap. Dengan perahu bermesin motor tempel bermuatan sekitar 20 orang atau yang sering disebut compreng, memerlukan waktu sekitar dua jam untuk mencapai perkampungan pertama.

Adalah Yustina Wartati, yang sudah lebih 30 tahun tinggal di Desa Ujung Alang, desa pertama yang disinggahi compreng dari Cilacap. Selama itu pula, ia merintis sekolah dan mengabdikan diri sebagai guru honorer di sana. Untuk mencapai rumahnya di Dusun Lempong Pucung, masih harus menyeberang menggunakan sampan dari pelabuhan kecil di Ujung Alang, lalu disambung jalan kaki sejauh setengah kilometer.

Yustina Wartati
photo: y.prayogo
Buka sekolah
Di daerah yang terkenal sebagai endemik malaria inilah Tatik merintis sekolah. “Dulu, di sini tidak ada sekolah sama sekali, anak-anak harus berjalan kaki sejauh tiga, bahkan lima kilometer dan harus menyeberang dengan sampan untuk mencapai Sekolah Dasar (SD)  terdekat,” tuturnya. Hanya ada satu SMP di tempat ini. Sementara SMA berada di Kota Cilacap.

Ia pun mulai mengumpulkan anak-anak di sekitar rumah. Rumahnya dipergunakan sebagai sekolah. Tatik mengajar anak-anak dengan sangat sederhana. Pada 1989, ia diminta Yayasan Bimbingan Kesejahteraan Sosial (YBKS) Surakarta untuk mengikuti kursus guru Taman Kanak-kanak (TK).

TK pun harus berhenti karena alasan tak ada lagi anak-anak yang berusia TK. Namun, orangtua lalu mendesak Tatik membuka SD. Tatik sempat ragu. “Saya tidak memiliki ijazah atau sertifikat mengajar,” ucapnya ragu. Tetapi masyarakat terus mendesak. Tatik segera menghubungi pihak SD yang ada, untuk dijadikan sekolah induk. Ternyata izin keluar. Mulailah ia mengajar SD.

Sebanyak 48 siswa dia didik dengan lesehan di rumahnya. Baru pada 2001, Dinas Pendidikan membangun gedung sekolah di dekat rumahnya yang hingga kini masih dipakai. SD ini hanya menampung siswa hingga kelas tiga, untuk kelas empat, anak-anak harus melanjutkan ke sekolah induk.

Saban hari Tatik harus mengajar tiga kelas sekaligus. “Tidak pernah istirahat!” ucapnya. Kelas satu dan dua diajar dalam satu ruang. Untuk membedakan kelas, mereka duduk di barisan yang berbeda. Sedang kelas tiga berada di ruang yang berbeda.

Setiap siswa hanya dibebani Rp 6.000 setiap bulan. Lima ribu untuk honor Tatik mengajar dan seribu rupiah untuk membeli peralatan kelas. Namun, Tatik tak dapat berharap banyak. Karena dalam satu bulan hanya sepuluh atau bahkan tak seorang siswa pun yang membayar. Untunglah, banyak pihak yang membantu dia.

Dari 48 siswanya, hanya 15 anak yang melanjutkan hingga lulus SD. “Banyak yang sakit malaria, dan karena alasan biaya, tidak mau melanjutkan sekolah,” ceritanya. Meskipun setiap ada anak yang sakit malaria atau alasan kekurangan biaya dan menunjukkan tanda-tanda akan keluar sekolah, Tatik mengunjunginya. “Saya selalu menandaskan, agar anak-anak harus tetap sekolah. Tidak perlu memikirkan soal biaya,” tuturnya.

Seiring perkembangan waktu, kerja keras Tatik menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap pendidikan. “Kalau dulu hanya saya yang lulusan SMA, Tapi sekarang sudah banyak yang melanjutkan hingga SMA,” katanya. Sebagai penghargaan atas kerja kerasnya, masyarakat menyebut sekolah yang dirintis Tatik dengan sebutan ‘Sekolahnya Bu Tatik’.

Anak-anak Kampung Laut berangkat sekolah.
photo: tubasmedia.com

Tanpa kurikulum
Atas kerja yang tanpa lelah dalam dunia pendidikan, sejak tahun ajaran 2005-2006, setiap hari Senin hingga Rabu, Tatik dipercaya membantu mengajar di Pasuruan, sebuah dusun berjarak lima kilometer dari rumahnya. Meski jauh, Tatik tetap melakukan dengan sukacita.

Untuk mencapai Pasuruan, Tatik harus menyusuri tanggul saluran air yang merupakan jalan satu-satunya. Jika musim kemarau, ia dapat mengendarai sepeda motor bekas miliknya. Namun, sepeda motor harus beberapa kali dituntun ketika melewati jembatan bambu yang tidak memiliki penghalang di kanan kiri. Tapi jika musim penghujan datang, Tatik mesti berangkat lebih awal, pukul enam pagi. Berjalan kaki dengan sepatu boot dan jas hujan. Jalanan tanah amat licin dilalui sepeda motor.

Di Pasuruan, Tatik harus mengajar dua kelas sekaligus dengan 10 siswa. Kelas dua, dua siswa dan kelas tiga, tujuh siswa. Untuk kelas satu diajar guru lain yang tinggal di Pasuruan. Karena hanya menggunakan balai pertemuan RT, kondisi sekolah sangat memprihatinkan. Bangunan berukuran 3 x 6 meter ini hanya terbuat dari kayu. Berlantai tanah. Dinding-dinding yang terbuat dari anyaman bambu sudah ‘bolong’ di beberapa bagian. “Sebenarnya sudah tidak layak dipakai untuk sekolah, tapi bagaimana lagi, adanya hanya itu,” tutur Tatik.

Kondisi memprihatinkan tak menyurutkan semangat belajar. “Justru banyak siswa yang saya ajar dengan kondisi yang memprihatinkan, ternyata dapat berprestasi ketika mereka melanjutkan ke sekolah induk,” cerita Tatik bangga. Hal ini, menurut Tatik, dikarenakan cara mengajar yang tidak mengikuti kurikulum yang ada. “Kalau di sekolah lain yang lengkap fasilitas, kadang saya mendengar anak-anak sangat tertekan dengan kurikulum yang ada. Tapi anak-anak di sini tidak merasakan hal itu. Mereka justru sangat senang belajar,” ujar Tatik.

Tatik bersama anak didiknya.
photo: y.prayogo
Pengalaman dan kesenangan membaca, membuat cara mengajar Tatik lebih bervariasi. Ketika mengajarkan tentang IPA yang berhubungan dengan biota laut, Tatik akan membawa anak-anak ke lapangan. Mengamati hutan bakau dan hewan-hewan laut yang ada mengelilingi kehidupan mereka. Kesempatan ini, juga dipergunakan untuk mengajak anak-anak menjaga kelestarian lingkungan. Begitu juga dengan mata pelajaran yang lain. Tatik akan mengajar dengan memberikan contoh-contoh konkret yang dekat dengan dunia anak-anak. “Dengan cara seperti ini, kok saya melihat anak-anak justru lebih cepat mengerti dan paham. Berbeda jika diuraikan sesuai dengan yang ada di buku. Saya hanya ingin orang-orang di sini pintar. Karena dengan pintar, orang dapat mengatasi persoalannya sendiri dan juga masyarakat.”

4 Agu 2015

BNI, Pelopor ATM Sepeda Motor

ATM BNI 46 Sepeda Motor di Jalan Raya Margonda Depok, Jawa Barat
(foto: y.prayogo) 

TUJUH hari sesudah Lebaran. Jalan Raya Margonda di Depok, Jawa Barat, sudah terlihat ramai. Lalu lalang kendaraan bermotor melintasi jalan raya di Kota Depok ini. Di satu sudut jalan raya ini berdiri kokoh sebuah Anjungan Tunai Mandiri (ATM) milik Bank Negara Indonesia (BNI) 46. Sekilas, ATM ini mirip dengan stasiun pengisian bahan bakar. Di ATM ini, para pesepeda motor tak perlu turun dari motor dan memarkir kendaraannya. Dari atas sepeda motor, mereka bisa melangsungkan transaksi di ATM.

“Jadi lebih mudah sih. Tidak perlu turun dan parkir sepeda motor,” ujar Maharani, seorang mahasiswi yang kerap bertransaksi di ATM Sepeda Motor ini.

“ATM ini luas dan aman, apalagi ada petugas keamanan,” kata Mohammad Rizal, seorang warga Depok yang siang itu bersepeda motor bersama istri dan dua anaknya.

“ATM Sepeda Motor ini seharusnya lebih diperbanyak, kan pengendara sepeda motor juga semakin banyak,” usul Iwan Setiawan yang mengaku bekerja sebagai pedagang di Depok.

Dalam satu jam, belasan bahkan puluhan nasabah BNI memanfaatkan ATM Sepeda Motor ini. Di sini, terdapat tiga mesin ATM yang senantiasa siap melayani para nasabah. ATM yang diresmikan pada Minggu, 1 September 2013 ini tak tertutup bagi nasabah yang tidak bersepeda motor. Beberapa nasabah tak bersepeda motor pun bisa menggunakan ATM ini.

Warga menggunakan ATM BNI 46 yang khusus bagi nasabah pengguna sepeda motor.
(foto: y.prayogo)
ATM Sepeda Motor ini yang pertama di Indonesia, bahkan mungkin di dunia. BNI, bank yang menjadi pelopor inovasi ATM Sepeda Motor ini. Direktur Utama BNI Gatot M Suwondo mengatakan, “ATM Sepeda Motor ini merupakan strategi untuk memberikan kemudahaan pelayanan atau transaksi, terutama bagi pengendara sepeda motor tanpa harus turun dari kendaraan.”

Penyediaan fasilitas ATM Sepeda Motor ini merupakan tanggapan BNI atas pertumbuhan pemakai sepeda motor yang kian meningkat di Indonesia. Melalui kehadiran ATM Sepeda Motor diharapkan dapat mengakomodir kepentingan dan kebutuhan nasabah dalam bertransaksi yang nyaman, terutama bagi pengendara sepeda motor.

Warga menggunakan ATM BNI 46 yang khusus bagi nasabah pengguna sepeda motor.
(foto: y.prayogo)
Pendirian ATM Sepeda Motor di Kota Depok ini bukanlah yang pertama dan satu-satunya. Hanya berselang beberapa bulan, bank yang berdiri pada 5 Juli 1946 ini, kembali mendirikan ATM Sepeda Motor di Grand Cakung, Kelurahan Ujung Menteng, Cakung, Jakarta Timur.

Rupanya, ATM Sepeda Motor mendapat tanggapan positif dari para nasabah BNI. Terbukti, bank pertama milik negara yang lahir setelah kemerdekaan Indonesia ini, mendirikan ATM Sepeda Motor di Surabaya, Malang, Denpasar, dan Palembang. BNI juga berencana akan mendirikan ATM Sepeda Motor di kota-kota lain di Indonesia. Semua ini dilakukan untuk memberikan pelayanan yang prima bagi para nasabah.

Warga menggunakan ATM BNI 46 yang khusus bagi nasabah pengguna sepeda motor
di Jalan Raya Margonda Depok, Jawa Barat
(foto: y.prayogo)
Di ATM Sepeda Motor ini biasa tersedia tiga mesin ATM dengan satu pecahan uang Rp 100.000 dan dua pecahan uang Rp 50.000. Sementara ini yang tersedia memang baru pelayanan tarik tunai. Bank yang memiliki cabang di London, New York, Tokyo, Singapura, dan Hongkong ini akan terus melakukan evaluasi setiap bulan. Jika ada kebutuhan untuk setoran tunai, maka BNI akan mengganti mesin ATM.

Inovasi pendirian ATM Sepeda Motor ini sejalan dengan visi BNI yang bercita-cita menjadi bank yang unggul, terkemuka, dan terdepan dalam layanan dan kinerja. BNI juga selalu memberikan pelayanan prima dan solusi yang bernilai tambah kepada seluruh nasabah dan selaku mitra pilihan utama, maka sudah menjadi komitmen BNI untuk selalu memberikan layanan terbaik kepada seluruh nasabah.